BeritaBerita TahfidzKegiatanPesantrenDaurah Qur’an Bersama Syaikh Jaarullah

Daurah Qur'an bertema “Barnaamij Istiqab Al-Mumayyiziina minal Haafizhiina wal Haafizhaat fii Al-Madinah Al-Munawwarah” ini dihadiri sejumlah guru tahfizh Pesantren Daqu Putri
PesantrenDaQu PesantrenDaQu2 minggu ago108

Bertempat di Gedung Al-fath, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ketapang, dilaksanakan daurah Qur’an bersama Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Jaarullah yang didampingi oleh Syaikh Dr. Abdullah bin Ali Zaid Al-Ghaili dan Ustadz Hamzah Arafah sebagai penerjemah, daurah ini mengangkat tema “Barnaamij Istiqab Al-Mumayyiziina minal Haafizhiina wal Haafizhaat fii Al-Madinah Al-Munawwarah” yang artinya; “Kegiatan-kegiatan yang Sangat Menarik untuk Para Haafizh dan Haafizhah di Madinah Al-Munawwarah”.

Syaikhah Fatimah dan Syaikhah Asma, pengajar Qur’an asal Yaman di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Putri Cikarang juga hadir pada daurah ini.  Turut hadir pula sejumlah guru tahfizh dari Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Shigor putri, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Putri Cikarang, juga Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Takhassus Putri, serta beberapa santri terbaik dalam bidang tahfizh. Hadir pula Ustadzah Yeni Khairani pada daurah ini mewakili Muslimah Daqu.

“Ini merupakan kesempatan emas bagi kita semua, untuk teman-teman semua yang hadir pada daurah hari ini sehingga bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar secara langsung bersama Syaikh Dr. Abdullah Jaarullah.”, ujar KH. Ahmad Jamil membuka dauroh pada Kamis (5/3).

“Sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang sering kita dengar, Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu.”, ujar Syaikh Jaarullah memulai paparannya dalam dauroh ini. “Khair yang didapat dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an ini adalah khair yang sempurna, yakni khairiyyatuddiin wa khairiyyatuddunya, khair dalam urusan agama dan khair dalam urusan dunia. Maksudnya, adalah kebaikan di dunia dan akhirat.”

Dalam daurah Qur’an ini, Syaikh Jaarullah tidak bermaksud untuk menjelaskan secara gamblang terkait keutamaan membaca Qur’an, beliau ingin mengenalkan kepada peserta daurah Qur’an hari ini bahwa ada begitu banyak kegiatan untuk para hafizh dan hafizhah yang diselenggarakan di Madinah Al-Munawwarah. Mengingat kegiatan ini berlangsung selama satu bulan full, maka peserta kegiatan ini menjalani karantina dengan mempersilahkan para hafizh dan hafizhah menyetorkan hafalannya untuk kemudian mendapatkan sanad. Peserta dalam kegiatan ini masing-masing memiliki satu guru, sehingga bisa intens dalam menyetorkan hafalannya.

Disamping menyetorkan hafalan, para peserta dalam kegiatan ini juga dapat memperbaiki makhraj. Kegiatan yang sengaja diadakan untuk para hafizh dan hafizhah ini bermaksud menjadi wadah pembelajaran bagi para hafizh dan hafizhah.

Lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang karantina, diantaranya buku dan tas. Tidak hanya berfokus pada pembetulan bacaan Qur’an dan muraja’ah saja, karantina ini juga diisi dengan diskusi bersama para syaikh dan syaikhah. Juga ada rihlah tarbawiyah, seperti ke museum-museum bersejarah, museum Al-Qur’an di Madinah, sejumlah masjid, dan tempat-tempat lainnya.

Syaikh Jaarullah menyebutkan bahwa ada salah satu santri Daarul Qur’an asal Bandung yang telah menjadi salah satu peserta karantina di sana hingga mendapatkan sanad. Muhammad Syaddaad, Namanya. Syaddaad ini menjadi salah seorang yang mendapatkan keberkahan dari Syaikh Makki.  Mengapa demikian ? karena Syaikh Makki ini merupakan salah satu syaikh yang sangat sibuk, sehingga begitu sulit ditemukan ditengah kesibukannya mengurus urusan ummat. Namun, Syaikh Makki rela meluangkan waktu dapat menghadiri dan memberikan secara langsung ijazah sanad untuk Syaddaad.

Ustadz Hamzah Arafah mengemukakan, “Semoga kelak ada salah satu atau beberapa dari kami yang kelak menjadi bagian dari program karantina tersebut”. Pernyataan ini menjadi doa bagi semua peserta daurah hari ini yang sontak mengaminkan kalimat yang dikemukakan olehnya.

“Ada sebuah buku berjudul “Atsaru at-tajwiid fii tadabburil Qur’an”, yang artinya “Pengaruh Tajwid dalam Mentadabburi Al-Qur’an” ditulis oleh Dr. Lasim bin Hamdi Sayyid.”, ujar Syaikh Jaarullah.

Melalui adanya buku tersebut, Syaikh Jaarullah berharap bahwasanya tajwid tidak hanya dipelajari kemudian dipraktekkan saat membaca Al-Qur’an saja, tapi juga menjadi perantara atau washilah untuk meningkatkan pemahaman kita semua dalam mentadabburi Al-Qur’an.

Daurah hari ini ditutup dengan tiga ustadzat dan satu santri terbaik dalam bidang tahfizh yang diminta Syaikh Jaarullah untuk mentilawahkan ayat suci Al-Qur’an di hadapannya, diantanya Ustadzah Hasanah, Ustadzah Masyitah, dan Ustadzah Maha Hamja, dan Syifa’ul Alam.

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu