ArtikelBeritaCikarangKegiatanPusatBelajar Jurnalistik di Kumparan

“Kalau reportase, cukup melaporkan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Sedangkan explanatory, perlu lebih dari itu. Gaya tulisan ini bahkan mampu membuat pembaca merasakan keberadaan dirinya di lokasi tersebut.”,
PesantrenDaQu PesantrenDaQu7 hari ago46

Meski berusia muda media online Kumparan, telah mendapat kepercayaan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi yang cepat dan tepat. Dengan platform kekinian menjadikan pembaca betah berlama-lama beselancar mencari informasi terkini di Kumparan. Dengan maksud mendapatkan ilmu dan informasi bagaimana Kumparan menghasilkan berita dan dikelola, sebanyak 30 santri Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, yang terdiri dari 15 santri pria dan 15 santri perempuan, mendatangi kantor Kumparan yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (28/11).

Dengan mengenakan seragam batik berwarna orange yang menjadi ciri khas santri Pesantren Daqu tingkat SMA, para santri begitu bersemangat hadir dan aktif berinteraksi menanggapi nara sumber dari Kumparan yang memperkaya wawasan santri seputar penulisan berita dan konten kreatif ala millenial yang dikemas sedemikian rupa sehingga tidak membuat para user media sosial merasa bosan. Antusias untuk terus menggali ilmu nampak jelas pada raut wajah mereka. Bahkan ada yang sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada para nara sumber. Sebegitu tidak ingin kehilangan moment belajar ini.

“Sebuah cerita akan lebih mudah menyentuh hati pembaca, jika cerita itu dapat menyentuh emosi. Dan akan jauh lebih menarik lagi ketika cerita itu dapat menyelipkan solusi, menjawab berbagai macam pertanyaan orang tentang apa yang kita tuangkan dalam cerita.”, ujar Ikhwanul Habibie sebagai Kepala Peliputan Kumparan.com yang menjadi nara sumber pertama pada sharing session hari ini.

Dalam pemaparannya, Habibie juga menjelaskan titik perbedaan yang paling mencolok dari reportase dan explanatory. “Kalau reportase, cukup melaporkan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Sedangkan explanatory, perlu lebih dari itu. Gaya tulisan ini bahkan mampu membuat pembaca merasakan keberadaan dirinya di lokasi tersebut.”, ujar Habibie.

“Saat ini, orang lebih suka baca tulisan yang pendek. Simple tapi dapat menyentuh inti dari tulisan itu.”, ujar Habibie melanjutkan pemaparannya. Tak lupa, Habibie mengingatkan para santri bahwa dalam jurnalistik ada tiga point utama yang selalu memiliki keterkaitan dan setiap point tersebut masing-masing memiliki kekuatan, yaitu tulisan, foto, dan video.

Habibie kemudian bertanya kepada para santri, adakah santri yang hobi nulis, foto, atau video ? sontak para santi antusias merespon pertanyaan nara sumber dengan mengangkat tangan saat hobinya disebutkan. Usai memaparkan banyak point terkait penulisan konten, Habibie membuka sesi tanya jawab. Tidak sedikit santri yang mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh Habibie secara gamblang.

“Masyarakat sosial media itu bersifat dinamis dan to the point.”, ujar Anton William sebagai VP Marketing Kumparan.com yang pada hari ini menjadi nara sumber kedua.

Anton memberikan sebuah tips berharga dalam pembuatan video news untuk kemudian diupload di sosial media, usahakan jangan terlalu panjang. Cukup berdurasi 30 sec. Kenapa ? Anton juga memberikan alasannya, karena jika durasinya terlalu panjang, maka user media sosial akan bosan. Kembali lagi ke kalimat sebelumnya, bahwa masyarakat sosial media itu bersifat dinamis dan to the point.

Tak ketinggalan, Anton juga memberikan sebuah tips yang tidak kalah berharganya terkait bagaimana cara mengemas sebuah berita agar menjadi singkat namun tetap tersampaikan point utamanya. Gimana caranya ? Buat judul singkat tidak lebih dari 4 kata dan buat deskripsi tidak lebih dari dua kalimat.

Anton menutup sharing session hari ini dengan membuka sesi pertanyaan. Begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh para santri, satu diantaranya adalah “bagaimana cara mengatur sebuah konten atau materi menjadi rapi jarak uploadnya ?” Anton menjawab, “Jarak upload konten diatur oleh admin sosial media, biasanya sekitar 1 jam.”

Setelah semua pertanyaan terjawab, MC memberikan dua soal rebutan kepada santri Pesantren Daqu.

Pertanyaan pertama berhasil dijawab oleh Dirra Esya dari Daqu Cikarang dan pertanyaan kedua berhasil dijawab oleh Iqbal dari Daqu Ketapang. Keduanya mendapatkan reward dari kumparan.

Acara hari ini diakhiri oleh pertukaran cinderamata dari Pesantren Daqu dan Kumparan, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Usai runtutan acara sharing session hari ini, para santri diajak berkeliling kantor Kumparan dan berkenalan dengan beberapa pembagian unit di dalam Kumparan.

Semoga apa yang telah dibagikan oleh para nara sumber hari ini, bisa menjadi awal mula perubahan besar untuk Pesantren Daqu.

 

*foto by Kumparan

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu