BeritaKegiatanPesantrenMengenal Pancasila Bersama Gus Miftah

Selasa, 26 November 2019, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an kedatangan pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang biasa dikenal Gus Miftah.
PesantrenDaQu PesantrenDaQu1 minggu ago38

“Sejomblo-jomblonya kamu pasti akan berakhir, jika tidak di pelaminan yaa di pemakaman.”

“Eaaaaa….”, sahut seluruh santri setelah Gus Miftah menyampaikan quotesnya.

Selasa, 26 November 2019, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an kedatangan pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang biasa dikenal Gus Miftah. Bersama dua rekannya, Gus Miftah datang ke Masjid An-Nabawi Pesantren Daqu Ketapang, yaitu Sastro Al Ngatawi, budayawan yang juga mantan penasehat presiden Indonesia (alm) Abdurahman Wahid dan Irene Camelyn Sinaga, Direktur Pembudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk meluruskan persepsi para santri tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

“Lebih baik kehilangan masa muda dari pada kehilangan masa depan, sekarang adik-adik santri belajar Alquran, nanti saat adik-adik keluar pondok langsung diaplikasikan ilmu Alquran dan kehidupan yang pernah dipelajari di pondok.”, ujar Gus Miftah untuk memotivasi para santri untuk terus mondok.

Dengan gaya pembawaan yang asyik, diselingi candaan ala Gus Miftah, tak jarang para pendengar tertawa terbahak-bahak jika mendengarnya. Dan yang terpenting bisa membuat santri gak ngantuk dan gak tidur saat acara berlangsung.

Gus Miftah bercerita tentang bagaimana Pancasila disahkan menjadi ideologi negara. Menurutnya setelah Ir. Soekarno, Soepomo, M. Hatta, M. Yamin menyetujui Pancasila, Pancasila gak langsung disahkan, tapi dirujuk dulu ke KH. Hasyim Asy’ari di Jombang. Perjalanan menuju Jombang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim. Setelah mengetahui rujukan yang diberikan tentang dasar dan ideologi negara, KH. Hasyim Asy’ari menjalankan sebuah amalan, yakni puasa selama satu pekan dan istiqomah menjalankan qiyamullail sampai beliau merasa yakin dan kemudian beliau mengatakan; “Ini cocok untuk Indonesia.”

Tak lupa Gus Miftah bercerita tentang kisah ulama-ulama terdahulu. Gelar Syaikh dulu cuma untuk orang-orang yang sudah ahli. Misalnya Syaikh Soleh Darat karena ahli ilmu Qur’an. Beliau punya murid yang jadi Syaikh juga, bernama Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau diberi gelar Syaikh karena hafal Kutubus Sitah.

Lalu, Gus Miftah mengawali sesi tanya jawab dengan satu kalimat, “Ayo yang mau nanya, tak kasih 100 ribu.” Sontak, para santri rebutan untuk mengajukan pertanyaan ke Gus Miftah, hingga salah satu santri bertanya, “Gus, kan sila pertama bunyinya ketuhanan yang maha esa, kalau agamanya punya lebih dari satu Tuhan gimana ?”

“Ooo.. jadi gini, ada agama yang utama di Indonesia. Selama orang-orang kembali ke agamanya masing-masing, ini tentu gak akan jadi masalah. Jadi gak perlu ngurusin masalah orang lain dengan Tuhannya jika kita beda kepercayaan. Lakum diinukum waliyadiin.”, jawab Gus Miftah menanggapi pertanyaan dari seorang santri.

Setelah mendengar ceramah dari Gus Miftah, kemudian dilanjutkan dengan sholat ashar berjamaah. Para santri berjalan ke area pohon jamblang untuk belajar memaknai lagu bersama Gus Sastro. Kami sangat antusias dengan kegiatan ini. Disamping bisa nyanyi bareng Gus Sastro, kami bisa mendengarkan Gus Miftah menjelaskan makna dari lagu-lagu yang kami nyanyikan bersama.

Lebih-lebih di tengah kami nyanyi bareng, panitia bagi-bagi jajanan. Hmmmmm… nikmat…

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu