BeritaPesantrenKH. Hasan Abdullah Sahal: Pesantren Makin Mendunia

Pertemuan anggota Forum Pesantren Alumni (FPA) bersama KH. Hasan Abdullah Sahal kali ini dilaksanakan di kediaman Alm. KH. Ahmad Rifa’i Arief yang berlokasi di dalam Pesantren Daar el Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang, Ahad (12/1).
PesantrenDaQu PesantrenDaQu2 minggu ago272

“Tidak ada thariqah yang paling baik diantara semua thariqah.”, ujar KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pesantren Modern Gontor mengawali pembicaraan dalam pertemuan anggota Forum Pesantren Alumni (FPA) yang pada kali ini dilaksanakan di kediaman Alm. KH. Ahmad Rifa’i Arief yang berlokasi di dalam Pesantren Daar el Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang, Ahad (12/1).

Pertemuan anggota FPA kali ini dihadiri oleh sejumlah kyai-kyai alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo yang tengah berkhidmat di Pesantren Darunnajah, Daar el Qolam, juga Daarul Qur’an.

“Masing-masing pesantren punya thariqah, dan itu tidak patut dibanding-bandingkan. Kenapa? Karena setiap yang punya kelebihan, pasti juga punya kekurangan. Begitu pula dengan thariqah. Tidak ada thariqah yang sempurna.” ujar KH. Hasan dengan tegas. “Siapa nanti yang menyempurnakan kekurangan itu? Ya masing-masing guru pengajarnya itu sendiri.” jelas KH. Hasan menambahkan penjabarannya.

Tergambar betapa pentingnya kaitan antara metode belajar dengan guru sebagai pengajarnya. Tidak ada thariqah yang dapat berjalan tanpa adanya yang menjalankan dan dalam hal ini, yang menjalankan metode tersebut adalah guru.

KH. Hasan membahas betapa pentingnya peran pesantren pada saat ini, “Bukan pesantren yang berperan untuk menjaga para alumninya, tapi justru para alumnilah yang berperan menjaga pesantren-pesantrennya.”

Beliau sedikit menggali cerita terkait bagaimana perbedaan keadaan pesantren pada masa lalu dan masa kini. Beliau menyebutkan bahwa pesantren pada masa lalu terdengar begitu asing di telinga masyarakat, namun saat ini pesantren justru dicari oleh masyarakat, bahkan menjadi pilihan utama untuk para orangtua yang tengah mencari sekolah terbaik untuk anaknya.

Semakin hari, semakin bertambah jumlah pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Juga semakin berkembang pula manajemen pesantren-pesantren di negara ini.

“Dulu, denger anak-anak bilang sekolah di pesantren ketika ditanya, itu bawaannya kasihan. Kenapa kasihan? karena dia harus sekolah jauh dari orangtuanya. Sekarang, denger anak-anak sekolah di pesantren tuh rasanya bangga. Kenapa bangga ? karena dia bisa belajar banyak hal dengan tinggal di pesantren. Iya, toh ?”

Pun betapa sulitnya menemukan alumni pesantren di kalangan masyarakat pada zaman dulu. Yang saat ini alumni pesantren begitu banyak tersebar luas di berbagai penjuru di belahan dunia. Bahkan sering kali, saat kita bertemu dengan orang-orang baru, orang-orang yang belum kita kenal, setelah ngobrol panjang dan hingga akhirnya tahu bahwa orang itu alumni pesantren, bahkan satu pesantren dengan kita.

“Pesantren kini semakin mendunia.”, ujar KH. Hasan.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu