id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Mulai Senin (30/3), Pemerintah Kota Moskow memberlakukan karantina untuk seluruh warganya tanpa batasan usia. Orang-orang hanya diizinkan meninggalkan rumah untuk mendapat bantuan medis darurat, berangkat kerja, berbelanja di toko atau apotek terdekat, membuang sampah, dan menemani jalan binatang peliharaan dengan jarak tidak melebihi 100 meter dari rumah. Bagi siapa pun yang hendak meninggalkan rumah diminta untuk menjaga jarak, setidaknya 1,5 meter antara satu sama lain.

Menurut laporan kantor berita RIA Novosti yang dikelola pemerintah, warga biasa harus membayar denda 15.000 – 40.000 rubel (sekitar Rp3 juta – 8,2 juta) karena melanggar karantina, sementara pejabat 50.000 – 150 ribu rubel (sekitar Rp10,2 juta – 30,7 juta). Namun, jika mereka terbukti menularkan penyakit dan menyebabkan kematian orang karena pelanggaran itu, maka denda yang dikenakan masing-masing adalah 150.000 – 300.000 rubel (sekitar Rp30,7 juta – 61,6 juta) untuk warga biasa dan 300.000 – 500.000 rubel (sekitar Rp61,6 juta – 102,5 juta) untuk pejabat.

Aturan ini juga berdampak pada kegiatan di beberapa kampus yang ada di Rusia. Seperti kampus kami, Far Eastern Federal University, yang ada di kota Vladivostok. Di kota ini memang tak separah di Moscow dan belum melakukan karantina wilayah, namun sebagai langkah antisipasi, per tanggal 23 Maret kemarin kampus kami sudah memberlakukan sistem belajar online. Orang-orang pun mulai berdiam di rumah. Bis kota yang biasa dipakai menuju kampus juga tampak lengang, sama seperti tempat umum lainnya. Sebagai pelajar kami harus siap dengan stok bahan makanan untuk beberapa minggu ke depan.

Sementara itu, mahasiswa yang berasal dari negara China sudah tidak bisa kembali ke Rusia dari bulan Februari lalu karena pemerintah telah menghentikan penerbitan visa pada mereka juga warga negara Iran. Pemerintah Rusia juga menghentikan semua penerbangan internasional mulai Jum’at (17/3). Menurut Asosiasi Operator Tur Rusia, wisatawan-wisatawan asing bahkan telah menghentikan pemesanan tur ke Rusia untuk musim panas mendatang. Kerugian yang diderita imbas terhambatnya pemasukan dari sektor pariwisata mencapai lebih dari 500 juta rubel (sekitar 102,5 miliar rupiah). Namun langkah ini diambil untuk keselamatan bersama.

 

Oleh: Aisyah Sholeh, Alumni Angkatan 7 Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Cikarang, Far Eastern Federal University Fakultas Pariwisata

Foto: IG @pancaseela