Mengawal Perkembangan ABG Pondok

Home - Kegiatan - Mengawal Perkembangan ABG Pondok

Mengawal Perkembangan ABG Pondok

 

“Targetnya, sampai kelulusan nanti ingin hafal sampai 18 juz,” kata Gulaman. Menurutnya, sekolah di Daqu School berbeda dengan sekolah pada umumnya. Selain lebih memfokuskan pada hafalan Quran, kehidupan di dalam pondok menuntut setiap santri untuk hidup lebih mandiri. Bukan hanya itu, di sini mental para santri juga ditempa agar menjadi muslim yang kuat.

“Di sini disiplinnya tinggi,” katanya.

Karena kedisiplinan yang cukup tinggi itu, tidak heran bila ada saja segelintir anak yang mentalnya tak kuat, memilih untuk kabur meninggalkan pondok pesantren. Namun Gulaman meyakini, hampir disetiap pondok pesantren ada aturan disiplin yang memang harus ditaati. Dengan begitu, kabur meninggalkan ponsok pesantren, jelas tidak tepat.

Dia menerangkan, di Daqu School, setiap satu minggu sekali rutin dilakukan evaluasi oleh para ustad. Evaluasi bukan nya soal kemajuan hafalan tetapi juga termasuk kebersihan kamar dan pondok pesantren. Kepada para santri ABG seusia Gulaman, para ustad juga sesekali menyelipkan pelajaran fikih yang membahas soal asmara.

“Pacaran itu dilarang, tapi dulu ketika pondok pesantren putra dan putri masih dalam satu lokasi yang sama, suka ada yang cinta lokasi. Mereka surat-suratan karena para santri dilarang membawa ponsel. Sekarang, cinta lokasi sudah tidak ada lagi karena pondok pesantren sudah dipisah,” kata Gulaman sambil mesem.

Meski tegas, namun bagi Gulaman, para ustad di Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Quran juga merupakan guru yang asyik sebagai teman curhat. Kepada mereka, para santri diperkenankan bertanya sesukanya, termasuk soal sex education dan bagaimana mengelola perasaan ketika jatuh cinta.

Solehuddin, Penanggung Jawab Pesantren I’Daad Daarul Quran, rupanya membenarkan ucapan Gulaman. Dikatakannya, Daarul Quran memang tidak memiliki mata pelajaran terkait sex education, meski para santri sebagian besar memasuki usia akil balig. Dia menilai, sex education dikhawatirkan hanya akan membuat para santri menjadi penasaran.

“Santri yang ingin tahu soal sex education, biasanya bertanya langsung pada ustad yang dipercaya. Dan ketika ada santri yang mulai melirik akhwat, kami tegaskan hal seperti itu akan ada waktunya,” kata Solehuddin.(suci)

 

Share

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: