id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Sebuah pesan whatsapp berisi statement Walikota Bogor, Bima Arya, tentang virus corona beredar Selasa (24/3/2020). Bima Arya yang dinyatakan positif terjangkit virus tersebut berujar pemberitaan masif terkait virus corona di media sosial bisa membuat seseorang drop, yang berujung penurunan imunitas.

“Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernapasan dan paru-paru. Gua merasa baikan setelah ‘social media distancing’ hari kedua di RS. Sosmed itu ICU Raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita COVID-19. Drop imunitas,” katanya. Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim membenarkan pernyataan Bima Arya. “Betul. Confirmed”, sebut Dedie. Dedie menyebut pernyataan itu boleh diberitakan.

Apa yang dikatakan Bima Arya layaknya buah simalakama. Niat hati memberikan informasi justru membuat orang semakin panik.

Sebuah studi menyebutkan bahwa semakin banyak kita memperoleh informasi tentang jumlah korban suatu bencana atau berita sejenis justru membuat seseorang berpotensi mengalami hypervigilance. Hypervigilance adalah sikap waspada berlebihan disertai dengan kecenderungan perilaku siap siaga untuk mencegah bahaya. Sikap waspada berlebihan membuat orang-orang hypervigilant selalu merasa dan bertindak seolah-olah selalu ada ancaman di sekitarnya.

Sikap terlalu waspada ini bisa menimbulkan sejumlah masalah. Mulai dari masalah emosional pada diri sendiri, sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, hingga jadi sulit berpikir jernih. Jika emosi tak terkendali maka imunitas tubuh akan menurun.

Kita dituntut bijak dalam menyikapi pemberitaan yang ada. Untuk menghindari dampak negatif tersebut lebih baik sebuah informasi, terutama tentang jumlah korban, dampak dan efek negatif lain, dari pandemik ini hanya  dijadikan sebagai informasi untuk menambah kewaspadaan, bukan untuk disebarkan. Biarkan pemerintah dan pihak berwenang sebagai pusat informasi. Lebih baik lagi kalau kita menyebar informasi tentang langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah virus ini menjangkit tubuh, atau informasi positif lainnya.

Fenomena kepanikan memang wajar terjadi. Sekelas negara-negara di Eropa sendiri pada awalnya panik ketika menghadapi virus ini. Seperti dikisahkan oleh pengamat sepakbola, Justinus Lhaksana, yang pernah 20 tahun tinggal di Belanda dalam video di kanal youtubenya yang diupload 2 Maret 2020 lalu. “Kalian harus tau kenapa orang Eropa mungkin menurut kita sedikit parno ya, terutama Eropa barat ya. (Contohnya dalam dunia sepakbola) mereka mengambil percussion buat berenti, berenti, berenti”. Hal tersebut karena di sana dengan segala kemajuannya tidak terbiasa menghadapi pandemik seperti ini. Sekali lagi, yang terpenting, menurut Justin, adalah tetap waspada.