id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Batu Akik vs Batu Koral

Ngomongin batu akik ini, happening banged. Pada masanya batu akik ini jadi primadona, sampai bejejer tukang asah batu akik di tiap tikungan. Bahkan grup musik Wali sampai buat lagi tentang batu akik. Lalu menariknya siapa yang menjadikan batu akik memiliki nilai yang berharga dibanding batu koral.

Kalo saya dikasih batu akik, saya mungkin menolak, karena gak ngerti kegunaan dan fungsi batu akiknya. Atau memang saya bukan penikmat batu akiknya. Beda dengan yang memang mengerti batu akik dan jadi peniknya batu akik. Tentu orang yang mengerti batu akik, ketika dikasih batu akik akan melihat dan meneliti keunggulan batu akik tersebut.

Dalam bentuk lain, ada mobil classik versus mobil MVP (multi purpose vehicle). Secara kegunaan, mobil MVP itu bisa digunakan buat bawa barang, bawa orang, melewati perkotaan, melewati pedesaan. Tapi secara harga, mobil klasik lebih mahal dibanding mobil MVP. Nah kok bisa?

Masih banyak lagi hal lain yang mirip-mirip dengan ini. Lalu apa yang membuat kondisi itu terjadi? Siapa yang menentukan harganya? Siapa yang menentukan nilai barangnya? Dan seterusnya.

Anehnya, setiap ada barang-barang berharga, selalu ada peminatnya. Ya toh?
So, menariknya ternyata, itu awalnya hanya kesepakatan dari sekelompok orang, yang kemudian di kampanyekan secara terus-menerus dan akhirnya diterima oleh sekelompok orang yang lain, dan akhirnya kesepakatan itu meluas.

Sekelompok orang ini, tentunya bukan orang biasa. Orang-orang yang meyakini sesuatu itu berharga tentu punya rasa yang berbeda dari apa yang di banggakannya. Orang tersebut bisa tidak goyah dengan berbagai komentar orang umum tentang barang berharganya. Dicibir atau bahkan di sumpah serapahkan. Tapi orang-orang yang punya keyakinan ini tetap enjoy aja.

Nah unsur ini yang perlu di install kepada santri. Tentang faith (keyakinan, keimanan) terhadap sesuatu, dalam hal ini tentang ngapalin quran, kehebatan jadi santri, kerennya mesantren. Sehingga muncul rasa “mahal” nya. Bersinar kilaunya. Dan yang tidak kalah penting, tidak pudar semangatnya dengan cibiran orang, dengan pencapaian orang, dan lainnya.

Kebayangkan, orang sudah naik motor elektrik, eeh ada yang bangga naik motor onthel. Piye jal? Bukankah orang ini sangat kuat keyakinannya.

Ini mirip dengan saat awal Rasulullah SAW berdakwah. Para pemuka quraisy menyembah patung yang berwujud, eeh Rasulullah datang mengkampanyekan bahwa Allah SWT itu Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang Maha Hebat, tapi tidak wujud. Nah, logika ini yang tidak diterima oleh pemuka quraisy, masa tuhan tidak berwujud.

Tapi keyakinan Rasulullah itu bukan yakin yang kaleng-kalengan. Dan akhirnya sedikit demi sedikit pengikut ajaran Rasulullah semakin banyak. Hingga para pemuka quraisy ini mulai goyah.

So, mari kita miliki iman yang kuat, yang dapat meneguhkan keyakinan kita…

Ditulis oleh, Rizky Aminullah, Kepala Biro Akademik Litbang Daarul Qur’an

Foto: tribunnews.com