Artikeldaqu school semarangMimpi Membawa Mana Yokono Kembali Kunjungi Daarul Qur’an

Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Semarang dibuat heboh dengan kedatangan seorang tamu. Tamu itu berasal dari Jepang. Namanya Mana Yokono. Ia berusia 21 tahun. Ia sedang menempuh pendidikan di Konan University dan mengambil jurusan American Literature. Rumahnya dekat dengan kota Osaka, tepatnya di Himeji. Kedatangannya ke Daarul Qur’an Semarang merupakan yang kedua kalinya. Ada kisah menarik di balik kedatangannnya kali ini. Mana merupakan volunteer yang mengajar di Daarul Qur’an Semarang. Kecintaannya dengan anak kecil membuat ia...
PesantrenDaQu PesantrenDaQu1 minggu ago48

Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Semarang dibuat heboh dengan kedatangan seorang tamu. Tamu itu berasal dari Jepang. Namanya Mana Yokono. Ia berusia 21 tahun. Ia sedang menempuh pendidikan di Konan University dan mengambil jurusan American Literature. Rumahnya dekat dengan kota Osaka, tepatnya di Himeji.

Kedatangannya ke Daarul Qur’an Semarang merupakan yang kedua kalinya. Ada kisah menarik di balik kedatangannnya kali ini. Mana merupakan volunteer yang mengajar di Daarul Qur’an Semarang. Kecintaannya dengan anak kecil membuat ia begitu senang berada di sana. Tapi, itu adalah tugasnya tahun lalu. Sampai suatu saat ia bermimpi bertemu murid-murid Daarul Qur’an yang pernah ia ajarkan. Ia pun kembali untuk menjenguk dan bertegur sapa dengan mereka.

“Mereka senang bicara denganku. Mereka sangat baik. Itulah kenapa aku kembali lagi ke sini”, ujarnya berbahasa Inggris standar Asia di tengah riuh murid Daarul Qur’an yang berlarian pada jam istirahat. Sosoknya yang humble membuat para murid senang. Di tengah proses wawancara, seorang murid menghampiri dan bercengkrama dengannya. Ternyata hal tersebut yang membedakan murid di Indonesia dan Jepang. “Di Jepang mereka jarang lari-larian, tidak seperti di sini. Di sana kebanyakan dari mereka hanya duduk di meja dan mulai belajar”. Orang Jepang memang terkenal kaku.

Di mata Mana Indonesia merupakan negara yang nyentrik. Misalnya dari segi agama. “Di sini banyak sekali agama dan kepercayaan. Bagiku itu unik. Aku bisa belajar tentang agama-agama tersebut”. Seperti yang ada di sila ke tiga, Indonesia adalah negara persatuan.

Rupanya agama Islam yang menjadi mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia menarik perhatiannya. Kerudung sebagai pakaian seorang Muslimah untuk menutup aurat nampak apik dikenakan olehnya, meski ia bukan seorang muslimah. “Ini meggemaskan tapi susah memakainya”, katanya diikuti gelak tawa.

Sayangnya, di negara-negara tertentu muslim identik dengan teroris. Bagi Mana itu menyedihkan. Pengalamnnya bergaul dengan mayoritas muslim di Indonesia sama sekali tidak menggambarkan apa yang dituduhkan. “Mereka semua baik. Mereka memanggilku dengan sebutan “ibu” (mrs dalam Bahasa Inggris) dan itu sangat menyenangkan. Aku tidak percaya kalau mereka dituduhkan seperti itu”, ungkapnya.

Indonesia sangat berkesan bagi Mana. Ia sangat ingin mempelajari bahasanya. Selain itu, sama seperti Presiden Amerika Serikat ke 44, Barrack Obama, ia sangat menggemari salah satu hidangan khas Indonesia yakni sate ayam.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu