Pesantren itu Pilihan Bukan Alternatif

Home - Artikel - Pesantren itu Pilihan Bukan Alternatif

Pesantren itu Pilihan Bukan Alternatif

Seluruh santri

Oleh : Mahfud Fauzi

“Mah, anak kita mau kita sekolahin di sekolah umum apa sekalian kepesantren ya?” tanya seorang suami kepada istrinya. Bla, bla, bla, akhirnya mereka memutuskan untuk menyekolahkan buah hati di lembaga pendidikan formal umum.
Maka, mulailah pasangan muda itu hunting sekolah terbaik di kota mereka. Selain dari rekomendasi orang, browsing internet, mereka juga mendatangi langsung sejumlah sekolah yang katanya top. Namun setelah melihat sendiri, mereka merasa ada kekurangan yang prinsipil di sekolah-sekolah itu. Ya, setiap sekolah pasti punya plus-minus. Tapi ada minus yang rata dijumpai di sekolah-sekolah umum.
Akhirnya, sang ayah melakukan tindakan revolusioner. Dia bikin sendiri sekolah yang ideal sesuai dengan kebutuhannya. Yaitu sekolah yang menggabungkan metode pendidikan pesantren dan umum. Ayah itu adalah Ustadz Yusuf Mansur, tatkala hendak menyekolahkan putrinya, Wirda.
Baik sekolah umum maupun pendidikan pesantren kedua duanya ada plus minusnya, tetapi penelitian kepribadian banyak mengapresiasi pendidikan pesantren sebagai pilihan solusi dalam membentuk anak yang mandiri dan berjiwa sosial. Terlebih sistem pesantren yang sarat dengan nilai spiritual jauh berdampak pada masa depan anak kita.
Sebagai orang tua tentu kita menginginkan generasi setelah kita kuat dan mandiri. Kuat iman dan islamnya mandiri berkehidupannya maka khawatirlah kita jika pendidikan anak justru menghasilkan generasi yang lemah

 

(وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا) [النساء : 9]


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Sebagai lembaga pendidikan yang tertua di belahan nusantara, pesantren terus berkembang pesat dari masa ke masa. Dikatakan lembaga tertua, bahkan bisa saja kita katakan lembaga pendidikan pertama di nusantara sebelum penjajahan merubah tatanan budaya dari negeri ini. Itu sangat beralasan sebagaimana dikutip dari Azyumardi Azra (2010) bahwa model Surau zaman dulu itu represantasi dari pesantren. Fungsi Surau diperluas menjadi tempat pengajaran dan pengembangan ajaran Islam seperti menjadi tempat shalat, tempat belajar al-Qur’an, tempat upacara-upacara terkait agama, tempat suluk.
Pesantren dalam sejarah peradaban masyarakat kita ternyata sudah lahir sebelum Indonesia merdeka. Bararti kemerdekaan berfikir pesantren lebih maju beberapa dekade sebelum kemerdekaan dikumandangkan. Begitulah kiranya hasil dari tempaan sistem yang komprehensif dimana santrin selama 24 jam tanggung jawab psikologinya, ruhnya, kecerdasannya, terkondisikan dalam aktifitas rutin pesantren.Sehingga pendidikan pesantren banyak melahirkan pemimpin di negeri ini.
Sejenak kita menyaksikan berapa jam sehari semalam anak kita bertemu dan belajar dengan guru? Diluar pesantren mungkin paling banter ketemu dan belajar sejak jam 07.00 s/d jam 15.00 total 8 (delapan) jam dan diluar itu akan bertemu dengan pergaulan lingkungan baik dirumah maupun dimana saja. Sementara di pesantren kurang lebih 24 jam bertemu dan belajar bersama guru. Coba bayangkan mana yang bisa mempercepat membentuk karakter pendidikan pada sang anak?

Sebagaimana kita ketahui bersama, sepanjang perjalannya, adakah tawuran antar pesantren, tawuran antar santri? Percepatan pembentukan karakter pada santri melekat karena 24 jam lebih digembleng, menghadap barat ketemu ustadz harus taat, menghadap kiri ketemu pengasuh harus tidak kisruh, menghadap utara ketemu santri bagian keamanan harus nyaman, menghadap selatan ketemu walikamar harus gemar. Dan menghadap timur ketemu Kyai harus Bisa saja disitulah kemudian terbentuk karakter pendidikan, maka kita posisikan bahwa pesantren itu kini
menjadi pilihan, bukan alternatif.
Pada akhirnya, mau tidak mau kita katakan bahwa orsinilitas pendidikan itu ya pesantren. Pasca masuknya penjajahan maka lahirlah dikotomi pendidikan, ada pendidikan umum dan ada pendidikan agama. Rasanya terlalu gaduh jika kita mengatakan bahwa pesantren adalah segalanya. Yang tidak baik itu jika kita mencemooh dan mejelekkan lembaga diluar pesantren, ini baru kegaduhan, begitu dirasa kira-kira bunyinya.
Nah ayah bunda, abi ummi dan ibu bapak sekalian, dibulan yang diramaikan dengan banyaknya iklan masuk sekolah, murah, mahal atau diskon, maka isi dari pendidikan itu panting..jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena salah mengambil keputusan pendidikan anak kita.
Mendidik anak kunci utamanya adalah orang tua sebab guru adalah sarana, pilihan kita harus pas karena terkait nasib pendidikan anak 3 atau 6 tahun kedepan (Sudah kaya pilkada ya).
Keputusan kita lah yang akan mempengaruhi hasil pendidikan itu. Ingat pesan Nabi SAW:

 

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواهيهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه


“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mahfud Fauzi
Mahfud Fauzi

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: