id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Cara Gita Savitri Bertahan Saat Lockdown di Jerman

“Saat ini kondisi lockdown di Jerman sama aja sih kayak di Indonesia. Germany not streakly lockdown like China and Italy.“, ujar Gita Savitri Devi, saat dijumpai dalam bincang eksklusif bersama salah satu media online di Indonesia pada Rabu (1/4), pukul 19:00 WIB melalui akun instagram pribadinya.

Influencer asal Indonesia yang masih betah tinggal di Jerman usai merampungkan kuliah kimia murni di Free University of Berlin ini mengaku semakin kesulitan mencari sejumlah keperluan pribadi, seperti masker dan hand sanitizer di negara maju tersebut, “bahkan udah ditempelin tuh di pintu masuk apotik; masker dan hand sanitizer habis.”

Bukan hanya itu, berbagai bahan makanan juga mulai langka sejak awal negara tersebut diberitakan terdampak Covid-19, tepatnya di awal bulan Februari 2020. Stok makanan kaleng di sejumlah mini market sudah semakin menipis sejak menjadi incaran masyarakat Jerman.

“Dan yang paling anehnya, disini tuh biasanya yang suka beli beras kan cuma orang-orang asal Asia aja. Tapi kali ini enggak, orang-orang bule juga pada nyetok beras di rumahnya. Soalnya, beras bisa tahan lebih lama dibanding roti, kan.”, ujarnya. “Dan sekarang kita harus berlomba-lomba sama mereka, buat bisa nyetok beras juga di rumah.”

Perubahan situasi alam akibat pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gita yang hanya tinggal bersama suaminya yang saat ini masih mengenyam pendidikan jurusan kedokteran di Jerman.

“Eropa telah menggantikan China sebagai pusat penyebaran virus tersebut, dengan Italia sebagai negara yang terdampak paling parah, mencatat 6.077 kematian dan lebih dari 63.000 kasus yang dikonfirmasi, dan Jerman saat ini menduduki peringkat kelima dengan kasus Covid-19 sedunia.”, ujar Gita.

“Pemerintah Jerman menginvestasi hingga 12,4 miliar euro (US$14,1 miliar) sepanjang 2021-2024 untuk membantu perusahaan yang terdampak atas wabah virus corona. Sejumlah perusahaan di Jerman terpaksa memangkas pengeluaran pada kuartal III akhir tahun ini sehingga membuat ekonomi rentan dalam menghadapi tekanan akibat virus corona. Pertumbuhan produk domestik bruto Jerman stagnan pada kuartal IV/2019, memperlambat laju pertumbuhan ekonomi tahun lalu menjadi 0,3 persen.”, papar Gita saat menjawab pertanyaan mengenai keadaan ekonomi di Jerman saat ini.

Gita juga mengemukakan, bahwa salah satu yang ia suka dari pemerintahan di negara maju ini adalah pemerintahnya yang selalu peduli terhadap kesehatan masyarakatnya. “Pokoknya kalau di Jerman tuh, health is the number one.“, ujarnya.

Pemerintah Jerman memahami betul bahwa kondisi pandemi ini akan semakin menumbuhkan kepanikan dan kecemasan dalam diri masyarakatnya, maka sejak awal berita pandemi ini beredar di Jerman, pemerintah amat gencar menekan kepanikan yang ada dalam diri masyarakatnya dengan terus mengupdate berita terkini dan menjadikan transparan dalam memberitakan soal kasus ini.

“Pemerintah kesehatan di Jerman tuh selalu update data terkini terkait Covid-19 disini. Mulai dari update jumlah orang yang terpapar sampai angka kematian, itu semua ada di website resmi pemerintah Jerman.”, ujar Gita dengan penuh kagum. “Jadi kita sebagai masyarakat gak perlu lagi nyari-nyari informasi sendiri ke website lain, dan ini ngebantu banget buat kita yang emang harus menghindari hoax, sih..”, sambungnya.

“Karna kan kepanikan itu hadirnya dari diri kita sendiri, sebetulnya. Dengan kita kepo sama berita-berita terupdate soal virus corona ini, eeeeehhh… pas searching ternyata ketemunya sama berita yang hoax dan itu ngeberitainnya justru bikin kita jadi makin panik.”, tambah Gita.

Berkat kepedulian pemerintah Jerman dengan urusan kesehatan masyarakatnya tersebut, menjadikan semua RS yang ada di Jerman sudah sangat memenuhi syarat untuk penanganan kasus Covid-19, sehingga tidak perlu lagi membuat RS bayangan atau RS tambahan sementara seperti yang dilakukan di negara-negara lain.

Angka kematian di Jerman akibat virus corona sampai saat ini masih dibawah 7 persen dari puluhan ribu orang yang memang sudah terpapar alias positif virus corona.

Kok bisa, sih di Jerman angka positifnya tinggi tapi angka kematiannya rendah ?

Ya, karna penanganan di jerman ini sudah sangat intens, jadi banyak banget juga orang-orang yang akhirnya bisa ditangani sejak awal dan akhirnya dia bisa diselamatkan. dan masyarakat Jerman ini lebih gampang diatur dibandingkan dengan masyarakat Itali.

Disamping itu, Robert Koch Institute; Badan Penelitian di Jerman ini, mengadakan sekitar 160ribu tes masif yang dilakukan untuk semua masyarakat di Jerman setiap harinya. sehingga penyebaran virus dapat dicegah dan angka kematian dapat ditekan.

โ€œPesanku buat masyarakat Indonesia, ayo terus tanamin jiwa sosial yang ada di dalam diri kalian masing-masing. Karena jujur aku bangga banget sebagai bagian dari Indonesia, aku ngeliat di Indonesia ada banyak banget penggalangan dana bantuan gitu buat sama-sama menghadapi Covid-19 ini. Dan aku berharap, semoga solidaritas kalian tetap terjaga dan gak akan pernah putus.โ€, Ujar Gita mengakhiri bincangnya malam ini.

Narasumber : Gita Savitri Devi, Influencer

Foto : Instagram @gitasav