ArtikelInspirasi di Tengah Bencana

"Ini perkara sumpah yang gue ambil. Dokter. Gue akan jaga kawan-kawan gue di garda IGD. Meski nyawa gue taruhannya. Followers, harta, popularitas, itu sementara"
PesantrenDaQu PesantrenDaQu51 menit ago5

Turning Point atau titik balik dari sebuah kegagalan adalah hal yang harus disyukuri. Itulah yang selalu ditanamkan dr. Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta.

dr. Tirta lahir di Surakarta, 30 Juli 1991. Sekilas penampilannya sangat grassroots, awut-awutan. Tato setengah badan hingga rambut yang di cat tak nampak layaknya seorang dokter. Itu tak terlepas karena lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini pernah merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Ia pernah tidur di pelataran ruko dan berkawan dengan anak punk, kuli bangunan, dan teman jalanan lainnya. Namun siapa sangka, dari situ ia banyak belajar. Hidayah pun datang kepadanya di tahun 2013 untuk memeluk Agama Islam.

Selain dokter, ia juga sukses di beberapa bidang usaha, yang paling terkenal adalah usaha cuci sepatu Shoes and Care. Soal kerugian dalam berbisnis jangan ditanya, di awal merintis usaha reseller sepatu, tanpa uang cash sepeser pun, ia dihadapkan pada kerugian puluhan juta. Hidup keras itu yang membentuk karakternya. Sosoknya yang dikenal suka ngegas ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Vakum praktek dokter karena sakit yang diderita tak menghalangi langkahnya turut berjuang mencegah penyebaran virus corona. Kisahnya ia bagikan dalam akun twitternya @tirta_hudhi. Berikut cuitan selengkapnya.

“Gue lagi rehat sejenak. Maleman kliling lagi. Kenapa gue mati-matian? Gue akan cerita dikit alesan gue skrng mati-matian mencegah penyebaran infeksi covid

Usia 8 tahun gue terinfeksi TBC. Penyakit tbc adalah endemik d indo. Kematian dan jumlah kasus di Indo sangat tinggi. Penyebaran airbone disease. Gue. 8 tahun tertular TBC temen gue yang batuk di depan gue

Gue harus ikut program 6 bulan, ternyata gagal, ditambah ekstra 4 bulan. Baru sembuh. Total 10 bulan. Penyembuhan. Dan gue diprediksi abis itu divonis jadi orang yang “sakit-sakitan”

Paru-paru gue gambarannya selalu “flek” sembuh setelah program. Setelah penyembuhan tb, gue kena berbagai macam penyakit pernafasan. Faringitis. Laringitis. Tonsilitis. Bronkitis. Dan sinusitis. Ini sampai SMA

Tapi itu ga menghalangi prestasi akademik. Gue di sekolah menyabet siswa teladan, di SD, SMP, dan SMA gue mewakili Solo untuk olimpiade matematika. Ketika graduasi, gue penampilan band, tapi gue opnam karena kecapekan. Kena dbd + sinusitis

Gue memutuskan masuk dokter, selain karena standar tertinggi, gue pengen buktiin, dari SMA swasta gue bisa tembus ugm. Gue tembus fakultas kedokteran ugm.

Selain fk ugm, gue keterima juga jalur prestasi di fk undip. Gue lepas. Karena gue penasaran dengan Jogja.

Di Jogja gue berkembang. Gue jadi pengusaha, nemuin @shoesandcare, muallaf, dan lulus cumlaude

Karena skripsi gue kelar di semester 6, dan bagus, prof Iwan dan dr. Jarir ingin memberi beasiswa gue as peneliti ke belanda. Disinilah peran prof Iwan bagi gue

Gue menolak beasiswa, karena gue udah ada @shoesandcare dan gue pengen bergerak di IGD

Stelah 1.5 tahun koas, gue lulus, gue bekerja di rs UGM dan puskesmas turi. Jadi dokter IGD + dokter jaga. Dan nyambi @shoesandcare. Selama ini, gue sakit sebulan sekali. Db 1x tipus 1x, dan akhirnya 2018 gue kena bronkitis kronis

Gue memutuskan memilih rehat menjadi dokter IGD, dan berjuang demi @shoesandcare untuk anak buah gue yang separonya anak jalanan. So. Mulailah gue berjuang as dokter edukasi + pengusaha

Sedih memang. Tapi kalo gue memaksa praktek + pengusaha, gue akan mati muda haha. Disinilah ketika gue ngajar di fk ugm jadi dosen tamu, gue bertemu lagi dengan prof Iwan

Prof Iwan bilang ‘jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri’

Lanjut, prof Iwan nasehatin “tabunglah uang dari usahamu, berjuang, naekkan derajat tenaga medis, amankan pasien, buat rs! Siapa tau kamu bisa!”

Gue angguk. Dan gue janji ketika rs gue jadi, gue mau pamer ke beliau

Singkat cerita 1-2 minggu lalu gue dapet kabar prof Iwan kena infeksi corona. Disitulah gue mati-matian, gue ga mau liat temen gue, tenaga medis, down, gue berjuang. Beli masker sendiri, cari apd sendiri, dan akhirnya gue di undang BNPB.

Gue akhirnya mengkoordinasi semua sumbangan influencer, membuat program untuk membantu mengurangi rate infeksi covid 19 di Jakarta dan Indonesia

Gue ga dikasih biaya, gue pake duit gue sendiri, dan tiba-tiba @kitabisacom akhirnya memutuskan bantu gue.

Program gue dan relawan dibantu Fatur ex presma ugm ada :

  1. Memasang 1000 disinfection chamber di jkt
  2. MembaGI APD bagi temen temen medis di faskes
  3. Memberikan nutrisi bagi tenaga medis
  4. Edukasi Phbs (hidup bersih sehat) ke rakyat
  5. Memastikan Amannya SOCIAL DISTANCING

Gue bergerak, 14-15 jam sehari. Kadang 20 jam. Capek. Tapi gue semangat. Ini sumpah gue.

Dan tiba-tiba gue denger kabar kalo prof Iwan meninggal. Gue saat itu lagi wawancara bareng @GENFM_jkt. Gue nangis ketika wawancara. Gue down. Mood gue brantakan saat itu. Karena beliaulah, yang membuat gue seperti ini

Akhirnya gue memutuskan, meneruskan legacy beliau. Gue akan bantu sebisa gue. 100/200/300 rs. Mau gue sampe sakitpun, gue ga peduli. Negara ini butuh bantuan

Jika angka infeksi ga bisa ditekan, Indonesia bisa krisis corona sampe Juni. Dan ini bahaya. Satu-satunya cara, ya menekan angka infeksi. Disinilah peran relawan

Covid 19 80% ringan dan 20% fatal. But, sangat mudah menyebar. Dan jujur karena sakit cepatnya, jumlah pasien ga seimbang ama rs nya

Selama angka infeksi tinggi, gue ga akan berhenti berjuang. Makasih @kitabisacom dan @dompetdhuafaorg sampe titik darah penghabisan. Gue akan lawan ini virus.

Ini sumpah dokter. Perkara uang gue dah settle. Toko gue udah puluhan. Bisnis gue banyak. Jika gue kenapa-kenapa, tugas gue di dunia pun udah selesai sejatinya

Ini perkara sumpah yang gue ambil. Dokter. Gue akan jaga kawan-kawan gue di garda IGD. Meski nyawa gue taruhannya. Followers, harta, popularitas, itu sementara. So, itulah alesan gue ngegas. Sampe salah ngomong di ILC kemaren

Sebelumnya gue mengucapkan belasungkawa kepada @jokowi karena ibunda beliau wafat”

 

Foto: genpi.co (cover), seleb.tempo.co, hipwee.com

PesantrenDaQu

PesantrenDaQu