fbpx
id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Santri Pesantren Daqu Punya Kesempatan Besar untuk Kuliah di Eropa

Para santri Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang mendapat kesempatan untuk menempuh studi di Eropa. Karena siang tadi, di Masjid An-Nabawi, Pesantren Daqu Tangerang (23/2/2021), Pesantren Daqu menandatangani Nota kesepahaman atau MoU dengan Lembaga Alumni Eropa yang didirekturi oleh Dr. Ing. Agus Aulia, M. Sc. Dr. Agus juga mewakili langsung penandatanganan MoU bersama Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil.

Kyai Jamil, dalam sambutannya, menceritakan bahwa dengan kerja sama ini nantinya para santri bisa mengikuti jejak kedua kakaknya yang saat ini tengah bersekolah di Kiel University, Jerman Utara. Bahkan, kata beliau lagi, para santri sekaligus bisa mengikuti jejak Dr. Agus yang kuliah sekaligus mampu mendirikan masjid di Kota Berlin.

“Di setiap bumi berpijak, kalian bertanggung jawab terhadap keislaman di sana,” tutur Kyai Jamil yang mengutip sebuah hadits.

Cerita itu juga diamini oleh Dr. Agus. Ia menjelaskan, alumni Pesantren Daqu itu saat ini tengah mengambil jurusan biomedical, salah satunya belajar mengenai transplantasi sel dan jaringan tubuh. Ranah tersebut, kata Dr. Agus, hingga saat ini belum tersedia profesinya di Indonesia. Maka dari itu, kemungkinan besar santri Pesantren Daqu tersebut akan berkiprah di dunia internasional.

“Ini sumbangan Daqu untuk dunia. Bisa mengambil ilmu di sana, mengembangkan dan membawa nama baik Daqu,” tuturnya diiringi tepuk tangan para santri.

Tentu ini jadi kebahagiaan keluarga besar Pesantren Daqu, khususnya untuk para santri. Perasaan tersebut pun tak terelakkan lagi di benak Kyai Jamil, “Insya Allah menjadi jalan buat kalian belajar di Eropa dan menjadi keberkahan buat agama, keluarga, dan negeri kita. Insya Allah,” tuturnya.

Kerjasama ini juga meliputi bidang pendampingan sebelum para santri belajar di Eropa, termasuk pembelajaran bahasa negara yang dituju. Karena, menurut Dr. Agus, bahasa menjadi kendala terbesar yang dilami kebanyakan mahasiswa Indonesia. Dengan begitu, kendala ini nantinya bisa diminimalisir.