AmalanArtikelTajamu

Tajamu adalah makan bersama ala santri gontor yang kemudian menjadi tradisi hingga jadi guru dan alumni.  Secara disiplin makan bareng diatas nampan,  plastik atau daun pisang itu melanggar disiplin.  Tapi menjadi menarik karena ada spirit kebersamaan.  Prihatin saat jadi santri.
PesantrenDaQu PesantrenDaQu6 bulan ago489

Oleh : Ustadz Hendy Irawan Saleh

 

Di sela ekspedisi dakwah ke Sikakap, Kab Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu, kami sempat makan siang bersama. Beralaskan daun pisang, dengan nasi berlauk ikan bakar, sambal kecap, sayur kangkung, dan kerupuk, kami belasan aktivis makan sangat lahap. Maklum, lapar, sehabis melaksanakan sunatan massal dan berbagi bingkisan di Desa Tubeket dengan menumpang boat kayu.

Dalam khazanah tradisi Minang, makan bersama semacam itu disebut bajamba. Orang Sunda mengatakan botram. Orang Betawi bilang padangan.

Sedangkan alumni Pondok Gontor punya istilah sendiri untuk soal itu, yakni tajamu.

Tajamu adalah makan bersama ala santri gontor yang kemudian menjadi tradisi hingga jadi guru dan alumni.  Secara disiplin makan bareng diatas nampan,  plastik atau daun pisang itu melanggar disiplin.  Tapi menjadi menarik karena ada spirit kebersamaan.  Prihatin saat jadi santri.  Rekoso saat jadi mahasiswa tajamu’ bahagia saat sukses jadi apalah mereka. Tradisi nraktir atau bersedekah makan ini berakar dari tuntunan agama Islam. Dalam Al Quran, Allah SWT menyebut keutamaan memberi makan orang miskin dan kurang mampu yang membutuhkan, dan reward bagi pelakunya:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS. Al-Nsan: 8-12)

Tak heran jika para ulama salaf sangat memperhatikan memberi makan dan mendahulukannya atas banyak macam ibadah, baik dengan mengeyangkan orang lapar atau memberi makan saudara muslim yang shalih. Baik kepada kaum dhuafa maupun tidak.

Sesuai wasiat Rasullullah SAW, “Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan shalatlah malam di saat manusia tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR Ahmad, Tirmidzi).

Ada beberapa ulama yang memberi makan orang lain padahal mereka sedang berpuasa, seperti Abdullan bin Umar, Dawud al-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal ra.

Abu al-Saur al-Adawi menuturkan perilaku beberapa orang dari Bani Adi. Tidaklah salah seorang mereka makan satu makananpun dengan sendirian. Jika ia dapatkan orang yang makan bersamanya maka ia makan, dan jika tidak, maka ia keluarkan makanannya ke masjid dan ia memakannya bersama orang-orang.

Ibnu Umar ra tidaklah berbuka puasa kecuali dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Ada sahabat yang bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak semua orang mampu menyediakan buka orang yang berpuasa?”

Rasul  menjelaskan, “Pahala ini Allah berikan bagi siapa saja yang menyediakan makanan bagi orang yang berbuka puasa meskipun berupa susu bercampur air, kurma, atau seteguk air.’’

Ali bin Husain adalah satu diantara penerus Nabi Muhammad SAW yang getol berbagi secara diam-diam, utamanya di bulan Ramadhan. Kebajikannya baru diketahui warga Madinah setelah beliau meninggal.

Dari kesaksian Abu Hamzah Ats-Tsumali, ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan.’’

Sedangkan ‘Amr bin Tsabit meriwayatkan, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya, ‘Apa ini?’ Ada yang menjawab, ‘Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah.”

Bersaksi pula Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku, ‘Saya mendengar penduduk Madinah berkata, Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain’’ (Sifatus Sofwah II/96, Aina Nahnu hal 9).

Semoga kita dapat meneladani para pendahulu kita, sehingga kelak kita dipantaskan untuk satu surga bersama mereka.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu

daqu.sch.id

Gd. Adh-Dhuha Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an
Jl. Thamrin Ketapang, Kp. Ketapang Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Provinsi Banten
021-2789 9696

PesantrenDaQu, 2018 © All Rights Reserved