fbpx
id info@daqu.sch.id 021-2789-9696

Profesor Agil Al-Munawar Berbagi Jurus Jitu Mempertahankan Hafalan Al-Qur’an

Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA adalah seorang pengajar dan mantan Menteri Agama Indonesia. Ia menjabat sebagai Menteri Agama pada Kabinet Gotong Royong. Saat ini, beliau menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beliau juga dikenal sebagai sosok hafizh Qur’an.

Kesempatan besar pun hadir bagi para wali murid Fullday Daqu School Daarul Qur’an. Prof Agil, sapaannya, berkesempatan berbagi pengalaman tentang bagaimana dirinya menghafal dan mempertahankan hafalan Al-Qur’an. Para wali murid menyaksikan paparannya lewat video conference Zoom yang juga disiarkan live streaming di kanal Youtube Daqu School, Sabtu (20/3/2021). Acara gagasan Fullday Daqu School ini juga dihadiri oleh Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil serta Kepala Biro Fullday Daqu School, Dr. Mahfud Fauzi.

Kesempatan in tentu amat berharga bagi para wali murid. Mereka bisa belajar dari seolang ulama dan tokoh besar dengan tingkat keilmuan yang tinggi. Dr. Mahfud, dalam sambutannya mengatakan, Prof Agil merupakan seorang dosen dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Kemampuan menghafal itu juga diaplikasikan ketika ia menghafal Qur’an.

Kemuliaan Al-Qur’an hanya turun pada hambanya yang beriman. Kyai Jamil pun menjelaskan dalam sambutan untuk mengawali acara, bahwa frasa Al-‘Abd, yang berarti hamba, dipakai untuk menyebut Rasulullah SAW ketika peritiwa Isra Mikraj. Al-‘Abd dianugerahi oleh Allah keimanan yang tinggi, di antara kaum muslim yang lain. Al-‘Abd ini pula lah yang dipilih oleh Allah untuk menerima kemuliaan Al-Qur’an.

Pada dasarnya, kata Prof Agil, Al-Qur’an telah dijamin oleh Allah SWT mudah untuk dihafalkan.  Namun, semua itu diperlukan motivasi dengan niat dan doa yang kuat. Karena di balik kemuliaan Al-Qur’an, terdapat orang-orang besar yang dipilih oleh Allah SWT.

“Saya menyaksikan sendiri, di Mesir ada 3 bersaudara yang kekurangan. Salah satu dari mereka bisa meniru suara Qori siapa saja. Inilah kehebatan Al-Qur’anul karim,” kisah Prof Agil.

“Sesungguhnya hamba Allah yang mulia, setelah para nabi dan ulama, adalah yang menghafal Qur’an. Mereka akan meninggalkan dunia seperti para nabi. Mereka akan dibangkitkan jug bersama para nabi,” tambahnya, mengutip sebuah hadits.

Umat muslim pun berbondong-bondong untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Namun, terkadang ketika sudah hafal, hafalan tersebut juga cepat hilang. Prof Agil pun memberikan beberapa tips untuk menghafal dan menjaga hafalan tersebut, berdasarkan ayat Al-Qur’an, hadits nabi, maupun pengalaman pribadi beliau bersama para gurunya.

Ketika menghafal, salah satu kesulitannya yakni ketika bertemu ayat mutasyabihat, atau yang mirip-mirip. Untuk itu, Prof Agil pun menyarankan agar kita jangan terlalu cepat membuka Al-Qur’an unuk memastikan ayat yang kita baca itu benar. Namun, kembali lagi ke ayat sebelumnya, hingga kita mengingat ayat yang kita lupa. Dalam menghafal juga ada beberapa waktu terbaik yakni di waktu sahur/tahajjud. Sementara itu, ketika memuroja’ah hafalan juga harus dengan suara lantang.

Tapi, bukan hanya hal teknis saja yang harus diperhatikan. Lebih dari itu, adab, niat, serta amalan-amalan lain juga harus kita kerjakan.

Hendaknya ketika memulai menghafal, kita membaca doa ini:

Allahumma nawwir bil kitabi bashori, wasyroh bihi shodri, wasta’mil bihi badani, wa athliq bihi lisani, waqowwi bihi Janani, wa asri’ bihi fahmi, wa qowwi bihi ‘azmi, bihaulika waquwwatika fainnahu lahaula wala quwwata illa bika, ya Arhamar rahimin.

“Ya Allah terangilah pengelihatanku dengan kitab-Mu. Ucapkannlah lisanku dengan kitab-Mu. Lapangkanlah dada dengan kitab-Mu. Gerakkanlah jasadku dengan kitab-Mu, dengan daya dan kekuatan-Mu. Maka sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali kekuatan-Mu, Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Doa itu dibaca 10 kali pada pagi dan sore hari, ditambah dengan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 16 kali dalam sehari. Kemudian perbanyaklah membaca “Ya Mubdiu, Ya Mu’idzu” (Yang Maha Memulai dan Maha Mengembalikan/Maha Memulihkan).

Imam Al-Ghaazali dalam wasiatnya juga mengatakan, hendaknya ketika membaca Al-Qur’an harus disertai dengan adab yang baik. Prof Agil pun menjelaskan beberapa di antara adab tersebut.

Al-Qur’an, terang Prof Agil, adalah kalamullah yang keluar dari mulut, pikiran dan tubuh kita. Untuk itu penting pula memelihara kebersihan mulut dengan rajin bersiwak. Hikmahnya, lewat wasilah bersiwak, kalamullah yang keluar dari lisan kita bisa mudah dan lancar.

Seorang penghafal Qur’an pun hendaknya tidak mengenyangkan perutnya dengan makanan, karena hal itu bisa membuat orang menjadi malas. “Kenyang itu akan menghilangkan kecerdasan seseorang,” tambah Prof Agil.

Semua itu kita lakukan agar bisa mencapai derajat orang yang mampu mengtadabburi Al-Qur’an. Di antara indikasi orang yang mampu mentadabburi Al-Qur’an, kata Prof Agil, “yakni suaranya bagus, bisa menggambarkan makna yang dibaca, kemudian bacanya khusyuk.”

Ketika seseorang telah mampu menghafal Al-Qur’an, yang perlu ia ingat adalah pencapaian tersebut tak lepas dari keikhlasan sang guru. Maka dari itu, rajin-rajinlah sowan ke guru kita, agar keberkahan itu kelak juga turun ke murid atau keturunan kita.

foto latar : BRNews.id