ArtikelMendeteksi Berita Palsu

Banjir informasi tidak hanya membawa berita baik tapi juga berita palsu. Menjadi tanggung jawab kita sebagai pembaca memilah mana berita yang layak share atau tidak.
PesantrenDaQu PesantrenDaQu3 hari ago132

Sebuah tangkapan layar beredar viral di media sosial. Tangkapan layar tersebut berisi gambar ustad Yusuf Mansur dan judul berita yang terpotong, UYM: Sholat Dimonas Itu Dosa Karena Dianggap Riya, Semoga Para Alumni…

Langsung saja tangkapan layar ini beredar dengan banyak hujatan di status komentar seseorang yang mempostingnya. Terlebih tangkapan layar itu dibuat seakan ustad Yusuf Mansur mengkritisi acara Reuni 212 yang berlansung pada Senin, 2 Desember 2019.

Pertanyaannya apakah berita itu benar hingga layak disebar atau memang berita itu palsu dan sengaja dibuat untuk mengadu domba umat Islam.

Seperti biasa  lewat akun Instagram @yusufmansurnew, pendiri Daarul Qur’an tersebut menyanggah berita tersebut, “hehehe… Alhamdulillah saya GA PERNAH bc ini. Be the Santuyers… Be the Kalemers…. Sholluu ‘alannabiy”

Berita yang menyudutkan dan bahkan menyesatkan bukan kali ini dialami oleh ustad Yusuf Mansur. Pada masa kampanye pemilihan presiden beberapa waktu lalu banyak sekali beredar tangkapan layar yang seolah-olah ucapan ustad Yusuf Mansur yang dibuat untuk mendiskreditkannya. Tapi dengan gayanya yang santun dan kalem dai muda tersebut menanggapi dengan santai seolah tidak ingin menyiram bensin di tengah perdebatan media sosial yang memanas.

Berita palsu atau Fake News bukanlah fenomena baru tapi dengan perkembangan teknologi, smartphone, internet dan media sosial telah memberikan nyawa baru bagi pertumbuhan serta penyebaran berita palsu ini.

Berita ini biasanya sengaja  dibuat dengan fakta yang tidak akurat dan diterbitkan untuk menggarisbawahi sudut pandang tertentu serta mengarahkan banyak pengunjung ke situs web.

Ketika institusi media tradisional harus bersaing dengan media sosial dalam menyebarkan informasi maka tanggung jawab untuk memilah suatu informasi itu palsu atau tidak ada pada pembaca, yang sayangnya banyak dari kita tidak punya sumber daya untuk melakukannya.

Era Post -Truth

Kantor berita BBC, melaporkan pada tahun 2016 kamus Oxford menetapkan kata post-truth sebagai international word of the year dimana selama tahun tersebut intesitas politik yang terjadi tinggi. 

Post-truth dapat didefinisikan dengan kondisi atau situasi dimana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan pribadi lebih tinggi dibandingkan fakta dan data yang objektif dalam membentuk opini publik. Sehingga banyak oknum dari mulai tokoh politik hingga buzzer yang menggunakan kelemahan masyarakat untuk dapat mengenali kebenaran demi mencapai kekuasaan.

Bagaimana Mengenali Berita Palsu?

Setidaknya ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui sebuah berita itu palsu atau tidak, diantaranya:

1) Cari tahu tentang sumbernya. Lihatlah situs web tempat cerita berasal untuk melihat apakah cerita tersebut disajikan dengan baik, apakah gambarnya jelas, dan apakah teksnya ditulis dengan baik dan tanpa kesalahan ejaan atau bahasa yang berlebihan. Jika Anda tidak yakin, coba klik pada bagian “tentang kami”, dan periksa bahwa ada garis besar yang jelas menjelaskan pekerjaan organisasi dan sejarahnya.

2) Lihatlah penulisnya. Untuk memeriksa apakah mereka nyata, dapat diandalkan, dan “dapat dipercaya”, cari karya lain yang telah mereka tulis. Jika mereka belum menulis apa pun, atau jika mereka menulis untuk situs web yang meragukan, pikirkan dua kali untuk memercayai apa yang mereka katakan.

3) Periksa bahwa artikel tersebut berisi referensi dan tautan ke berita, artikel, dan penulis berita lainnya. Klik tautannya dan periksa apakah tautannya dapat diandalkan dan dapat dipercaya.

4) Jika yang ditemukan berupa gambar maka Anda bisa mengetahui gambar tersebut berisi informasi yang benar atau tidak dengan cara mengunggah gambar ke situs Google Reverse Image Search dan Anda akan melihat semua halaman web lain yang memiliki gambar serupa. Ini kemudian memberi tahu Anda situs lain di mana gambar telah digunakan – dan jika gambar tersebut digunakan di luar konteks.

5) Lihat apakah cerita yang Anda baca sedang dibagikan di media arus utama lainnya, seperti Republika, Kumparan, Detik, Tempo dan lainnya.  Jika ya, maka Anda dapat merasa lebih yakin bahwa cerita itu tidak palsu.

Terakhir, sangat penting untuk menghindari berbagi cerita yang Anda tidak yakin. Jika Anda ragu apakah itu nyata atau palsu, diskusikan dengan teman atau anggota keluarga untuk mengetahui pendapat mereka tentang cerita tersebut.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu