id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Diklat Keterampilan Pelaut, Kerjasama Kemenhub dengan Pesantren Daqu, Resmi Ditutup

Setelah 13 hari mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) keterampilan pelaut, hasil kerjasama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, 26 santri Pesantren Daqu dinyatakan lulus. Pengukuhan kelulusan itu dilakukan bersamaan dengan ditutupnya diklat tersebut, Jum’at (16/10/2020).

Acara penutupan digelar di Gedung Pacific, Politeknik Pelayaran Banten. Dengan balutan seragam polo oranye, mereka dinyatakan lulus dan berhak menerima sertifikat lewat laporan kegiatan atas nama Direktur Balai Besar Pendidikan, Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP31P), Weku Frederik Karuntu, M.M.

Kepala Bidang Usaha BP3IP, Joko Susanto, mewakili Direktur BP3IP yang berhalangan hadir untuk memberikan beberapa pesan. Ia mengatakan, seperti kala membuka kegiatan ini, harapannya santri bisa melanjutkan untuk berkecimpung di dunia pelayaran setalah ikut di diklat ini.

“Bukan hanya ahli agama tapi tapi juga di perhubungan. Karena kesan yang ada kan pelaut ugal-ugalan, dengan adanya santri ini bisa merubah image tersebut,” ungkapnya. Para santri yang mengikuti diklat ini memang diharap mampu mengikuti jejak kakak kelas mereka yang berhasil bergabung di beberapa kesatuan seperti Porli dan TNI.

Hal senada diutarakan oleh Direktur Politeknik Pelayaran, Heru Widada, M. M. Diklat ini, kata Heru, bukan satu-satunya syarat untuk bisa berkarir di dunia pelayaran. Namun, ini adalah modal yang cukup untuk para santri. “Inilah yang diprogramkan pemerintah dan tidak dipungut biaya, membuktikan bahwa Kemenhub bisa hadir di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Di sisi lain, pihak Pesantren Daqu yang diwakili oleh Ustadz Hendy Irawan mengaku bangga dengan terselenggaranya diklat ini. Terlebih, Pesantren Daqu mampu menjalin hubungan yang baik dengan Kemenhub.

Ini juga jadi jalan pesantren, selaku lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, dalam mengimplementasikan dasar negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. “Kalau dulu kita mau belajar sesuatu harus ke empunya langsung. Kalau sekarang sudah ada teknologi jadi lebih mudah,” ujar beliau mencontohkan jalan implementasi tersebut. Tak hanya sampai di sini, para santri juga diminta untuk menulis pengalamannya selama mengikuti diklat. Nantinya yang mereka tulis bisa berguna untuk adik-adik kelasnya kelak.