id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Harta Karun Paling Berharga Adalah Menghafal Qur’an

3 orang santri sudah bersiap di depan para santri lainnya. Sore itu, dalam saung di area pohon jamblang, Pesantren Tahfizh Daqu Tangerang, Jum’at (11/9/2020) jadi momen spesial buat mereka. Pasalnya, ketiganya akan diseremonikan sebagai tanda selesai menyetorkan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Di bawah bimbingan Ustadz Dendi Suhendi, Gamal Abdel Naser, Rizki Pangestu dan Fadli Ahmad berhasil menggapai cita-citanya kala masuk pondok, yakni menghafalkan Al-Qur’an. “Mudah-mudahan nanti di akhirat Al-Qur’an dapat memberi pertolongan”, ucap doa dari sang mentor, Ustadz Dendi Suhendi.

Memasuki tahun terakhir di pondok semakin memacu mereka dalam menghafal Qur’an. Rasa syukur menghampiri meski kedua orangtua mereka tak bisa mendampingi karena takdir Allah pandemi masih bergulir. Namun, mereka tak kehilangan sosok orangtua karena ada kepala Tahfizh Daqu Tangerang, Ustadz Hamzah, yang mengayomi dan menemani perjalanan menghafal mereka selama ini.

“Orangtua jadi tanggungjawab kita, bagaimana di dunia mereka bisa menyaksikan kita sebagai anak sholeh, penghafal Qur’an dan di akhirat kita janjikan mahkota”, pesan Ustadz Hamzah pada ketiganya.

Allah pun menjanjikan tempat spesial bagi para penghafal Qur’an. Syaikh Ahmad Anas Karzon, Pimpinan Badan Internasional Penghafal Al-Qur’an, mengatakan kalau menghafal Qur’an adalah harta karun paling berharga, nilainya lebih dari seluruh harta karun yang ada di dunia.

“Tolong jaga amanah ini. Karena sulitnya amanah menghafal Qur’an. Kalau gak ada lagi yang menghafal Qur’an, bisa hancur dunia”, kata Ustadz Hamzah melanjutkan pesannya.  

Gamal, Rizki dan Fadli bergabung ke gerbong para penghafal Qur’an yang sebelumnya telah banyak ditelurkan lewat wasilah mondok di Pesantren Daqu. Layaknya yang dirasakan para pendahulunya, tentu ini bukan akhir dari khidmat mereka pada Al-Qur’an. “Ini bukanlah perjuangan pertama, tapi langkah awal. Siapa yang hafal Qur’an harus menjaga dan mengamalkannya”, tutur Gamal.

Santri Asal Aceh ini pada awalnya mengaku ragu mengikuti ujian setoran hafalan akhir. Karena ia merasa tak memiliki peningkatan hafalan kala ujian setoran hafalan berulang kali hadir. Namun, Allah SWT menolong hambanya yang menghafal Qur’an. Seperti kata Ustadz Hamzah, istilah sulit yakni pada pengimplementasian isinya mengingat godaan yang begitu besar di dunia, bukan ketika menghafalnya.