Dream DaQu 5 Benua

 

ArtikelIslamiPesantrenKiai Sholeh Darat : Gurunya Para Ulama Nusantara

Namanya memang tidak setenar Sunan Kudus. Namun kiprahnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam di Pantai Utara Jawa khususnya Semarang dan juga pencetak para ulama yang nantinya akan mewarnai sejarah pergerakan nasional. Kiai Sholeh Darat terlahir dengan nama Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani. Meski tidak diketahui secara pasti catatan yang tersebar mencatat ia lahir pada 1820 M/128 H di desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya adalah seorang ulama dan pejuang bernama Umar...
PesantrenDaQu PesantrenDaQu5 bulan ago873

Namanya memang tidak setenar Sunan Kudus. Namun kiprahnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam di Pantai Utara Jawa khususnya Semarang dan juga pencetak para ulama yang nantinya akan mewarnai sejarah pergerakan nasional.

Kiai Sholeh Darat terlahir dengan nama Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani. Meski tidak diketahui secara pasti catatan yang tersebar mencatat ia lahir pada 1820 M/128 H di desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya adalah seorang ulama dan pejuang bernama Umar bin Tasmin yang dikenal dengan Kiai Umar.

Kiai Umar merupakan sahabat seperjuangan Pangeran Diponegoro. Saat Kiai Sholeh Darat berusia lima tahun ia sudah ditinggal oleh ayahnya yang bergabung dalam perang Jawa. Dalam perang Jawa tersebut Kiai Umar lebih berkonsentrasi pada wilayah Pesisir Utara.

Sejak kecil Kiai Sholeh Darat mendapat pendidikan agama dari ayahnya langsung. Lalu ia beguru juga kepada sejumlah ulama di Pantura seperti K.H. Muhammad Syahi di Kajen, K.H.R. Muhammad Shalih bin Asnawi di Kudus dan lainnya.

Dalam kitabnya yang berjudul Mursidul Wajiz, Kiai Sholeh Darat menjelaskan sanad keilmuan gurunya dan juga kitab-kitab yang ia kaji. Ia belajar kitab Fathul Qarib dan Fathul Wahab kepada al-Alamah KH Muhammad Syahid, Kajen, Pati. Lalu ia juga belajar Tafsir Jalalain kepada seorang alim KH Raden Muhammad Sholeh bin Asnawi Kudus, dan lainnya.

Mengembara Ke Mekkah

Selain untuk menuntut ilmu keberangkatan ke Mekkah juga untuk menghindari pengawasan Belanda setelah perang Jawa berakhir dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro. Ia tercatat pernah terlibat konfrontasi fisik dengan pasukan Belanda saat menuju pelabuhan.

Pada abad ke-19 menuntut ilmu langsung ke Mekkah memang menjadi tren ulama nusantara. Selain untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu kedatangan mereka ke Mekkah juga akan membangun relasi dengan para ulama dunia di pusat keagamaan Islam. Di Mekkah Sholeh Darat berguru kepada ulama yang berasal dari Nusantara maupun Timur Tengah.

Total 45 tahun Sholeh Darat menetap di Mekkah. Ia juga diangkat sebagai mufti yang membuat banyak ulama nusantara berguru padanya dan membuat namanya memiliki reputasi internasional.

Pages: 123
PesantrenDaQu

PesantrenDaQu