BeritaKegiatanPesantrenSharing Session IAIN Kudus di Pesantren Daqu

122 mahasiswa IAIN Kudus, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, semester 5 berkunjung ke Pesantren Tahfizh Daarul Quran dan mengadakan sharing session di area pohon jamblang, Selasa (26/11).
PesantrenDaQu PesantrenDaQu1 minggu ago77

122 mahasiswa IAIN Kudus, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, semester 5 berkunjung ke Pesantren Tahfizh Daarul Quran dan mengadakan sharing session di area pohon jamblang, Selasa (26/11).

Sharing session ini diawali dengan prakata dari Ustadz Syaiful Bahri, selaku pengasuh pesantren tahfizh Daarul Qur’an Ketapang. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa untuk dapat menguasai bahasa arab, dibutuhkan minimal 300 kosa kata. Dan prinsip di pesantren ini adalah,

“Lebih baik tahu sedikit kosa kata tapi bisa menempatkan dalam banyak kalimat daripada tahu banyak kosa kata tapi hanya bisa menempatkan dalam sedikit kalimat.”

Ditengah pemaparannya, Ustadz Syaiful Bahri menyelipkan satu kalimat dari Ustadz Yusuf Mansur, “Ustadz Yusuf Mansur menyampaikan bahwa pesantren ini bukan pesantren saya, melainkan pesantren wakaf, pesantren ummat, hanya saja amanahnya ditujukan kepada kami untuk mengelolanya.”

Usai prakata dari Ustadz Syaiful, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari para mahasiswa. Salah satu pertanyaan dari seorang mahasiswa, “Bagaimana cara membagi waktu antara menyiapkan setoran hafalan dan belajar formal ?” jawaban dari pertanyaan ini dipaparkan oleh Ustadz Rizki, “Daily activity kami bermula dari jam 3 pagi, diawali oleh sholat tahajud, dilanjutkan oleh sholat subuh, kemudian halaqoh pertama, usai halaqoh pertama, anak-anak sholat dhuha kemudian masuk belajar formal. Kemudian sore, anak-anak diwajibkan untuk rehat. Kenapa harus ada rehat ? supaya santri fresh ketika ngafal. Disini kami membagi grade tahfizh menjadi tiga bagian. Tahsin, tahfizh, dan sanad.”

“Tahsin adalah halaqoh yang diisi oleh para santri yang masih dalam tahap memperbaiki bacaan Al-Qur’an, halaqoh Tahfizh diisi oleh para santri yang mulai menghafalkan Al-Qur’an, dan Sanad adalah halaqoh masyayikh, halaqoh yang ditangani langsung oleh para syaikh. Dikhususkan untuk para santri yang telah menyelesaikan hafalannya 30 juz.”, ujar Ustadz Rizki menambahkan.

Di tengah sharing session, Ustadz Rizki bertanya pada salah satu mahasiswa semester 5 IAIN Kudus, “Apa tujuannya kuliah Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Kudus ?” Fiki Nur Indahyani, perwakilan mahasiswa menjawab, “Saya kuliah Pendidikan Bahasa Arab untuk lebih mendalami Bahasa Qur’an.”

Kemudian ada seorang mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, “Apa amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh Ustadz Yusuf Mansur ? Amalan-amalan yang mungkin boleh kita ikuti sebagai orang luar daqu.” Ustadz Rizki menjabarkan amalan ala Ustadz Yusuf Mansur, seperti sholat dhuha, sedekah, sholat qobliyah dan ba’dhiyah, puasa sunnah senin dan kamis, dan amalan-amalan yang lain yang tercatat dalam Daqu Methode.

Sharing session ini diakhiri dengan pemberian cinderamata dari Pesantren Daqu juga sesi foto bersama di lapangan Pesantren Daqu Ketapang.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu