Dream DaQu 5 Benua

 

cerpenJumat Istimewa Robi

-------
PesantrenDaQu PesantrenDaQu3 bulan ago427

Robi terheran, sudah pukul 06.00 pagi tapi ayahnya belum bersiap pergi ke kantor, bahkan mandi pun belum. biasanya ayah Robi seusai subuh sudah sibuk berkemas. Tinggal jauh dari pusat kota memaksa ayah Robi berangkat agak pagi, bahkan tidak jarang saat hari mulai gelap untuk mengejar kereta. Bawa  mobil pribadi  sudah tidak menjadi pilihan ayah Robi, mengingat macet yang sangat di perjalanan.

Sambil menunggu roti bakar yang tengah disiapkan ibunya, Robi memberanikan bertanya, “Yah, kok belum berangkat?” yang ditanya pun langsung meletakan smartphonenya dan sambil tersenyum menjawab, “hari ini ayah libur, nanti ayah jemput Robi ke sekolah lalu shalat jumat bersama untuk selanjutnya beli hadiah untuk ulang tahun Robi”

“Apa? ayah libur?” tanya Robi heran. Kata libur adalah sesuatu yang jarang Robi dengar dari ayahnya. Kerja sebagai tenaga media di satu NGO membuat ayah Robi selalu sering berada di tempat kerja bahkan saat tanggal merah sekalipun. Lagi pula hari ulang tahunnya masih dua hari lagi.

“Iyah, besok Ayah ada tugas ke luar kota hingga 4 hari. Jadi kita majukan saya perayaan ulang tahun Robi yang berlangsung lusa. ok?”

“asyikkkk…” Robi menjawab antusias sambil memasukkan potongan roti bakar ke mulutnya.

Robi pun berangkat ke sekolah setelah mobil jemputan datang. Bila biasanya ia dituntun sang bunda, kini ayahnya mengantar sampai depan, untuk sekalian berpesan kepada supir Robi nanti akan dijemput langsung olehnya, jadi dia pulang tidak akan naik mobil jemputan.

Tepat pukul 11 siang bel pertanda pulang sekolah sudah berbunyi. Robi keluar kelas 2C dengan antusias. Di loby sekolah ia sudah menemukan ayah dan bundanya. Robi langsung mencium tangan kedua orangtuanya, lalu ketiganya menuju parkiran mobil untuk shalat jumat dan setelahnya makan siang kemudian mencari kado.

“Robi mau beli apa?” tanya Ayahnya tidak lama setelah masuk mobil. Robi memilih duduk di depan sementara bundanya di belakang. “aku mau robot, yah” jawabnya.

“Robot melulu, kan udah banyak” jawab bunda Robi dari bangku belakang.

Ayah Robi pun melihat spion tengah dan mengedipkan mata ke istrinya. Pertanda ia akan mengabulkan keinginan anaknya.

“Ok, kita akan beli robot. tapi sebelumnya kita ke masjid untuk shalat jumat sekaligus makan siang setelahnya” ujar Ayah Robi.

“Iya, yah” jawab Robi semangat.

Ayah Robi pun mengarahkan mobil ke masjid An-nur. Masjid yang berada tidak jauh dari sekolah Robi. Setelah menemukan tempat parkir, Robi turun menuju masjid bersama ayahnya. Sementara sang bunda menunggu di tempat makan yang berada di areal parkir.

Setelah wudhu, Robi mengikuti ayahnya ke dalam ruang utama shalat. Masjid itu tidak terlalu besar. keduanya memilih di baris kelima di sisi pojok dekat dinding. Adzan masih 10 menit lagi. Robi duduk saat ayahnya mengerjakan shalat sunnah. Tidak lama suara seorang pria terdengar dari pintu masuk, “Hey, Brother” yang disambut bunyi “dor… dor…”

Robi mengenali suara itu sebagai suara senjata. Tidak lama ia melihat seorang pria membawa senjata memasuki masjid tanpa melepas alas sepatu, sementara banyak orang berlari dan bersembunyi. PAda satu kesempatan mata Robi beradu pandang dengan pria bersenjata tersebut yang langsung melepaskan tembakan ke arahnya. Namun tangan besar menariknya dan langsung menindihnya. ternyata ayahnya yang berusaha melindungi Robi. Ia mendengar suara senjata api menyalak, ia merasakan tangannya kepanasan, yang disusul cairan hangat membasahi lengannya, yang ternyata darah.   Tidak lama kegaduhan berhenti. Suara senjata berganti dengan jeritan bercampur teriakan serta tangisan di segala sudut masjid. Dengan susah payah Robi membalikkan tubuh ayahnya. Darah segar masih mengalir di lengannya, tapi lebih banyak darah ia lihat di sekujur badan ayahnya. Robi menangkap wajah ayahnya yg menahan rasa sakit.

Robi memeluk ayahnya yang telah telentang “Yah, ayah. ayo kita shalat jumat, yah. Yah, bangun yah… banyak darah di tubuh ayah” Robi terus memeluk ayahnya meski darah juga masih keluar dari tangannya. Sambil menahan perih ia berbisik di tangan ayahnya, “Yah, jadi beli robot kan yah?”

 

Ditulis oleh: Syakib, terinspirasi dari teror penembakan di New Zealand

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu

Related Posts

{{ image }}

{{ title }}

{{ date }} {{ comments }}
{{ viewcount }}
{{ author }}
{{ image }}

{{ title }}

{{ date }} {{ comments }}
{{ viewcount }}
{{ author }}
{{ image }}

{{ title }}

{{ date }} {{ comments }}
{{ viewcount }}
{{ author }}