id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Pramuka Daarul Qur’an Kawinkan 2 Juara Umum Kompetisi di Masa Pandemi

Pandemi tak melulu menimbulkan masalah. Di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, situasi pandemi justru membuahkan keberkahan. Sebabnya, Pramuka tingkat Penggalang (SMP) dan Penegak (SMA) Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang berhasil memborong juara umum di Lomba Pramuka se-Jakarta, Jawa Barat dan Banten dengan Tajuk “Giat Prestasi Spesial New Normal” yang diselenggarakan oleh Pramuka Pandega Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari UIN Syarif Hidayatullah.

Berbeda dari gelaran tahun-tahun sebelumnya, situasi memaksa kegiatan bejalan secara daring. Seluruh perlombaan berisikan materi yang ditampilkan lewat video. Beberapa materi dibuat peserta lalu dikirim ke kepanitia. Perlombaan tersebut yakni pioneering, fotografi, video reportase, cipta puisi dan pembacaan cerpen, yel-yel serta semaphore dance. Sementara lomba semaphore sandi (SMS) dan pengetahuan kepramukaan dan umum (SMP) / survival (SMA) digelar via aplikasi daring, Sabtu (17/10/2020) sekaligus jadi tempat pengumuman hasil lomba.

Dengan perolehan 788 poin, pramuka SMP Daarul Qur’an berhasil mengalahkan 19 sekolah lainnya. Sementara sang kakak memperoleh 760 poin yang menyingkirkan 30 para pesaing. Hasil ini disyukuri oleh pembina pramuka Daarul Qur’an, Kak Dicky Permana. “Semoga hal baik ini akan berjalan terus. Pramuka Daarul Qur’an tetap jaya. Biasanya kan ada masa keemasan, masa susah, masa sulit, tapi intinya dengan anggota yang selalu berganti, pembinanya juga belum berganti, Insya Allah spirit anak-anak, spirit perjuangan, untuk syiar Daarul Qur’an itu tidak berubah,” ujarnya.

Selain kerja keras dan pembinaan yang terstruktur, kata Kak Dicky, ikhtiar dengan ibadah jadi wasilah keberkahan ini. “Biasanya kalau kita mau lomba, malem tidak lepas dari sholat hajat. Setiap hari. Jadi habis selesai latihan malem kita sholat hajat. Terus puasa Senin dan Kamis, khataman Qur’an. H-sekian kita pasti melaksanakan puasa hajat,” ungkapnya. “Perjuangan ketika mau lomba semua peserta itu sama. Sama-sama capek, latihannya metodenya sama, caranya sama, tapi yang membedakan anak pesatnren dengan yang lainnya hanya satu, ibadahnya,” lanjutnya menerangkan rahasia sukses tersebut, yang mengutip perkataan seorang asatidz Daarul Qur’an, Ustdaz Hendy Irawan.

Hasil ini jadi comeback brilian Pramuka Daarul Qur’an setelah vakum beberapa tahun dalam perlombaan ini. Pandemi yang memaksa sistem perlombaan diubah jadi tantangan baru untuk mereka hingga akhirnya memutuskan ikut serta dalam ajang ini lagi. Sebelumnya, di tahun 2012-2014 pramuka Penggalang Daarul Qur’an menjadi juara umum sehingga piala kejuaraan berhak dimiliki mereka. Mereka bersanding dengan MAN 11 Jakarta sebagai sekolah yang mampu mempermanenkan piala berglir itu. Prestasi ini sekaligus jadi kado manis milad sang pembina. Kak Dicky berujar, salah satu cita-citanya adalah mengawinkan juara umum di 2 kategori dalam kompetisi pramuka yang akhirnya terwujud di ajang ini. “Intinya, kalau kami, para pembina, ngomong sama santri, proses tidak akan mengkhianati hasil,” tuturnya.