fbpx
id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

I’jaz al-Qur’an

Bila masih tak jua sanggup, manusia ditantang untuk menguntai satu surat saja, melalui firman-Nya:  . maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS Yunus : 38).
” buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al Baqarah : 23).
Silih berganti, gembong-gembong penyair Arab mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyusun syair terbaik sebagai tandingan ayat Quran. Tapi, sampai tantangan diturunkan Allah SWT hingga paling enteng, tak seorangpun yang sanggup membuat karya yang mendekati, apalagi menyamai, Quran.
Misalnya, nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab coba membuat surat Kelinci untuk menandingi Surah Al Ashr. Bunyinya begini: Yaa wabaru, yaa wabaru. Innaka udzunaani washodru. Wasaa iruka hafru nafru. Wahai kelinci, wahai kelinci. Kamu cuma dua telinga dan dada. Di sekitarmu lubang galian.
Meski karyanya norak dan jadi bahan tertawaan, Si Pendusta tak kapok. Ia coba lagi menandingi Surah An Naziat dengan surat Adonan. Wat-thookhinati tokhnaa. Wal aajinati ajnaa. Wal khoobizati khubzaa. Demi perempuan- perempuan yang menggiling gilingan. Demi perempuan-perempuan yang mengadon adonan. Demi perempuan-perempuan yang memasak roti.
Tak peduli gubahannya memalukan, Musailamah juga menyusun syair Al Jamahir untuk menyaingi Al Kaustar. Surah Al Fiil ditandinginya dengan surat Gajah. Hasilnya cuma makin menunjukkan kedunguan Musailamah. Simaklah bunyi surat Gajah yang artinya: Gajah. Apakah gajah. Tahukah kamu, apakah gajah. Yang punya ekor buruk dan taring panjang.
Akhirnya, sastrawan terkemuka Al Walid bin Al Mughirah sampai pada kesimpulan bahwa Al Quran memang bukan ciptaan manusia. Melukiskan kedigdayaan Quran, Al Mughirah seperti dikutip dari Sirah Ibnu Hisyam menyatakan:
”Sungguh kami telah mengenal seluruh syairyang ringkas maupun yang panjang, namun dia (Al Qur`an) bukanlah syairSungguh kami telah menyaksikan tukang-tukang sihir dengan sihir mereka, namun dia (Al Qur`an)  bukanlah hembusan-hembusan dan buhul-buhul tali yang mereka gunakan untuk menyihirDemi Allah, ucapannya sungguh manis, akarnya benar-benar subur dan cabangnya benar-benar berbuah.
Penilaian jujur yang dikemukakan Al Mughirah itulah kemukjizatan (ijaz) Al Quran. Abu Sulaiman Muhammad Al Khaththabi dalam kitabnya Bayan Ijaz al Qur`an menjelaskan:
Al Qur`an itu menjadi mujizat tiada lain karena dia membawa lafazh-lafazh yang paling fasih, yang terletak dalam susunan yang terbaik, sehingga lafazh-lafazh ini mengandung makna-makna paling terang tentang tauhid kepada Allah dan pensuciannya terhadap sifat-sifat-Nya. Al Qur`an mengajak (manusia) untuk mentaati-Nya, menjelaskan manhaj ibadah kepada-Nya dalam penghalalan dan pengharaman, dalam yang haram dan yang mubah, dan dalam pemberian peringatan dan pelurusan penyimpangan. Al Qur`an juga memerintahkan yang maruf dan melarang yang mungkar, menunjukkan akhlak yang mulia dan mencegah akhlak yang hina. Semua ini terletak dalam tempatnya masing-masing yang tidak bisa dipandang bahwa yang satu lebih utama daripada lainnya. Al Qur`an mengandung berbagai berita generasi terdahulu, juga bermacam-macam azab Allah bagi mereka yang maksiat dan menentang-Nya. Al Qur`an menghimpun antara hujjah dan apa yang dibangun di atas hujjah itu (al muhtaj lahu), menghimpun antara dalil dan apa yang dibangun di atas dalil itu (al madlul alaihi).  Dan sudah diketahui bahwa mendatangkan hal hal  tersebut — dengan uslub seperti ini serta menghimpun semua seginya hingga teratur dan tersusun rapi, adalah hal yang tidak mampu dilakukan manusia  (Abdullah, 1995).

Leave a Reply