id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Berawal Dari Sebuah Perspektif, 17 Tahun Daarul Qur’an Tumbuh Berkembang Bersama Umat

Barakallah wa baraka ‘alaih. Selamat milad yang ke 17 untuk Daarul Qur’an Group. 17 tahun Daarul Qur’an berkarya. 17 tahun Daarul Qur’an tumbuh berkembang bersama umat.

Untuk mensyukuri apa yang telah dilewati Daarul Qur’an, seluruh Sumber Daya Insani (SDI) dan pimpinan tiap unit, termasuk sang penggagas lembaga ini, KH Yusuf Mansur, gelar syukuran. Namun, pandemi Covid-19 yang belum usai, memaksa gelaran sakral ini berlangsung secara daring.

Kemeriahan acara bukan diukur dari seberapa besar panggung yang dibuat. Gedung Adh-Dhuha lantai 6 memang tak sebesar lapangan bola. Namun, justru karena itu sillaturrahmi makin erat. Pimpinan Daarul Qur’an dari berbagai unit menyapa para SDI lewat video conference zoom, Minggu (5/7/2020).

Hadzaa min fadhli Rabbi. Kata yang sepatutnya kita ungkapkan hari ini. Usia 17 tahun buat Daarul Qur’an mungkin terhitung mudah, tapi Allah, alhamdulillah, memberikan hal yang luar biasa buat kita. Seantero jagad, bahkan bukan hanya nusantara”, tutur Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, Ustadz Ahmad Jamil. Usia yang tak setara dengan tantangan yang datang. Dengan tantangan itu, Daarul Qur’an bisa seperti saat ini. Itu semua karena sebuah perspektif.

Ilmu itu yang diajarkan oleh ayah, guru dan panutan, KH Yusuf Mansur. “Ketika perspektifnya masalah itu adalah hadiah, makin gede makin keren. Makin berat, makin oke. You will be happiness person in this class”, bukanya saat itu.

Cara pandang yang membuat Daarul Qur’an mampu mewadahi masalah nasional saat itu: sedikitnya masyarakat yang mampu membaca dan menulis Al-Qur’an. Baca dan tulis saja tidak, apalagi menghafal.

Di perjalanan, masalah tak serta merta hilang. Ustadz Yusuf mengungkap kilas balik masalah apa saja yang pernah dihadapi Daarul Qur’an. Hal itu sebagai bahan pembelajaran. “Banyak orang yang bilang ‘Yusuf Mansur mah masalah.’ Di tengah jalan, taunya kita akan kerjasama dengan perusahaan yg omzetnya 300 triliun rupiah. Justru karena masalah itu, kita hadir.” Sebagai bentuk implementasi, para SDI diminta menulis tentang perpsektif, old, now and future selama di Daarul Qur’an.

Suatu yang besar lahir dari sebuah masalah yang besar. Bedanya, bagaimana kita memandang masalah itu. Pada akhirnya, Daarul Qur’an mampu mengubah masalah menjadi tantangan dan terus berikhtiar untuk mimpi terbesarnya, seperti kalimat yang diucapkan alumni di Negeri Yaman dalam video ucapan. “Selamat Sweet Seventeen buat Daarul Qur’an. Dream Daqu: 5 benua, bisa, bisa, bisa. Allahu Akbar!”