Muhadhoroh Kubro: Panggung Para ‘Singa Podium’

Home - Berita - Muhadhoroh Kubro: Panggung Para ‘Singa Podium’

Muhadhoroh Kubro: Panggung Para ‘Singa Podium’

WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08(5)

”Lebih baik mati kelaparan!!!daripada harus makan uang rakyat!” ujar Deri Wirdansyah, dengan berapi-api. Dery merupakan santri kelas 10 Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, yang juga peserta  lomba pidato “Muhadhoroh Kubro” yang digelar pada 22 April lalu. Pidato berjudul “korupsi” yang dibawakan oleh Dery dengan intonasi yang baik mampu hadirin tersihir sekaligus memberikan tepuk tangan membahana kala pembacaan selesai.
Dihadiri oleh para pimpinan pondok seperti, KH.Ahmad Jameel dan KH. Ahmad Slamet,  acara yang dihelat di aula serbaguna, Gedung Al-maidah ini, terasa begitu membakar semangat dan membangkitkan kembali semangat dan juga ruh dari 1.500 pemuda-pemuda yang sedang menghafal kitab suci Al-Qur’an. Bertambah spesial karena acara ini dibawakan oleh 3 pembaca acara atau MC , dengan 3 bahasa yang berbeda. Mereka adalah: Naufal Khairullah (Kelas 10), selaku MC Bahasa Inggris, Toha Yasin (10), selaku MC Bahasa Arab, dan Hakamudin (10), selaku MC Bahasa Indonesia.
Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan indah oleh Ikbar Imami, santri kelas 8, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ikhwan Putra, selaku ketua pelaksana acara ‘Muhadhoroh Kubro’ pada tahun ini.
”Janganlah kalian meremehkan hal sekecil apapun. Karena hal kecil yang jika dibiarkan akan menjadi hal yang besar.” katanya, memberi motivasi kepada seluruh santri Daarul Qur’an.
”Karena seorang pemimpin, tidak akan pernah menyepelekan hal sekecil apapun” tambahnya lagi.
Setelah memberi semangat kepada seluruh peserta, Ikhwan menutup pembicaraannya dan dilanjutkan dengan sambutan dari KH. Ahmad Jameel.
“Yang pertama-tama, jika ingin menjadi da’i, kerjakan dengan ikhlas. Jangan mengharapkan imbalan dari manusia, tapi harapkan ridho Allah SWT. Yang kedua, harus punya persiapan yang matang. Susun kata-kata tersebut, mainkan kata-kata tersebut, sehingga kalian dapat mengambil hati para audience. Yang ketiga dan yang terakhir adalah, kuasai ilmu ‘Public Speaking’. Karena dengan ‘Public Speaking’, kita dapat menambah kepercayaan diri, menambah wawasan, berpikir cerdas dan cemerlang, dan menjadikan kita bukan hanya manusia yang Ordinary, tetapi menjadikan kita manusia yang Extraordinary.” kata KH.Ahmad Jameel memberikan motivasi kepada seluruh santri Daarul Qur’an, dengan menirukan gaya sang proklamator, Ir.Soekarno.
Setelah KH.Ahmad Jameel menutup pembicaraannya, sekarang giliran santri-santri cilik dari shighor putri yang menunjukkan kebolehannya dalam menyanyi nasyid. Mendengarkan suara sekaligus melihat gerakan tariannya, terkadang membuat para audience tertawa karena kepolosan mereka. Meski begitu, mereka tetap bernyanyi dengan percaya diri dan menjadikan hal tersebut sebagai ciri khas mereka. Rombongan nasyid shigor putri selesai unjuk gigi dan turun dari panggung. Seakan tidak mau kalah, sekarang giliran santri cilik dari shigor putra yang menunjukkan kebolehannya dalam membaca puisi. Para audience pun dibuat terpukau dan tidak dapat berkata apa-apa ketika puisi dibacakan, karena keindahan kata-kata yang berpadu dengan sempurna oleh mimik dan juga intonasi yang ditunjukkan oleh para pembaca puisi. Itu membuktikan bahwa anak didik dari ustadz Kupmin Rambe tersebut telah sukses menyihir dan juga menyeret para audince masuk ke dalam khayalan dan juga gambaran dari puisi yang sedang di bacakan.
Setelah puisi selesai dibacakan, acara yang sangat ditunggu-tunggu pun dimulai, yaitu penampilan para orator. Pembacaan pidato pertama diisi oleh pembacaan pidato berbahasa Arab yang diawali oleh Zulfikar Marwan, santri kelas 10 di Daarul Qur’an ketapang. Dengan berpakaian rapih menirukan gaya ‘Wali Songo’, ia maju ke atas podium dengan percaya diri, dan menyampaikan pidato bak orator ulung yang sudah malang-melintang di dunia. Dilanjutkan oleh Daffa Al-Ghazali, santri dari shigor putra berpakaian rapih, harum, dan sederhana. Lengkap dengan  peci songkok, sorban yang dikalungi di leher, koko putih dan sarung bermotif kotak-kotak. Walaupun dengan pakaian sederhana, namun isi pidato  yang ia bawakan begitu berbobot dan juga menarik. Seakan tidak mau kalah, sang tetangga jauh (I’dad Ar-Rahman dan Al-Mulk) mengirimkan Taufik Hidayat yang menggunakan gamis putih dan kepala yang dibekat dengan sorban putih bermotif kotak-kotak membuatnya terlihat seperti masyaikh-masyaikh dari Timur Tengah. Isi pidatonya pun tidak kalah menggugah dari pakaian yang digunakan.
Pembicaan pidato Bahasa arab telah selesai sekarang giliran band yang tampil untuk memeriahkan suasana malam hari tersebut. Beranggotakan lima orang mereka adalah Heffandri sebagai penabuh drum, Faris Pranandha sebagai Keyboardis, Dan pemetik gitar diisi oleh Rifqi Madana dan Redy Barlian dan, Osama Zafrizal sebagai vokalis dengan menggunakan topi abu-abu, sweater, celana panjang dan sepatu kets mereka memeriahkan Daarul Qur’an dengan tiga lagu: Don’t let me down (The Chainsmoker), Rockabye (Clean Bandit), dan sebagai penutup mereka memebawakan lagu Let Her go (Passenger).  Dengan semangat yang menggebu-gebu mereka berhasil mengoyangkan Daarul Qur’an dengan sempurna dan membuat acara semakin sempurna.
Setelahnya digelar pembicaraan pidato Bahasa Indonesia.  Dalam pembacaan pidato tersebut terjadi pertarungan yang sengit antara dua santri. Pertarungan dimulai oleh raja pidato, Deri Wirdansyah, santri Kelas 10. Menggunakan kemeja berwarna biru dongker yang dibalut jas hitam dan sepatu pantopel hitam yang berkilat membuatnya seperti perdana menteri yang siap mengeluarkan pidatonya yang dapat mengubah dunia dengan tema yang kontroversial yaitu “korupsi.” Ia pun langsung  membuatnya menjadi pusat perhatian pada malam hari itu dan menuai banyak tepuk tangan baik dari kalangan santri, ustadz, dan tamu yang turut hadir pada malam tersebut. Dilanjutkan oleh Ramadhan Ahmad Akbar santri dari Daarul  Qur’an I’dad yang menyampaikan pidatonya dengan suara yang lantang layaknya Ir.Soekarno.  Suara lantangnya membuat tatapan para hadirin tidak dapat berpaling darinya sementara orator ketiga Yusuf santri dari Shigor Putra didiskualifikasi karena tidak hadir dalam acara tersebut.
Pertarungan berlanjut di Pidato Bahasa Inggris, ”Gong” pertarungan berbunyi ketika dua santriwati dari Shigor Putri menyampaikan pidatonya didepan para audience. Dengan suara dan juga ekspresinya yang sangat imut dan sangat lucu membuat para audience melihat dan menyimak apa yang disampaikan oleh kedua santriwati tersebut. Pertarungan menjadi semakin panas ketika Panji Antika dari santri kelas tujuh di SMP Daarul Qur’an Ketapang. Menginjak area pertarungan tampil dengan gaya casual:menggunakan peci songkok hitam, dasi hitam, kemeja lengan panjang yang dipadukan dengan jas yang berwarna hitam, celana panjang hitam dan sepatu pantopel hitam yang berkilat membuatnya terlihat seperti duta besar dari Amerika apalagi ditambah dengan kulitnya yang berwarna putih bersih, dan juga mukanya terlihat seperti orang bule membuatnya makin terlihat seperti Dubes Amerika. Membahahas tentang kelakuan pemuda masa kini para audience menyimak dengan teliti dan seksama semua perkataan Panji takut kehilangan materi, dan puncak dari pertarungan Bahasa Inggris ini, ditutup oleh Haidar Fitrah, Santri dari I’dad Daarul Qur’an. Tampil Dengan Memakai Peci putih haji, kacamata, jas hitam, dasi, celanan panjang hitam, dan pantopel membuat dia dikaitkan oleh seorang dokter dan ulama ternama dari India yang beberapa waktu lalu mendatangi bumi nusantara, dokter Zakir Naik. Lihainya dia berpidato menirukan gaya sang ulama yang terkesan kritis, namun dapat diterima semua kalangan, membuatnya menjadi salah satu peserta yang diperhitungkan untuk menggondol gelar Juara tahun ini.
Sesaat setelah ‘The next Zakir Naik’ turun dari panggung, para juri pun diberi waktu untuk berdiskusi. Menentukan siapakah pemenang dari acara ‘Muhadoroh Kubro’pada tahun ini.

Hingga akhirnya pemenang diumumkan. Dimulai dari pidato bahasa arab dimana Zulfikar Marwan yang digadang-gadang akan menjadi juara harus puas pada posisi kedua. Sementara itu “Syekh” Taufik Hidayat berhasil menggondol gelar juara pada tahun ini  dan “ustadz” Daffa Al-Ghozali harus puas berada di peringkat ke-3. Sementara itu Deri Wirdyansyah berhasil mengamankan gelar juara yang ia dapatkan tahun lalu, menunguli “perdana mentri “ lain nya, Ramdhan Ahmad Akbar yang berada tepat di bawahnya. Dan untuk pidato Bahasa Inggris “The next Zakir Naik“, Haidar Fitrah,  berhasil keluar sebagai pememang, di bwah nya terdapat Panji Andika, serta dua antriwati shigor putri yang menempati peringkat ke-3.

WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08(1) WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08(2) WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08(3) WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08(4) WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.08 WhatsApp Image 2017-05-03 at 14.51.09

Share

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: