id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Merdeka Belajar Dan Belajar Merdeka

Awal dilantik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadim Makarim menggebrak lewat konsep merdeka belajar. Gerakan Merdeka Belajar dalam bayangan Nadim adalah USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dilakukan dengan cara uji kompetensi siswa yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis atau bentuk penilaian lain yang lebih komprehensif. Kemudian UN (Ujian Nasional) tahun 2020 menjadi UN terakhir dan selanjutnya ditiadakan yang kemudian akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Ada lagi RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) akan lebih disederhanakan dengan memangkas beberapa komponen. Terakhir adalah mengenai zonasi PPDB (penerimaan Peserta Didik Baru), sistem zonasi digunakan dengan kebijakan yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah.

Secara historis, akar Merdeka Belajar di pelopori oleh Paulo Freire dan juga Ivan Illich yang  diaminkan oleh Carl Rogers dkk. Paulo Freire melihat potret pendidikan di Brazil saat itu sangat mengekang, siswa hanya dicekoki  oleh materi yang menjadikan anak tidak kreatif, mengungkung kreatitas serta memenjarakan sejumlah potesi anak sehingga anak tidak bisa kritis dalam kehidupannya, yang berujung sikap pasrah dan patuh yang tidak jelas arahnya. Dari Brazil konsep Freire menjalar ke seluruh dunia hingga ke Indonesia.

Bagi Freire, pendidikan  tak lain sarana menindas anak-anak yang memiliki potensi besar. Banking Concept Education, atau dengan kata lain anak hanya menjadi wadah kosong yang harus diisi sesuatu, demikian menurutnya, ini melahirkan penindasan, maka penindasan itu harus dilawan dengan konsep Problem Posing Method dengan kata lain anak harus dibebaskan dan keluar dari jeruji tralis yang memenjarakan potensi tersebut.

Anak-anak harus digiring bukan berada dalam dunia, melainkan berada bersama dengan dunia.  Konsep ini  kemudian dikenal dengan konsep andragogi yaitu pendidikan orang dewasa, secara dialogis, guru berposisi sebagai fasilitator, anak harus diajar kritis agar ia merasakan kehidupan real yang ada, bukan lagi diawang-awang. Jhon Dewey mengamini konsep ini dengan pola pregresifnya, artinya seorang anak ketika diberikan pelajaran tentang panas, maka api harus dihadirkan dan dinyalakan lalu tangannya mencoba untuk menyentuhnya, panas tersebut bukan lagi dalam otak dan dalam awang-awang, akan tetapi nyata dirasakan dalam kehidupannya.

Selanjutnya ialah Ivan illich, konsepnya deschooling society, artinya sekolah tanpa dinding. Baginya, pendidikan lebih baik dilaksanakan oleh masyarakat sendiri dalam bentuk jaringan pendidikan, jaringan pembelajaran. Rupanya, Ivan Illich tidak suka dengan sekolah konvensional  yang begitu dianggapnya membelenggu dan penuh aturan yang menindas, pengaruhnya maka banyak saat ini dijumpai praktek pembelajaran private, bimbel, dll. Di sisi yang lain, pada tahun 1969 Carl Rogers mempublikasikan sebuah buku berjudul “Freedom to Learn”.  Pada pengantar buku tersebut, Lima puluh tahun lalu, ia mengatakan, “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis dan resisten terhadap perubahan. Demikian halnya, praktek pembelajaran yang tidak memerdekakan selama ini tampak di mana pembelajar dihadapkan dan ditetapkan pada aturan yang jelas dan ketat.

Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin, bahkan kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum sehingga ada kesan “Sekolah tempat menuntut ilmu lebih kejam ketimbang penjara”, demikian Bernard Shaw sebagaimana dikutip dari Naomi (1999) dalam buku “Menggugat Pendidikan”, maka tidak heran jika guru memberikan informasi bahwa akan ada kegiatan guru rapat atau besok kita libur, suara gemuruh menyambut kesenangan itu luar biasa, seolah-olah anak terbebas dari belenggu dan beban belajar, ini yang perlu kita renungkan.

Maka dari itu, siapa yang menjadi korban keganasan kekejaman di dunia pendidikan? Adalah Albert Einstein, Winston Churchill, dan Thomas A.Edison.

Dimasa anak-anak, Albert Einstein dikenal suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan bahwa ia tidak akan berhasil di bidang apapun, sikap dan pernyataannya selalu merusak suasana kelas, dan lebih baik ia tidak bersekolah. Selanjutnya, Winston Churchill sangat lemah dalam pekerjaan sekolah, dalam berbicara ia gugup dan terbata-bata. Sementara itu, Thomas A. Edison pernah dipukuli guru dengan ikat pinggang karena dianggap mempermainkan guru dengan mengajukan banyak pertanyaan, karena seringnya ia dihukum maka dikeluarkan dari sekolah tersebut oleh ibunya (setelah mengenyam pendidikan formal hanya selama 3 bulan).  Einstein, Churchill, dan Edison; ketiga tokoh tersebut memiliki gaya belajar yang khas yang tidak sesuai dengan gaya belajar di sekolah mereka saat itu.

Berangkat dari historia akar merdeka belajar di atas, maka hari ini gerakan Merdeka Belajar adalah bukan sesuatu hal yang baru, akan tetapi setidaknya saat ini pemerintah mengadopsi konsep tersebut dengan mengimplementasikannya ke sekolah konvensional sekedar penyederhanaan saja. Maka mau tidak mau, menjadi peluang emas bagi pegiat pendidikan dan praktisi pendidikan untuk mendesain ulang model pendidikan yang dikomandoi oleh pemerintah. Sekalipun, menurut hemat penulis, bisa jadi gerakan merdeka belajar ini akan menjadi kekuatan baru penindasan model terbaru jika pemerintah dan para praktisi tidak mengawal dengan baik dan melek gerakan ini. Apalagi kemungkinan besar tradisi ganti menteri ganti kebijakan ini bisa berlaku. Maka dari itu kita tak lain dan tak bukan sedang belajar merdeka. Merdeka yang 100 persen saja tentunya belum bisa terwujud juga sejak ditetapkannya hari kemerdekaan, maka ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh elemen bangsa dalam proses sedang belajar merdeka ini.

Ditulis oleh Dr. Mahfud Fauzi, M.Pd, Kepala Bidang Kemitraan Fullday Daarul Qur’an