Kembalikan Muharrom Kami

Home - Artikel - Kembalikan Muharrom Kami

Kembalikan Muharrom Kami

hijrah islamiy

Cerah menyelimuti Jakarta di penghujung Dzulhijjah. Seperti biasa, sejak dini hari hiruk pikuk kehidupan tetap menderu seperti tiada jeda. Ya, ini ibukota, kota yang tak pernah mati.

Namun kali ini, kesibukan berangkat kerja tidak lagi terlihat di salah satu sudut kampung tua di Batavia. Kampung Sawah Besar di Jembatan Lima itu sedang mempersiapkan hajatan besar rupanya.

Mulai anak-anak sampai orang dewasa hingga manula, disertai para kyai mereka, larut dalam kebahagiaan datangnya tahun baru.

Bukan, bukan tahun baru Masehi. Seperti pernah dikatakan budayawan Betawi Ridwan Saidi, tidak ada perayaan tahun baru Masehi dalam kamus adat Betawi sejak dulu. Sebab, masyarakat Betawi menerapkan kalender lunar (qomariyah) atau Hijriyah sebagai sistem penanggalan mereka. Bukan kalender solar (matahari) alias Masehi.

“Kalaupun ada perayaan meriah yang harinya diambil dari kalender matahari, itu cuma peringatan 17 Agustus,” kata Ridwan Saidi (Republika, 31/12/2013).

Anak-anak asyik membuat hiasan yang akan dipajang di rumah atau sekolah, bahkan tiap kelasnya. Suasana kampung semakin meriah dengan lambaian hiasan kertas minyak aneka warna. Para remaja membuat bedug dari sisa kulit sapi atau kambing dari hewan qurban yang disembelih Idul Adha lalu.

Para ibu, subhanallah, tak mau kalah sibuk menyiapkan berbagai menu masakan untuk menyambut hajatan bersama sekampung.

Sore, 29 Dzulhijjah, Kampung Sawah sudah selesai berbenah. Warga rempug di gelaran tikar di jalan utama kampung. Mereka memulai dengan membaca Yaasin 3x khatam. Jelang maghrib, yang merupakan wakta transisi hari dalam Kalender Hijriyah, mereka membaca doa akhir tahun dipimpin tetua kampung. Lantas ba’da maghrib, usai dzikir, doa awal tahun dikumandangkan dengan penuh khidmat. Disambung ba’da isya dengan taushiyah Sang Kyai tentang Muharrom,  sejarah, kisah dan hikmahnya. Semua tertutur indah dari lisan pembimbing spiritual warga.

Inilah hari ketika pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra menetapkan momentum hijrah 16 Juli 622 M sebagai 1 Muharrom Tahun Pertama Hijriyah.

Pesan pokok peringatan Muharam adalah mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain. Kata ‘‘Muharam’’ bermakna mulia, membela, menahan, yang diharamkan atau yang menjadi pantangan.

Salah satu amalan khusus di Bulan Muharam adalah puasa. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah telah berwasiat, “Seutama-utama puasa sesudah puasa Ramadhan ialah puasa Muharam dan seutama-utama solat sesudah solat fardhu adalah sholat malam” (HR Muslim).

Selain pada Hari Asyura (10 Muharam), umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 11 Muharam. Ini untuk membedakan dari puasanya orang Yahudi (HR Ahmad, Al Bazzar).

Bersamaan dengan puasa, pada Muharam umat Islam juga dianjurkan banyak bersedekah. Abu Musa Al Madani meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, yang mengutip pesan Nabi SAW: “Siapa yang  berpuasa pada hari Asyura seperti berpuasa setahun, dan siapa yang bersedekah  pada hari Asyura seperti bersedekah setahun.” (HR Al Bazzar).

Maka, esok harinya warga Kampung Sawah berpuasa sunnah. Maghrib, mereka berbuka puasa bersama di Masjid Jami’, dengan aneka menu yang telah dipersiapkan para ibu. Anak-anak yatim dan dhuafa pun gembira menerima hadiah lebaran mereka.

Oh, alangkah indah dan syahdu kebersamaan itu.

Tapi, itu cerita dulu. Sedangkan kini, yang luar biasa heboh justru peringatan tahun baru Masehi. Misalnya pada malam tahun baru 2013, pemerintah Jakarta menyelenggarakan Jakarta Free Night. Pemerintah mendirikan 16 panggung di 16 titik sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman untuk mementaskan musik gambus, gambang kromong, keroncong, campursari, dangdut, hingga band pop. Satu-dua penampilan bernafas religius, tapi yang lainnya full hura-hura belaka.

Kamis, 17 Januari 2013, kawasan Bunderan HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, ‘’tenggelam’’. Wilayah jalan protokol yang seumur-umur belum pernah terkena banjir parah itu, lumpuh total tergenangi air bah berwarna kecoklatan. Foto-fotonya terpampang besar di halaman utama media massa nasional maupun internasional.

“Itu kan kuwalat,” ucap Bupati Sidoarjo Jawa Timur, Saiful Ilah, mengomentari Ibukota yang terendam banjir.

Kuwalat, artinya terhukum lantaran melanggar pantangan. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan, “Pada akhir (zaman) umat ini akan mengalami bencana ditenggelamkan ke tanah, diubah rupanya, dan dilanda berbagai fitnah.” Aisyah ra lalu bertanya, “Ya Rasulallah, apakah kami akan turut binasa sedang di antara kami masih terdapat orang-orang yang saleh?” Jawab Rasul, “Ya, kalau kejahatan muncul di mana-mana’’ (HR Imam At Tirmidzi). Jabir bin Abdullah ra mengabarkan bahwa Rasulullah SAW berwasiat, “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung memberi wahyu kepada Jibril untuk membalikkan kota Madinah begini dan begini. Jibril berkata, `Ya Tuhanku, sesungguhnya di tengah-tengah mereka (penduduk Madinah) masih terdapat hamba-Mu si fulan yang tak pernah berbuat maksiat kepada-Mu barang sejenak pun.’ Allah berfirman, `Balikkanlah kota Madinah atas laki-laki itu dan atas warganya. Sesungguhnya wajah laki-laki itu tidak memperlihatkan rona kemarahan sama sekali untuk kepentingan-Ku’” (HR Ath Thabrani).

Maka, atas tenggelamnya Jakarta waktu itu, seorang tokoh habib Betawi berkata, “Setelah Sudirman-Thamrin dinodai dengan festival maksiat pada malam Tahun Baru, kini saatnya Allah SWT menyapu kotoran maksiatnya dengan air bah yang menggelontori Jakarta.”

Jelang 1 Muharrom 1437 H kini, pertanyaannya: Di mana senandung hijrah yang dulu merdu diperdengarkan? Di mana keceriaan anak bersuka-cita menyambut Tahun Baru Islam? Di mana semarak pergantian tahun menjadi momentum silaturahim dan saling menasehati dalam kebaikan untuk meningkatkan ketakwaan?

Ya, sebaik-baik kado Muharrom  adalah takwa. Sesuai firman Allah SWT:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

Sungguh, sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Al Baqoroh 197).

 

Semoga kita termasuk golongan hamba Allah yang selalu bermomentum kebaikan. Mengevaluasi diri maksiat dan dosa, sambil bersenandung doa hijrah untuk sesama.

 

Ketika Muharrom Bertanya

Salam rahmat dan berkah untuk semua Muslimin
Aku Muharrom bulan pertama pertama kalender Hijriah
Aku pertanda lahirnya peradaban Islami hasil perjuangan panjang
Aku hasil ikhtiar manusia mulia para Khalifah penerus Baginda Nabi
1437 tahun kini umurku

Tua memang, tapi banyak yang tak mengenaliku
Apakah aku terlalu tua hingga kalah dari yang lebih tua yaitu Masehi?
Oh, Aku cemburu padanya
Bahkan semakin tua dia, manusia semakin mencintainya
Apa salahku, atau apa salah kalian?
Aku bertanya pada siapa saja dari umat Islam
Adilkah kalian memperlakukanku secara

tidak lebih baik dari perayaan hedonik?
Padahal, Aku membawa kebaikan

Aku membawa pesan damai dari Tuhan Penguasa Kehidupan
Aku rindu gegap gempita keceriaan  menyambut kedatanganku
Karena Aku ingin semua kita menjadi Hamba Allah yang

penuh kebaikan, ilmu, dan surga pada akhirnya.

 

Batavia, jelang penghujung Dzulhijjah 1436 H

 

Hendy Irawan Saleh

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: