Tentang Hijrah dan Segala Tantangannya

Home - Artikel - Aqidah - Tentang Hijrah dan Segala Tantangannya

Tentang Hijrah dan Segala Tantangannya

Penulis : Aditya Nugroho

Fenomena ‘hijrah’ belakangan ini marak terjadi, dari mulai teman sendiri, keluarga atau sanak saudara hingga selebriti mengaku ingin mempraktikkan cara hidup yang sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadist. Apa yang mendorong seseorang berhijrah? Memangnya hijrah yang benar itu seperti apa? Lalu seperti apa tantangan ketika memutuskan berhijrah?

Definisi hijrah sendiri cukup banyak terdapat dalam Al Quran. Contohnya di surah Al Mudatsir ayat 5 yang bermakna ‘menyingkiri’, lalu di surah Maryam ayat 46 yang berarti ‘meninggalkan’ dan ‘berpaling’, kemudian di surah Al Muzammil ayat 10 yang mengandung arti ‘menjauhkan diri (dari sesuatu)’.

Selanjutnya, surah An Nisa ayat 34 memberi pengertian hijrah yang berarti ‘memisahkan’. Lalu berikutnya adalah surah Ali Imran ayat 194 yang mengandung makna ‘memutuskan hubungan’.

Dalam sejarah Islam, konteks hijrah sendiri paling cocok digunakan dalam masa awal dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Ketika mendapatkan penolakan pada awal masanya berdakwah pada tahun 622 Masehi di kota Makkah, Rasulullah bersama para pengikutnya memilih untuk melakukan emigrasi, alias berpindah tempat dari kota Makkah ke kota Madinah.

Sebagai gambaran, jarak antara kota Makkah dengan Madinah kurang lebih 450 km, seperti jarak antara Jakarta dan Semarang. Jarak yang cukup jauh untuk menyingkir dari pengaruh buruk kaum penyembah berhala yang waktu itu telah hidup turun-temurun menguasai kota dan selalu menentang dakwah, bahkan ingin membunuh Rasulullah.

Pada zaman sekarang, hijrah tetaplah tidak berubah maknanya. Pada hakikatnya, hijrah adalah mengubah kebiasaan lama yang buruk dan tidak sesuai dengan tuntunan hidup yang diajarkan dalam Al Quran dan Hadist menjadi kebiasaan baru yang sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadist. Karena itu, hijrah menjadi kewajiban bagi seorang muslim/muslimah, bukan pilihan.

Dorongan Berhijrah

Ada beberapa contoh kisah sehari-hari yang melatarbelakangi seseorang berhijrah. Bermunculannya ustadz yang berdakwah memanfaatkan teknologi dan media sosial memang efektif untuk memberikan pengetahuan agama kepada kita-kita yang sibuk bekerja dan sulit untuk mendatangi langsung majelis ilmu. Dengan menggunakan media seperti Youtube, kita bisa mempelajari agama dengan cara yang mengena bagi masing-masing.

Contohnya, ada yang senang mendengarkan pembahasan mengenai akhir zaman atau tanda-tanda kiamat. Siapa sih yang tidak bergidik ngeri dengan pembahasan yang satu itu? Dari rasa takut itulah kemudian muncul keinginan memperdalam ilmu agama agar memiliki kesiapan dan diberi keselamatan dalam huru-hara akhir zaman.

Topik-topik yang kita sukai itulah yang kemudian menjadi gerbang bagi kita untuk mempelajari lebih jauh tentang keindahan agama Islam secara menyeluruh.

Ada pula kisah-kisah inspiratif para mualaf tentang bagaimana mereka mendapatkan hidayah. Hidayah memang ‘mahal’, dan Allah memang tidak memberikannya kepada semua orang, kecuali mereka yang memiliki keinginan untuk ‘menjemputnya’ sendiri. Menyaksikan dan mendengar kisah mereka dalam menemukan kebenaran Islam sudah pasti membuat kita yang sudah Islam dari lahir akan berpikir. Mengapa mereka yang harus mencari sendiri saja bisa memahami Islam dengan lebih baik daripada kita? Hal ini kemudian bisa menjadi pendorong kita untuk berhijrah.

Penulis juga pernah mendengar kisah seorang teman yang berhijrah karena pengalaman hidup yang ia dapat. Ia yang memutuskan berhijrah setelah melihat sahabat karibnya jatuh sakit lalu meninggal dunia. Teman saya itu diceritakan tentang mimpi yang dialami sahabatnya sebelum meninggal, bahwa ia diberitahu tentang dosanya yang sebesar bukit. “Dia yang sebaik itu punya dosa sebesar bukit, gimana gue?” Sejak saat itulah ia memutuskan untuk memperbaiki diri dan mempelajari ilmu agama dengan lebih serius, alias berhijrah.

Setiap orang pada dasarnya diberi kesempatan untuk berhijrah dengan cara yang berbeda-beda. Tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapinya, dan apakah kita memilih untuk mendatangi atau malah mengabaikannya. Dengan bahasa yang lebih sederhana, pada dasarnya kita yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya. Maka ketika kita menyaksikan seseorang berhijrah, tidak usah menanggapinya dengan sinis, justru berikanlah segala bentuk bantuan agar proses hijrahnya optimal dan ia terus istiqomah.

Hijrah Itu Seperti Apa?

Yang paling terlihat jelas dari orang-orang yang mulai berhijrah ini tentu saja dari caranya berpakaian. Wanita yang mulai berhijrah akan memakai pakaian jilbab panjang, atau biasa disebut dengan hijab syar’i. Buat kaum pria, maka memakai celana cingkrang alias celana yang dinaikkan ke atas mata kaki dijalankan agar tidak isbal.

Itu baru dari cara berpakaian. Yang tidak kalah penting adalah hijrah perilaku dan kebiasaan. Ini jelas lebih sulit.

Jelas lebih sulit karena mengubah perilaku dan kebiasaan ini rasanya tidak sesederhana mengubah penampilan. Contoh kongkrit dari mengubah perilaku adalah dari yang semula terbiasa curang ketika berdagang atau bekerja, maka ketika memutuskan untuk hijrah, maka tidak boleh curang lagi, apalagi korupsi. Yang dulunya suka bergunjing atau melakukan ghibah, maka sudah tidak boleh ngegosip lagi. Lalu yang dulunya suka berjudi, meminum minuman keras, pacaran apalagi berzina, maka jika sudah berhijrah, semua itu harus ditinggalkan. Banyak lagi contohnya yang bisa jadi satu buku sendiri kalau dibahas satu persatu. Jalan hijrah memang harus melalui hal-hal sulit dan tidak mengenakkan, sebaliknya jalan kesesatan selalu ditunjukkan melalui berbagai kenikmatan dunia.

Begitu juga tentang kebiasaan. Ini juga tidak gampang. Dalam hal beribadah misalnya, jika tadinya salat kita masih bolong-bolong, maka ketika memutuskan berhijrah, tidak boleh lagi seperti itu. Malah kalau bisa, salat dilakukan pada awal waktu secara berjamaah di masjid (untuk laki-laki). Lebih utama lagi, kerjakan juga salat sunnah dan ibadah-ibadah yang dianjurkan lainnya seperti berpuasa senin dan kamis, dan sebagainya.

Lalu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya yang tadinya suka menghabiskan waktu berjam-jam nonton film drama atau mendengarkan musik, maka kalau sudah berhijrah, harus dikurangi karena akan lebih berfaedah memperdalam ilmu agama atau memperbaiki bacaan Al Quran. Lalu yang sebelumnya suka nongkrong dari pagi hingga sore di mall, maka kalau sudah hijrah, kebiasaan ini diganti dengan mengikuti kelompok pengajian atau majelis ilmu.

Hijrah Secara Fundamental

Selain itu, seseorang yang berhijrah dan memutuskan untuk total dalam memperdalam agama demi menjadi muslim/muslimah yang baik juga harus memiliki mental yang kuat. Harus istiqamah dan tidak boleh mudah menyerah.

Yang tadi disebutkan baru perilaku dan kebiasaan secara fisik, alias yang secara kasat mata bisa dilihat orang. Tapi yang lebih fundamental alias mendasar dari sebuah hijrah adalah hijrah sejak dalam pikiran.

Apa tuh maksudnya? Jika sudah memutuskan hijrah, kita harus berprasangka baik kepada Allah (khusnudzan) atas segala hal yang terjadi pada diri kita. Tidak boleh lagi mengeluh, apalagi menyalahkan Allah dan memvonis Allah tidak adil dan sebagainya. Terlebih jika segala keluhan itu di-posting di akun media sosial.

Hijrah ini pula berarti bersikap ikhlas, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, dan karena itu kita harus memiliki mentalitas untuk selalu berserah diri, atau bertawakal.

Lalu kemudian, kalau sudah hijrah, kita harus berupaya menghilangkan segala penyakit hati. Jadi yang namanya iri, dengkihasadriya dan sebagainya itu tidak boleh lagi menjadi peliharaan kita. Membuat hijrah jadi kurang bermakna.

Biarkan sajalah orang lain dengan segala keberhasilan yang mereka pertontonkan, toh itu semua bukan urusan kita. Lagipula, masing-masing orang telah melalui perjuangannya sendiri untuk bisa menggapai hidup yang mereka rasakan sekarang.

Sebaliknya, jika kita sebagai pihak yang merasakan berkah yang memungkinkan kita mendapatkan segala nikmat dunia, maka sebagai muslim/muslimah yang telah berhijrah, kita harus bisa menahan diri untuk tidak mempertontonkan glorifikasi atau memamerkan keberhasilan itu untuk membuat orang lain terjangkit penyakit hati.

We buy things we don’t need, with the money we don’t have, to impress people we don’t like.

Jangan sampai barisan kata satir yang muncul di film Fight Club (1999) ini menjadi gambaran hidup kita sehari-hari.

Tantangan Ketika Berhijrah

Ketika melakukan hal-hal baik, ada saja tantangan yang dihadapi, baik itu dari diri sendiri sampai gunjingan dari orang lain.

Ada saja bisikan-bisikan yang datang dari diri sendiri yang meragukan kemampuan diri untuk berhijrah. “Percuma deh, nanti udah pakai hijab, malah lepas lagi karena gak kuat. Kan malu-maluin.” Padahal, lebih baik memulai dulu dari pada tidak dimulai sama sekali. Sekali lagi, hijrah adalah kewajiban, bukan pilihan.

Ini baru dari diri sendiri, yang juga tidak gampang dihadapi adalah reaksi dari orang-orang di sekitar. Dari ledekan hingga cibiran, dari yang sinis hingga yang ragu, itulah yang akan kita hadapi. Bersiap-siaplah untuk dibilang “Ah sekarang elu gak asik lagi!” atau “Sekarang kok jadi sok serius? Sok suci pula.” Bahkan ada pula keraguan dari orang lain “Yah, paling-paling besok udah balik lagi ke tongkrongan.”

Langkah selanjutnya ketika pikiran kita sudah berhijrah, adalah menegakkannya dalam keseharian, alias mendakwahkannya sesuai kapasitas dan kemampuan. Kalau dalam budaya populer, maka kata-kata yang diucapkan penulis asal Irlandia yang hidup di abad ke-18 Edmund Burke berikut ini bisa dijadikan contoh:

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” Pernah menonton film Tears of The Sun yang dibintangi Bruce Willis dan Monica Bellucci? Quote tersebut berasal dari film ini. Esensi dari film yang berlatar konflik bersenjata di Afrika Barat ini adalah ajakan untuk menegakkan kebenaran agar penguasa jahat tidak lagi berkuasa.

Islam sudah mengajarkan bahasa yang lebih sederhana dan sudah sering kita dengar yaitu Amar Ma’ruf, Nahi Munkar. Ajaran dari para Nabi yang tentunya lebih dulu lahir daripada Sir Edmund Burke.

Masalahnya dalam konteks bermasyarakat kita pada zaman now, individualisme dan kebebasan amat diagungkan. Jadi ketika kita menasihati saudara kita yang kerap melakukan hal tidak baik, maka balasan yang kita dapat dari orang yang kita nasihati itu adalah:

“Yang dosa gue, kok elu yang repot?!”

“Duit duit gue, kok elu yang ikut campur?!”

“Elu gak ngasih gue makan, kenapa gue harus dengerin nasihat lu?!”

“Sok suci banget sih lu, macam udah pasti masuk surga aja pakai nasihatin orang.”

“Siapa sih lu? Kok ngurusin hidup orang. Emangnya hidup lu sendiri udah bener?”

Familiar? Ya, begitulah tantangannya. Sabar. Doakan saja. Toh sebelum kita berhijrah, kita juga pernah mengalami fase seperti itu, bukan? Doakan saja, karena mereka sebetulnya tidak tahu. Atau mungkin sudah tahu, tapi belum tahu bagaimana cara memulai.

 

* sumber foto google

Share:

Categories

Latest Posts

%d blogger menyukai ini: