13 Bukan Angka Sial

Home - Artikel - Aqidah - 13 Bukan Angka Sial

13 Bukan Angka Sial

fdl_2001

National Geographic pernah mengemukakan, dalam dunia bisnis, angka 13 banyak dianggap sebagai ‘’angka sial’’. Sehingga angka ini dihindari sebagai nomor lantai atau tingkat dalam 80% bangunan atau gedung bertingkat. Angka 13 juga dihindari sebagai nomor kamar hotel maupun nomor kursi pesawat terbang komersial.

Sejarah ‘’kesialan’’ angka 13 konon berasal dari peristiwa Jamuan Terakhir (The Last Supper) tatkala Yesus menggelar perjamuan terakhir bagi para sahabatnya. Jamuan dihadiri 13 orang, dan yang terakhir datang adalah Judas Iscariot. Orang ke-13 inilah yang berkhianat kepada Yesus sehingga harus mati disalib.

Penyaliban Yesus dilakukan pada Hari Jumat. Ini yang kemudian kabarnya melahirkan mitos horor Friday Night 13th.

Paul Hoffman, dalam Smithsonian Magazine edisi Februari 1987, menyatakan bahwa fobia terhadap angka 13 telah menelan biaya satu miliar dollar AS pertahun. Sebab, fobia itu telah menyebabkan orang mangkir dan membatalkan keberangkatan kereta dan pesawat terbang serta mengurangi aktivitas perdagangan di tiap tanggal 13.

Sebaliknya, justru sejumlah pemain top sepakbola, mengenakan kaos bernomor 13. Misalnya Thomas Mueller, yang mengantarkan Kesebelasan Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brazil. Sebelumnya, pada Piala Dunia 2010, Mueller dengan nomor punggung 13 menjadi menjadi top scorer dengan 5 gol.

Senior Mueller di Tim Nasional Jerman, Michael Ballack, juga mengenakan kostum bernomor 13.

Pun pemain Tim Nasional Italy dan legenda AC Milan, Alessandro Nesta, menggunakan nomor punggung 13. Ia turut mengantarkan AC Milan menjuarai Liga Champions dan Liga Serie A Italy serta membawa Timnas Italy menjuarai Piala Dunia 2006.

Ajaran Islam melarang tathayyur. Yaitu berfirasat buruk, berperasaan sial, yang menimbulkan rasa pesimis, karena pengaruh sesuatu di alam. Bila pengaruh-pengaruh itu membuat seseorang membatalkan niat bepergian, melangsungkan pernikahan, dan lain-lain, berarti dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik.

Rasulullah SAW memperingatkan, “Siapa membatalkan (mengurung-kan) hajat (keperluan)nya karena tathayyur, maka sungguh dia telah berbuat syirik. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah :” Apakah kaffarah  (tebusan), denda dari perbuatan tersebut?”. Dijawab oleh beliau: “Agar engkau mengucap: ‘Ya Allah tidak ada suatu kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada suatu tathayyur (perasaan sial) kecuali tathayyur yang datang dari-Mu’; dan tidak ada Tuhan melainkan Engkau” (HR Imam Ahmad).

Nabi menegaskan, “Tathayyur (berperasaan sial) itu syirik, tathayyur itu syirik, apa kesalahan kita, kecuali… tetapi Allah akan menghilangkannya (Tathayyur) dengan bertawakkal kepada Allah” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra).

Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk berjiwa optimis. “Dan aku tertarik (menyukai) pengharapan baik (optimis) yaitu ucapan yang baik” (HR Muslim).

Alhamdulillah,  5 Juli lalu merupakan milad ke-13 Daarul Qur’an. Buat kami, keluarga besar Daarul Qur’an, usia tigabelas tahun ini adalah anugrah dan karunia besar yang Allah berikan untuk Daqu.

Buat kami, Daqu adalah amanah. Daqu ada dan lahir karena ummat membutuhkan, Indonesia membutuhkan, dunia membutuhkan.

Kami hanyalah pemegang tongkat estafet amanah  yang akan diberikan kepada generasi selanjutnya, generasi kita, generasi Anda, dan generasi kita semuanya.

Dari rahim Daarul Qur’an, lahirlah PPPA Daqu, Pesantren Daarul Qur’an, Daqu Travel, Paytren, Whbs, DBN, STIMIK Antar Bangsa, Aqudo, Kopindo, Tahfizh TV, YMTV, Daqu Radio, Daqu Movie, dan Majalah Daqu. Lembaga-lembaga ini bergerak atas landasan berkhidmat untuk memuliahkan Al Qur’an dan membibit serta mencetak para Penghafal Qur’an.

Tentu semua perkembangan itu dengan berbagai capaian prestasinya, tak lepas dari dukungan do’a dan support ummat.

Seperti disampaikan Rasulullah SAW: ‘’Do’a itu senjata orang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi’’ (HR Hakim dan Abu Ya’la).

Maka, teruslah iringi kami dengan do’a, nasehati kami bila ada khilaf, seperti yang selalu diajarkan oleh guru kami Ustadz Yusuf Mansur: “Jangan berhenti do’a; berdo’a, minta do’a, dan mendo’akan.’’

Do’a adalah ibadah, sebagaimana yang dipesankan Rasulullah SAW: Do’a adalah ibadah(HR Abu Daud I/466 no.1479, Tirmizi V/374 no.3247, Ibnu Majah II/1258 no.3828, dan Ahmad IV/267 no.18378, dan An-Nu’man bin Basyir ra).

Do’a merupakan ekspresi tawwakal. Berdo’a artinya menyerahkan urusan hanya kepada-Nya bukan  kepada yang lain-Nya. Sebagaimana do’a juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS Al-Mu’min: 60).

Do’a juga obat galau. Dalam berdo’a, seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya. Ia juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzalimi, ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapannya.

Walhasil, sejatinya do’a bukan untuk menambah kebesaran Allah SWT, melainkan kepentingan manusia sendiri. Namun, Allah senang bila hamba-Nya berdo’a. ‘’Kalian mintalah kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta’’ (HR Tirmidzi dan Abu Nu’aim). Tahukah Anda bahwa Allah “malu”, untuk tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya dengan tulus (HR Abu Daud dan At-Tirmzy dari Salman Al-Farisi ra).

Bahkan saking sayangnya pada kita, Allah SWT mengancam: “Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya” (HR Ahmad II/442 no.9699, dan At-Tirmidzi V/456 no 3373, dari Abu Hurairah ra).

 

Tarmizi As Shidiq – Ketua Daarul Qur’an

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: