Santri Dididik Jadi Singa Podium

Home - Kegiatan - Santri Dididik Jadi Singa Podium

Santri Dididik Jadi Singa Podium

 

Masjid Muhammad Ja’far Mansyur  adalah satu-satunya masjid di Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Quran. Selain digunakan untuk salat wajib berjamaah, dhuha dan tahajud, Masjid Muhammad Ja’far Mansyur juga dipakai para santri dan ustad untuk belajar tahfiz.

Kebiasaan yang melekat dari masjid ini, jelang waktu salat dan selepas salat wajib, berkumandang suara – suara belum akil balig membaca surat – surat pilihan dan memimpin zikir usai salat. Hanya salat dan ketika doa, dipimpin oleh ustad.

Hendy Irawansaleh, ustad di Pondok Pesantren Daarul Quran, menjelaskan santri yang memimpin zikir usai salat wajib merupakan santri pilihan ustad. Kriterianya, berdasarkan hafalan zikir yang paling bagus. Dalam sehari, ada dua orang santri yang didapuk memimpin zikir dan azan.

“Kedua santri terpilih itu, bertugas memimpin zikir dan azan satu hari penuh, dari waktu subuh sampai isya. Dengan begitu, santri disini bukan hanya hafal quran, tetapi juga pandai memimpin berzikir,” kata Hendy.

Dalam sebulan, setiap santri biasanya mendapat giliran memimpin zikir atau azan satu kali. Para santri yang dipilih ustad, umumnya yang sudah tinggal di pondok pesantren 1 tahun. Meski begitu, jika ada santri baru yang hafalan zikirnya bagus, akan diminta memimpin zikir.

Secara tidak langsung, kegiatan memimpin jamaah untuk berzikir selepas salat wajib adalah sarana menguji dan melatih keberanian santri. Untuk itu, santri yang ditunjuk ustad bertugas memimpin zikir dan azan, tidak boleh mengelak.       

Bicara soal uji keberanian santri, seperti umumnya pondok pesantren lainnya, disini para santri juga diajarkan berani tampil ke podium memberikan tausiah. Kamis merupakan jadual para santri menguji nyali dan pengetahuan agamanya dengan berceramah.

Tema ceramah, lingkupnya memang masih mungil, seperti masalah bersuci, belajar, kiat-kiat menjaga hati agar hafalan quran tidak lekas hilang sampai cara mengelola hati untuk urusan asmara. Supaya pelajaran ini efektif, maka para santri dibagi dalam kelompok. Biasanya, dalam 1 kelompok ceramah, diisi oleh 10 sampai 15 orang santri.          

Agung Prasojo, santri I’daat kelas 1 SMP, punya pengalaman lucu soal ceramah. Ketika tema ceramah membahas fikih mandi, santri yang berceramah kehabisan ide sehingga ngelantur dan ujung-ujungnya curhat.

“Saat membahas masalah mandi, santri yang pidato kehabisan bahan tetapi sama ustad dipaksa tidak boleh turun dari podium dan tetap melanjutkan pidato. Akhirnya, tanpa disadari ia malah membuka aibnya sendiri, kalau dia jarang mandi, bahkan sering kali mandi seminggu hanya sekali. Kami yang mendengar jadi tertawa semua,” kata Agung.

Lain halnya dengan Faiz Abdul Karim. Faiz sudah 1,5 tahun tinggal di Pondok Pesantren Daarul Quran dan mulai jenuh dengan tema ceramah teman-temannya. Faiz yang menggemari pelajaran filsafat, mulai gregetan dengan teman-temannya yang lebih suka mengambil tema ceramah yang terlalu ringan. Ia ingin sekali waktu tema ceramah yang dibahas ditujukan untuk menggugah dan melatih semangat jihad para santri, seperti peperangan Israel – Palestina atau Amerika Serikat dalam upayanya memerangi islam diam-diam.(suci)

Share

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: