Re-definisi Ma’na Pendidikan

Home - Artikel - Aqidah - Re-definisi Ma’na Pendidikan

Re-definisi Ma’na Pendidikan

juttjgujt

Oleh : Mr. Rinno, Kalibata

 

Diantara indahnya ciptaan Allah di dunia ini, Allah menciptakan beragam bahasa manusia. Namun kemudian Dia memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an. DR. Sa’id Ramadhan Al Buthy dalam kitab beliau fiqhus siroh menjelaskan beberapa ibroh terkait hal ini. Karenanya sangat layak kiranya, dalam konteks pemahaman yang komprehensif terhadap dunia pendidikan dan tuntutannya kalau kita merujuk kedalam bahasa pilihan Allah.

Pendidikan dalam bahasa Arab adalah At Tarbiyah, yang secara bahasa berma’na Tansyi`ah (pembentukan), Ri`ayah (pemeliharaan), Tanmiyah (pengembangan), dan Taujih (pengarahan).
Maka proses Pendidikan yang kita lakukan dengan menggunakan sarana dan media yang beragam, intra maupun ekstra kurikuler, seperti KBM di kelas, halaqoh Qur’an, mabit, seminar, camping, outbound, outing class dan lainnya, harus memperhatikan empat hal diatas sebagai langkah-langkah praktis untuk sampai pada tujuan strategis yaitu terbentuknya pribadi muslim da`i atau muslim yang tidak hanya shalih secara pribadi, namun mushlih bagi lingkungan sosialnya.

1. Tansyi`ah ( pembentukan )
Dalam proses tansyi`ah harus memperhatikan tiga sisi penting yaitu :
a. Pembentukan Ruhiyah Ma`nawiyah (Afektif). Pembentukan ruhiyah ma`nawiyah dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah ritual seperti sholat dhuha, qiyamul lail, shaum
sunnah, tilawah Qur`an, dzikir dll. Para Pendidik harus mampu menjadikan sarana-sarana pendidikan semisal mabit, muhasabah, tausiyah, dalam membentuk pribadi siswa pada sisi ruhiyah ma`nawiyahnya dan dirasakan serta disadari oleh siswa bahwa ia sedang menjalani proses pembentukan ma`nawiyah ruhiyah. Jangan sampai mabit hanya untuk mabit.

b. Pembentukan Fikriyah Tsaqofiyah (Kognitif). Sarana dan media Pendidikan kognitif harus dijadikan sebagai sarana dan media yang dapat membentuk peserta didik pada sisi pemikiran dan intelektual, jangan sampai KBM hanya sebagai penggugur kewajiban sebagai seorang siswa, tetapi harus jelas tujuannya bahwa KBM untuk pembentukan pemiiran yang benar dan utuh, dan ini harus disadari dan dirasakan oleh Pendidik dan Siswa.

c. Amaliyah Harakiyah (psikomotorik). Proses Pendidikan selain bertujuan membentuk pribadi dari sisi ruhiyah ma`nawiyah (afektif) dan fikriyah tsaqofiyah (kognitif), juga bertujuan membentuk amaliah harakiyah (psikomotorik) yang harus dilakukan secara berbarengan dan berkeseimbangan. Sehingga sisi ruhiyah ma`nawiyah (afektif) dan fikriyah tsaqofiyah (kognitif) teraktualisasi dan terformulasi dalam bentuk amal nyata dan kegiatan ril serta dirasakan oleh lingkungan dan mayarakat luas.

2. Ar ri`ayah ( pemeliharaan ).
Kepribadian Islami yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara ma`nawiyah, fikriyah dan amaliyahnya serta harus selalu dimutaba`ah (dikontrol) dan ditaqwim (dievaluasi) sehingga jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas ibadah ritual, wawasan konseptual, pemikiran dan amal tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Tidak ada penurunan dalam tilawah, sholat dhuha, qiyamul lail, shaum sunnah, baca buku, tatsqif, semangat belajar dan aktivitas pembelajaran lainnya.

3. At Tanmiyah ( pengembangan ).
Dalam proses Pendidikan, Pendidik dan Siswa tidak boleh puas dengan apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apalagi menganggap sudah sempurna. Pendidik dan Siswa yang baik adalah Pendidik dan Siswa yang selalu memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta meningkatkan kualitas, berpandangan jauh kedepan, bahwa Pendidikan harus siap dan mampu menawarkan konsep perubahan dan dapat mengajukan solusi dari berbagai permasalahan ummat dan berani tampil memimpin umat. Oleh karenanya kualitas diri merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan dalam proses Pendidikan.
4. At Taujih ( pengarahan ) dan At Tauzhif ( Pemberdayaan ).
Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik dan berkualitas secara pribadi namun harus mampu memberdayakan, menjadi unsur perubah yang aktif dan produktif (Al Muslim Ash-Shalih wal Mushlih). Pendidik dapat mengarahkan, memfungsikan dan memberdayakan siswanya sesuai dengan bidang dan kapasitasnya. Siswa siap untuk diarahkan, ditugaskan, ditempatkan dan difungsikan, sehingga dapat memberikan kontribusi ril bagi masyarakat, bangsa dan ummat, tidak ragu berjuang dan berkorban demi tegaknya dienul Islam.

“Diantara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka telah janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.“ ( QS 33 : 23 )

Indikasi keberhasilan Pendidikan bisa dilihat pada peran dan kontribusi siswa dalam penyebaran pemikirannya, pembentukan masyarakat Islam, memerangi kemungkaran memberantas kerusakan dan mampu mengarahkan dan membimbing umat ke jalan Allah. Serta dalam keadaan siap menghadapi segala bentuk kebathilan yang menghadang dan menghalangi lajunya da`wah Islam.

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min diri dan harta mereka dengan memberikan syurga kepada mereka, mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur`an, dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah 9 : 111)
Semoga Allah selalu bersama kita dan kemenangan memihak kepada kita.

“ Jika kamu membela (agama) Allah, pasti Allah memberikan kemenangan kepadamu dan mengokohkan kakimu diatas jalan yang haq “

Share

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: