id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Annan Missoh Akan Bawa Metode Tahfizh Daarul Qur’an Ke Thailand

“Ketika anak-anak diasuh oleh penghafal Al-Qur’an, maka mereka akan menjadi seorang penghafal Qur’an.” tutur Ustadz Tarmizi Ashidiq mengawali sharing session bersama Annan Misoh, Pengasuh Ma’had Al-Ulum Addiniyah Pohontanjong Ruso, sebuah lembaga pendidikan di Pattani, Thailand Selatan, pada Kamis, (9/1) di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Cipondoh, Ketapang, Tangerang.

Dalam sharing session kali ini Ustadz Tarmizi didampingi oleh Ustadz Daarul Qutni dan Ustadz Sholehuddin.

Maka, keberadaan penghafal Qur’an untuk mengasuh anak-anak ini amat sangat diperlukan. Namun tidak hanya berhenti sampai pada titik pencarian pengasuh bagi anak-anak saja, metodenya pun sangat perlu diperhatikan. Mengingat banyak sekali metode-metode yang bisa diterapkan untuk anak-anak dalam menghafal Qur’an.

“Kami membuat pola tahfizh menjadi lebih ringan, sehingga orang-orang, terutama anak-anak tidak scary dengan mendengar kata tahfizh. Bahkan hingga saat ini di Indonesia sudah sangat banyak lembaga-lembaga pendidikan yang menambahkan tahfizh dalam sistem pembelajarannya, jadi sekolah berbasis tahfizh. Dengan ini, para orangtua semakin mencari lembaga pendidikan yang berbasis tahfizh untuk putra-putrinya, baik pesantren maupun sekolah fullday. Dan Daarul Qur’an memiliki keduanya.”, tutur Ustadz Tarmizi.

Satu diantara pola tahfizh yang diterapkan di Daarul Qur’an adalah metode menghafal Qur’an melalui audio. Pola pembelajaran ini memberikan waktu kepada anak didik untuk dapat mendengarkan audio murattal yang distel oleh guru tahfizh. Audio murattal ini menyesuaikan surat apa yang tengah dihafalkan oleh anak didik. Tidak hanya itu, audio murattal ini juga menyesuaikan jumlah ayat yang ada dalam surat tersebut. Dalam sehari, satu ayat ini diulang-ulang beberapa kali, sehingga anak-anak menjadi hafal dengan terbiasa mendengar ayat tersebut.

Sharing session ini berjalan dengan sangat rileks. Tidak hanya membahas program tahfizh secara mendalam, tapi juga mengupas jejak perjalanan Daarul Qur’an dalam mengajak masyarakat untuk menghafal Qur’an.

Ditengah sharing, Ustadz Tarmizi sedikit mengangkat cerita awal perjalanan Daarul Qur’an dalam mempopulerkan gerakan menghafal Qur’an, “Daarul Qur’an sudah menjalani gerakan ngafal Qur’an ini selama 14 tahun, hingga kini di Indonesia tidak asing lagi mendengar kalimat menghafal Qur’an. Berawal dari gerakan wisuda akbar yang bertempat di Gelora Bung Karno, Daarul Qur’an mengajak masyarakat Indonesia untuk menghafal empat surat pilihan dalam AL-Qur’an; yaasin, al-mulk, ar-rahman, dan al-waqi’ah. Begitulah cara kami membuat menghafal Qur’an menjadi tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya di Indonesia.”

Annan Missoh berencana membuat kerjasama dalam program pertukaran pelajar di Pattani, Thailand, yang langsung disambut dan disetujui oleh Ustadz Tarmizi.

“Saya setuju jika ada empat santri kami, dua putra dan dua putri yang berangkat ke Thailand guna mempopulerkan gerakan menghafal Al-Qur’an disana. Bergantian dengan empat siswa dari sana yang berangkat ke Daarul Qur’an untuk terjun langsung dalam mempelajari berbagai metode yang kami terapkan dalam menghafal Qur’an.”, ujar Ustadz Tarmizi.

“Pertukaran pelajar ini tidak harus di jenjang perguruan tinggi, tidak harus diperuntukkan bagi mahasiswa idaqu, tapi juga santri-santri dan alumni pesantren daqu yang berkompeten dalam bidang tahfizh.”, ujar Ustadz Daarul Qutni, kepala sekretariat Daarul Qur’an, yang juga hadir dalam pertemuan ini.

Disamping itu, Annan Misoh juga berniat untuk mengadopsi sistem pembelajaran yang telah diterapkan di Daarul Qur’an.