Muqaddimah

Home - Muqaddimah
[us_single_image image=”7378″ size=”medium” lightbox=”1″ animate=”wfc” animate_delay=”0.6″ css=”.vc_custom_1448665354325{background-color: #aa0f3b !important;border-radius: 3px !important;}”]

Bissmillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Inspirasi One Day One Ayat

Dalam sambutannya di ajang Indonesia Menghafal Qur’an IV di Gelora Bung Karno, 30 Maret 2013, tamu kita Syaikh Abdullah Ali Bashfar mengaku terkesima oleh betapa antusiasnya masyarakat Indonesia, laki-laki-perempuan segala usia, mengikuti wisuda hafalan Qur’an.

”Luar biasa, ini membuktikan kebenaran firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa al-Qur’an itu mudah dibaca dan dihafal oleh siapa saja meskipun bukan orang Arab,” tandas Ketua Lembaga Tahfidz Qur’an Sedunia itu. Ia mengungkapkan pengalamannya bertemu dengan para penghafal cilik di berbagai negara. Misalnya Rabiah, bocah Pakistan berusia 7 tahun yang sudah hafal 30 juz Qur’an. Juga M. Ayub dari Tazakistan yang baru berusia 5 tahun. Bahkan juga Tabarok dari Mesir, penghafal Qur’an tercilik di dunia yang umurnya masih 3,5 tahun. Alhamdulillah, bersama ayah dan kedua kakaknya, Tabarok pernah ke Pesantren Daarul Qur’an Indonesia.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya :

“Dan sungguh telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk dipelajari, maka adakah orang yang ingin mengambil pelajaran?” (QS. al-Qamar : 22).

Di sela-sela kunjungannya sebagai tamu Daarul Qur’an pada 26 Maret – 1 April lalu, Imam Masjid Nabawi Syaikh Sa’ad Al-Ghomidi memberikan lima tips untuk menghafal Al-Qur’an, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Pertama, harus punya tujuan yang jelas. Kedua, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal al-Qur’an semacam PPPA Daqu. Ketiga, harus ada metode paling efektif yang digunakan. Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan al-Qur’an.

Menurut Syaikh, metode yang digunakan harus efektif dan fleksibel, bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari.

Syaikh al-Ghomidi benar, lha wong al-Qur’an saja bisa dibaca dengan 7 dialek (qiro’at) untuk mengakomodasi keragaman dialek komunikasi wicara manusia.  Dan alhamdulillah, kita di Indonesia mengenal banyak metode menghafal Qur’an, seperti Metode Yan’bua, Hanifida, Ummi, Granada, an-Nuur, Isyarah, dan sebagainya.

Salah satu Daqu Methode dalam penghafalan al-Qur’an adalah Metode ‘‘One Day One Ayat’’. Ini sejak awal kita terapkan di Pondok Pesantren Daarul Qur’an maupun Rumah Tahfidz binaan PPPA Daqu. Metode One Day One Ayat juga mendapatkan sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat. Melalui program layanan Qur’an Call 500 311, masyarakat dapat belajar Qur’an sejak tahap pemula sampai mahir.

Alhamdulillah, metode sederhana ini ternyata diapresiasi oleh Syaikh al-Ghomidi. “Terus terang, saya salut dengan apa yang dibuat Syaikh Yusuf. Bagi saya apa yang ia buat itu ‘ajib (menakjubkan) dan gharib (langka). Saya belum pernah melihat metode yang semisal ini sebelumnya. Saya akan coba menerapkannya di Dammam,” tutur Syaikh al-Ghomidi dalam jumpa pers di Jakarta Maret lalu.

Semoga seperti yang disampaikan Imam Masjid Nabawi, kita sudah berada di jalan yang benar dengan semua ini. Tentunya untuk menumbuh kembangkan Generasi Qur’ani yang akan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

K.H. YUSUF MANSUR
Pembina

Leave A Comment