ArtikelBeritamalangtahfizh campKhotmil Quran Empat Santri Tahfizh Camp Malang

Mengenakan baju gamis berwarna putih dan kerudung hitam empat santri tahfizh camp Malang, Jawa Timur, Titania Kurnia Putri, Lubna Sari, Devi Nur Indah, dan Widya Farohatul Husna, terlihat lain dari biasanya. Keempat santri tersebut akan melakukan prosesi Khotmil Qur’an dihadapan para ustadzah dan orangtua sebagai tanda telah selesainya hafalan Alquran mereka, Sabtu (16/11). Mereka menyelesaikan hafalan dalam kurun waktu satu bulan terkecuali Widya Farohatul Husna yang telah selesai dalam tahun pertamanya di Tahfizh Camp Malang....
PesantrenDaQu PesantrenDaQu2 minggu ago135

Mengenakan baju gamis berwarna putih dan kerudung hitam empat santri tahfizh camp Malang, Jawa Timur, Titania Kurnia Putri, Lubna Sari, Devi Nur Indah, dan Widya Farohatul Husna, terlihat lain dari biasanya. Keempat santri tersebut akan melakukan prosesi Khotmil Qur’an dihadapan para ustadzah dan orangtua sebagai tanda telah selesainya hafalan Alquran mereka, Sabtu (16/11).

Mereka menyelesaikan hafalan dalam kurun waktu satu bulan terkecuali Widya Farohatul Husna yang telah selesai dalam tahun pertamanya di Tahfizh Camp Malang. Dalam waktu kurang lebih satu tahun, perjuangan mereka untuk menjadi keluarga Allah membuahkan hasil yang tidak sia-sia.

Titania Kurnia Putri menyelesaikan hafalannya pada bulan September, adapun Lubna Sari Siswanto menyusul di bulan bertikutnya. Sementara ketiga temannya menyiapkan prosesi Khotmil Qur’an, Devi Nur Indah Sari justru mengalami momen menegangkan, dia baru menyelesaikan setoran terakhirnya ba’da subuh sebelum prosesi Khotmil Qur’an dimulai.

Proses khotmil Qur’an diisi dengan hadroh yang ditampilkan oleh santriwati. Setelahnya orangtua bersiap menyimak menyimak bacaan putri-putrinyanya. Mereka akan membacakan surat Ad-Dhuha sampai dengan An-Nas dan dilanjut dengan tahlil secara bergantian. Kegugupan terlihat dari wajah mereka, sesekali bacaan mereka terhenti berusaha mengingat ayat demi ayat. Sementara para orangtua terkadang mereka menyeka air mata sambil menyimak bacaan mereka.

Begitu prosesi selesai, momen haru terjadi. Suara tangisan mulai terdengar memenuhi seisi ruangan, ketika keempat santriwati tersebut menghampiri orangtua masing-masing. Para santri lainnya pun ikut larut dalam kegembiraan ini. Disela-sela acara sebagai bentuk rasa syukur secara simbolis diadakan pemotongan tumpeng. Bukan perjuangan yang mudah, keempat santri mengaku butuh usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai titik ini. Meski berada di lingkungan yang mendukung tetap banyak ujian yang harus dilewati seperti yang dikatakan Titania agar tetap istiqomah dalam menghafal.

“Kita udah terlanjur menghafal, jadi lebih baik diselesaiin. Nanggung kalau setengah-setengah. Gampangnya, bayangin aja kalau kita ngafal setengah-setengah bisa jadi pahalanya setengah juga”, Ujar titania.

Sedangkan Lubna mengaku ini merupakan salah satu cita-citanya dan ini merupakan langkah awal untuk menggapai cita-citanya yang lain.

Lain halnya dengan widya yang niat awalnya hanya mengembalikan hafalannya yang sempat hilang, “Awalnya saya cuma mau balikin hafalan 10 juz yang dulu, tapi disini setahun masa saya mau diam aja. Jadi, yaudah akhirnya nambah dan bisa sampai kayak gini. Alhamdulillah sih, kalau gak disini kan belum tentu bisa”.

Devi justru awalnya tidak percaya diri bisa menyelesaikan hafalannya, dengan banyaknya dukungan membuat devi menjadi lebih yakin. ”Awalnya beneran gak yakin bisa selesai, tapi banyak yang dukung dan bilang pasti bisa bikin jadi semangat dan makin yakin”.

Dipenutup acara Ustadz Teguh menyampaikan bahwa ini adalah langkah awal mereka.”Ini baru awal, kita doakan semoga yang lain lebih semangat dan juga kedepannya mereka tetap bisa istiqomah dalam menjaganya”.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu