fbpx
id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Kecil-Kecil Cabe Rawit, Andi Singkirkan Para Senior dan Raih Prestasi di Muhadharah Kubra

“Segala puji bagi Allah yang Maha Ghafur. Yang tak dapat diukur oleh tukang cukur, pak gubernur, pak insinyur, ibu dapur, bahkan calon penghuni kubur.”

Tawa penonton pun pecah kala Andi Muhammad Khoirundsyah membuka pidatonya dengan kalimat tersebut. Badannya yang kecil makin menarik minat para penonon dan juri menyaksikan aksinya. Tak heran, ia adalah finalis paling junior di gelaran grand final Muhadrah Kubra Pesantren Daqu Tangerang, Sabtu (21/11/2020).

Di tengah pidatonya, Andi sempat merasa grogi hingga berhenti sejenak. Namun, iringan tepuk tangan kembali mencairkan kalimat-kalimat santri kelas 7 asal Kota Palu tersebut.

Malam itu Andi menyampaikan pesan yang fundamental: Berislam Dengan Baik. “Allah sangat objektif memandang hambanya. Allah hanya menilai kualitas kita sebagai hamba,” kata Andi dengan lantang.

Ia juga berpesan agar seorang muslim hendaknya tak berlebih-lebihan. “Punya rumah tingkat, mobil mengkilat, pakaiannya mengikat, uangnya berlipat,” ujar Andi sekaligus mengajak para penonton untuk lebih banyak berbagi. Sebuah pesan mendalam dari santri yang bahkan baru pertama kali mengikuti lomba pidato atau muhadharah.   

Badannya yang paling mungil di antara peserta lain makin ketara kala Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil beserta jajaran pimpinan Daqu lain membagikan hadiah. Tapi, semangat Andi tak kalah dengan para senoirnya itu. Andi pun dinobatkan sebagai juara 3 pidato Bahasa Indonesia.

Pencapian itu pun diketahui oleh kedua orangtua Andi. Andi yang sempat menelpon ayah dan bundanya, mengaku bangga dan terharu karena kedua orangtuanya sampai menitikkan air mata.

Andi mulai tertarik dengan dunia pidato dan ceramah sejak kelas 3 SD. Ia pun sering berlagak layaknya seorang dai di atas mimbar. Selain itu, Andi juga penggemar olahraga futsal dan sering mengikuti turnamen. Hingga saat ia masuk Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, seniornya yang duduk di kelas 12, Rizki Hasan, menjadi mentor untuk mengasah bakat pidatonya.

Tentu, masih banyak waktu yang dipunya Andi untuk berkembang. Ditambah, kalau melihat track recordnya di lomba ini yang berhasil menyingkirkan lebih dari 20 orang pesaing, nampaknya kesuksesan tinggal menunggu waktu. Kerja keras serta bimbingan para asatidz juga amat penting agar pencapaian-pencapaian lainnya bisa diraih Andi.

“Mau jadi da’i dan ceramah keliling-keliling dunia,” tukas Andi menyampaikan cita-citanya yang begitu tinggi dan mulia.