ArtikelKegiatanStudy Banding OSDAQU Story Part 2: Have Fun at Pangandaran

Kami sengaja berangkat sedini mungkin karena sunrise di Pangandaran sangat indah untuk dinikmati.
PesantrenDaQu PesantrenDaQu3 minggu ago133

Aku terbangun kala rombongan bis sampai di pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Tak banyak yang bisa diceritakan sejak keberangkatan kami dari Pesantren Darussalam, Tasikmalaya, pukul 01.00 WIB dini hari tadi. Seluruh penumpang bis asyik dengan mimpinya masing-masing.

Kami sengaja berangkat sedini mungkin karena sunrise di Pangandaran sangat indah untuk dinikmati. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana. Sesaat setelah sampai kami bergegas melaksanakan Sholat Shubuh berjamaah di sebuah masjid yang tak jauh dari tempat parkirnya bis.

Aku bisa mendengar Adzan bersahut-sahutan. Angin dingin menyelimuti ditambah hiasan dari siluet perahu yang berjejer rapih di bibir pantai. Indah suasana di subuh itu, meski jarak pantai yang kami kunjungi tergolong jauh.

Musyrif angkatan kami, Ust. Harisin, mengumumkan bahwa kami bisa menikmati Pantai Pangandaran sampai pukul 13.00 WIB. Kami bersorak dan lekas bubar untuk mencari tempat menikmati sunrise.

Aku menemukan spot yang bagus. Kamera yang sedari tadi ku bawa kini mulai membidik. Aku dan teman-teman berlenggak-lenggok membentuk beberapa pose hingga akhirnya lelah menghampiri.

Kamera ku serahkan pada mereka dan segera pergi untuk menikmati seporsi bubur ayam dengan teh hangat. Tapi apadaya, belum 1 menit bubur dihidangakan teman-temanku datang untuk menggilasnya. Alih-alih menikmati, aku lebih memikirkan berapa banyak bubur yang bisa diselamatkan untuk perutku.

Pantai pasir putih jadi destinasi berikutnya. Sekitar 5 menit untuk mencapai pantai itu menggunakan perahu yang banyak disewakan. Pemandangan alam dan bahari yang indah membuat pantai ini cocok dijadikan spot foto. Jangan khawatir, di sana juga ada penyewaan alat-alat snorkeling.

Ada satu hal yang unik. Di sana ada sebuah kapal yang tenggelam namun hanya setengah badan. Dari informasi yang ku dapat, itu adalah kapal nelayan Nigeria yang mengkap ikan secara illegal di perairan Indonesia. Pemandangan itu bisa jadi bahan edukasi bagi generasi muda.

Sesuai kesepakatan, sebelum jam 13.00 WIB kami bergegas untuk membersihkan diri dan sholat Dzuhur. Bis adalah tempat istirahat paling nikmat yang kami rasakan sebelum tiba di lokasi berikutnya, Bandung.

Bersambung….

 

Oleh: Syahda Aqila Syakir, Klelas XI

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu