id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Meriahnya Parade 17an Daqu Cikarang Awali Tahun Ajaran Baru

Tak hanya upacara bendera, semarak HUT ke 75 RI juga sebagai pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021 dalam Khutbatul Iftitah, Senin (17/8/2020), di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Putri Cikarang.


Pimpinan Direktorat Pendidikan, Ustadz Ahmad Jamil menyampaikan pesan sebelum upacara seremoni dengan pelepasan balon dan burung merpati.

Beliau menceritakan sebuah buku, karya Cindy Adam, tentang Bung Karno. “Kalau saja kita tau kisah tentang pahlawan, harusnya kita sudah naik step jadi ‘oh kita harus bisa berjuang buat negeri kita”, Pesannya untuk para santri. “Ulama kita, misal, Tuan Guru Mansur, beliau juga berjuang dengan menunjukkan nasionalismenya dengan mengibarkan merah putih di masjid Al-Mansur”, lanjutnya memberi semangat pada para santri.

“Para ulama bukan hanya sebagai konsultan tapi ikut berjuang. So, apa yang bisa kita lakukan? Buat apa kita hidup bersosial? Maka visi kita sebagai seorang muslim, itu juga penting.”

Inilah bentuk perjuangan kita. Visi yang harus dipegang semua muslim.

“Allah ta’ala berfirman, ‘maka berbuatlah kalian, maka Allah dan Rasulullah dan orang-orang beriman akan menyaksikan perbuatan kita. Amal itu butuh Mujahadah, punya visi yang jelas, karena amal kita, kesholehan kita punya visi yang jelas. Fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah. Itu visi kita”, jelas Kyai Jamil.

“Maka kita harus berbuat yang terbaik, The Best of Us. Kita harus mengambil bagian, kita harus jadi aktor dari sejarah panjang negeri kita dan kaum muslimin”, tutupnya di kesempatan yang penuh semangat itu.

Selanjutnya giliran para santri unjuk aksi. Santriwati dari berbagai provinsi terpilih menampilkan paduan suara menyanyikan beberapa lagu daerah.

Kali ini barisan eksul pun benar-benar menunjukkan tajinya. Satu per satu unjuk gigi, yang tentunya tak lepas dari kearifan lokal bangsa ini.


Yang tak kalah unik, kendaraan “dinas” pesantren Daqu Cikarang unjuk bodinya lewat sebuah parade mengelilingi pesantren, diikuti para santriwati yang ada di ekskul dan kelas masing-masing.

Gelaran ini menunjukkan bahwa santri dan pesantren cinta dan tak akan lupa tanah airnya maupun tanah “ibunya”.