Tahfidz Qur’an Diusulkan Masuk Kurikulum

Home - Kegiatan - Tahfidz Qur’an Diusulkan Masuk Kurikulum

Tahfidz Qur’an Diusulkan Masuk Kurikulum

usul

“Pemerintah semestinya memasukkan hafalan Qur’an atau Tahfidz dalam kurikulum pendidikan nasional, agar masa depan Indonesia lebih baik di tangan generasi yang Qur’ani,” demikian usul yang dikemukakan Ustadz Hartanto Saryono (45), salah satu peserta Konferensi Internasional Tahfidz Qur’an di Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Ketapang, Tangerang, Banten, Rabu (2/10). 

Pengasuh Rumah Tajwid, Depok,  itu mengungkapkan, selama ini Program Tahfidz hanya terselenggara  di sebagian sekolah swasta. Itu pun merupakan inisiatif pengelola sekolah sendiri. Karenanya, ia berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama untuk memasukkan kurikulum Tahfidz di sekolah-sekolah negeri dan swasta. 

Menurut Saryono, usulan tersebut dapat diajukan atas nama Konferensi.

Konferensi Internasional Tahfidz Qur’an yang berlangsung di Aula Gedung Al Maidah, digelar pada 30 September 2013 hingga Rabu, 2 Oktober 2013. Penutupan dihadiri Ketua Litbang Hai’ah ‘Alamiyah Li Tahfiz Qur’an Dr Ahmad Anaz Khozrun. Sebagai sahibul bayt adalah Ustadz Yusuf Mansur,  pengasuh Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang. 

Selama tiga hari para peserta yang terdiri dari pimpinan pondok dan madrasah tahfidz di Indonesia, mendapat pencerahan bidang-bidang keilmuan Al Qur’an dari para ahlinya. Tentu saja hasil-hasil Konferensi akan jadi oleh-oleh guna memajukan lembaga masing-masing. 

Amril Malinsati (50), Mudir Pesantren Subulus Salam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengaku sangat gembira mengikuti seminar. Baginya, ini juga merupakan kesempatan sangat berharga untuk menimba ilmu dari pesantren-pesantren tahfidz di Pulau Jawa. 

“Perkembangan tahfidz di Sumatera Barat masih sangat tertinggal dari rekan-rekan di Pulau Jawa. Maka dari itu, sepulang dari sini saya akan berbagi kepada rekan-rekan di Subulus Salam dan pesantren lainnya,” ujar pria berkacamata tersebut. 

Hal serupa diutarakan Dr Masyhur Afandi (48), Mudir Ponpes Ulul Albab Desa Godog, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia mengatakan, selain ajang silaturahim dengan para Masyaikh dan peserta, Konferensi ini juga ajang sharing pengalaman. Ia berharap setelah ini ada forum lanjutan sebagai tempat untuk saling mengevaluasi pelaksanaan hasil konferensi. 

“Saya berharap tidak berhenti disini saja tapi juga ada forum lanjutan untuk saling mengingatkan akan pelaksanaan dari hasil konferensi” ujarnya. 

 

 

Share

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: