Yang Dikhawatirkan Mamdani dari AI, Tidak Terjadi di Pesantren

0
40

Walikota New York Zohran Mamdani memutuskan untuk menghentikan sementara penggunaan AI untuk anak usia dini. Keputusan ini diberlakukan untuk mengkaji bagaimana dampak teknologi dalam perkembangan dasar manusia. Mamdani beralasan bahwa anak-anak butuh hubungan yang lebih intens dengan manusia ketimbang teknologi. Baginya peserta didik harus banyak berinteraksi dengan guru, teman dan dapat memecahkan masalah secara mandiri tanpa bantuan pintas teknologi.

“Anak-anak membutuhkan guru dan interaksi antarmanusia untuk belajar dan berkembang. mereka perlu mengembangkan keterampilan bersama teman-teman sebaya, membangun hubungan dengan para pendidikan, serta bergulat memecahkan masalah-masalah sulit secara mandiri” ujar Mamdani.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan anak-anak di pesantren. Di pesantren, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil atau seberapa cepat anak mendapatkan jawaban. Anak dibiasakan menjalani proses belajar secara langsung: membaca buku, mencatat pelajaran, menghafal Al-Qur’an, berdiskusi, bertanya kepada guru dan ustaz, hingga menyelesaikan persoalan bersama teman.

Ketika menghadapi tugas yang sulit, misalnya, anak tidak selalu bisa meminta orang tua untuk langsung menyelesaikannya. Mereka belajar mencoba, melakukan kesalahan, mencari solusi, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Begitu pula ketika menghadapi persoalan dengan teman. Anak belajar berkomunikasi, memahami perbedaan, meminta bantuan kepada guru atau ustaz ketika diperlukan, dan berusaha menyelesaikan persoalan secara mandiri. Inilah salah satu pengalaman penting yang sulit digantikan oleh teknologi.


Bukan berarti pesantren harus menjauh dari perkembangan teknologi. Justru santri perlu mengenal dan memahami teknologi agar mampu menghadapi perubahan zaman. Namun teknologi ditempatkan sebagai alat, bukan pengganti proses berpikir dan interaksi manusia.

Bukan Anti-Teknologi
Perkembangan teknologi tentu tidak bisa dihindari. Santri juga perlu mengenal teknologi dan memahami bagaimana menggunakannya secara bijak. Namun, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti guru, teman, atau proses berpikir anak.

Di Pesantren Daarul Qur’an misalnya tiap sabtu dan minggu para santri diperbolehkan membuka laptiopnnya dan terhubung dengan jaringan internet. Ini untuk memberi kesempatan para santri belajar kegiatan lain sesuai peminatannnya. Pada dasarnya pendidikan di pesantren berusaha menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu, pemanfaatan teknologi, pembentukan karakter, dan pengalaman hidup sehari-hari.

Saatnya Mempersiapkan Generasi Qur’ani
Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an hadir dengan pendidikan yang memadukan tahfizh Al-Qur’an, pendidikan formal, pembentukan karakter Islami, kemandirian, dan kehidupan bersama dalam lingkungan pesantren.

Sebab mempersiapkan generasi masa depan bukan hanya tentang membuat anak mampu mengikuti perkembangan zaman. Tetapi juga memastikan mereka memiliki Al-Qur’an sebagai pedoman, ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai karakter, dan kemandirian untuk menghadapi kehidupan. PPDB Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an TA 2027/2028 telah dibuka untuk jenjang SMP dan SMA.

Saatnya mempersiapkan Ananda menjadi generasi Qur’ani yang tangguh, berkarakter, berwawasan, dan siap menghadapi perkembangan zaman.