Di Balik Syari’at Menyembelih Hewan Kurban

Salah satu unsur penting dalam proses penyembelihan hewan kurban adalah tidak dengan cara menyakiti. Sapi, domba atau kambing disembelih dengan cara yang santun yakni sesuai syariat Islam. Bahkan sebelum disembelih, mata hewan ditutup agar terhindar dari melihat senjata tajam dan darah yang menetes.

Penyembelihan tidak seperti menggergaji kayu. Mata pisau harus tepat mengarah pada urat leher. Dengan sekali sayatan hewan akan langsung tersembelih.

Rasa sakit hewan kurban saat akan disembelih otomatis berkurang. Cara seperti ini tentu saja sulit dinalar mengingat terbeset saja sudah sakit, lalu bagaimana dengan disembelih? Namun itulah kuasa Allah SWT.

Lantunan Takbir, Allahu Akbar Allahu Akbar, menunjukkan bahwa kurban ini bukan sama sekali untuk menandingi kebesaran-Nya, tapi bagaimana mengekspresikan keikhlasan dan keteguhan hati kita dalam bertauhid.

Dengan syariat seperti itu kita terhindar dari meyiksa hewan yang tentunya dilaknat Allah SWT. Karena hewan kurban adalah berkah dan disukai banyak orang, di samping kehalalannya yang terjamin. Maka ketika kita menyukai daging hewan sepatutnya kita memperlakukan hewan itu layaknya sesuatu yang kita suka, bukan malah melukai dengan menyiksa.

Dengan syariat Islam, kita belajar bagaimana menghargai dan tidak menyakiti. Allah mengajarkan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain apalagi sampai naik pitam. Karena pada hewan saja kita harus menghormati apalagi dengan sesama manusia.

Kita belajar mengenai nilai-nilai harmoni. Tidak melukai tapi menyukai, tidak marah-marah tapi ramah, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, merangkul bukan memukul, membina bukan memnghina, mencurahkan bukan memurahkan, mencari solusi bukan mencari sensasi, membutuhkan bukan meruntuhkan, membela bukan mencela. Wallahua’lam.

 

Ditulis Oleh: Dr. Mahfud Fauzi, M.Pd, Kepala Biro Fullday Daarul Qur’an

Masih Ingat Pak Nusih ?

Meski tergopoh kala itu, Sanusih masih tampak gagah mendorong gerobak pisang kesayangannya saat PPPA Daarul Qur’an pertama kali bertemu dengannya Agustus lalu. Usianya memang sudah lebih dari 70 tahun, namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mencari nafkah guna membahagiakan keluarga dan berbagi terhadap sesama.

Lewat ketulusan dan keikhlasannya bersedekah, Sanusih memberikan banyak pelajaran kepada orang-orang yang mengenalnya. Terlebih bagi keluarga besar PPPA Daarul Qur’an yang atas izin Allah bisa bertemu langsung dengannya dan berkat dukungan dari seluruh donatur hadiah umrah diberikan untuknya dan sang istri Ibu Werih.

Pak Nusih juga sempat bertemu Guru Besar KH Yusuf Mansur dalam gelaran silaturahmi wali santri di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang pada September lalu. Bersama para santri dan wali, UYM mendoakan agar perjalanan umrah Pak Nusih dan istri dilancarkan dan disegerakan menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Namun, Allah berkehendak lain. Tiga bulan masa pengurusan dokumen keberangkatan Sanusih dan istri, tiba-tiba keluarga mengabarkan Baba -sapaan akrabnya- sakit pada Oktober lalu. Kala itu tubuhnya sempat kaku, tak bisa berbicara dan kesulitan bernafas. Ibu Werih hanya meminta doa agar suaminya segera sembuh dan bisa mewujudkan mimpi mereka melihat Kakbah.

Kondisinya mulai membaik saat tim PPPA Daarul Qur’an membawanya ke Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. Sanusih sempat di rawat selama satu minggu dan menjalani rawat jalan setelah dapat izin dari dokter pulang ke rumah sejak awal November. Tanggal keberangkatan umrah pun sudah ditentukan pada 10 Desember mendatang.

Namun, Allah memanggil Pak Sanusih untuk lebih dulu menghadap-Nya ke peristirahatan terakhir. Mungkin memang sudah waktunya si penjual pisang berhati malaikat itu pergi. Kini, raganya memang sudah tak lagi dapat kita lihat. Namun kehadirannya yang menginspirasi untuk menjadi manusia bermanfaat dengan berbagi dan peduli terhadap sesama akan selalu membekas di hati.

Allah SWT telah menunjukkan tanda-tanda kekuasa-Nya lewat azam Sanusih berangkat ke Tanah Suci bersama istri melalui sedekah hasil menjual pisang di atas gerobak selama bertahun-tahun. Semoga segala bukti yang Allah hadirkan dapat menguatkan iman kita dan keluarga Sanusih. Dan untuk almarhum, semoga diwafatkan dalam kondisi iman yang bertambah.

Selamat jalan Pak Nusih, terima kasih telah memberi banyak pelajaran tentang arti ketulusan dan keikhlasan berbagi, peduli terhadap sesama dalam kondisi apapun. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan, melapangkan kuburmu dan menjadikan setiap kebaikan sebagai amal ibadahmu yang menjadi pemberat di yaumil hisab. Aamiin Allahuma Aamiin.

 

Ditulis oleh : Fani

Abah Ihsan : Bangun Kedekatan Orang Tua dan Anak dengan Waktu Berkualitas

Anak adalah anugrah, anak adalah titipan yang diberikan oleh Allah SWT kepada mereka yang kemudian disebut sebagai orang tua. Anak adalah amanah bagi orang tua agar bisa mendidik mereka menjadi insan berguna yang shalih dan shalihah.

Namun seperti kata pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Bahwa tak mungkin ada seorang anak shalih ataupun shalihah jika keluarganya juga tak shalih. Dengan kata lain, tidak akan ada anak-anak yang shalih dan shalihah tanpa didikan dari orang tua yang shalih juga. Karena membentuk keshalihan anak bukan sekedar tugas sekolah, melainkan ada peran keluarga dan orang tua di dalamnya.

Maka demi mewujudkan anak-anak yang shalih dan shalihah, para guru dari TK-SD Fullday Daqu School menghelat seminar parenting pada Ahad (4/11/2018). Kegiatan seminar yang diselenggarakan di Hotel Allium, Tangerang dan diisi oleh Abah Ihsan sebagai pemateri ini mewacanakan cara baru dan unik dalam mendidik anak yang kelak berdampak positif bagi anak di kemudian hari.

Abah Ihsan dalam kesempatan kali ini menyebutkan betapa pentingnya peran orang tua sebagai role model anak. Menurutnya, jangan menyalahkan anak jika mereka pemarah, karena anak mencontoh orang tua yang mungkin suka marah-marah. Atau, jangan menyalahkan anak jika mereka tak mau shalat, karena mungkin mereka juga menyontoh orang tua mereka yang juga tak pernah shalat. “Apalagi kemudian orang tua malah mulai menyalahkan lingkungan sekolah dan kawan bermain anaknya. Harusnya orang tua melakukan introspeksi diri dan lingkungan sekitar mereka terlebih dahulu,” kata Abah Ihsan.

Abah Ihsan juga selalu mengingatkan para wali murid agar tak memarahi anak dan memaki mereka secara fisik. Hal ini menurutnya bisa berdampak kepada sifat mereka di kemudian hari.

Lalu apa yang dibutuhkan oleh anak dan orang tua agar bisa terkoneksi keinginannya satu sama lain? Menurut Abah Ihsan adalah dengan menciptakan quality time antara anak dan orang tua. Quality time ini dibutuhkan sebuah keluarga agar anak-anak bisa lebih akrab dan lebih mengenal dekat sosok orang tua mereka masing-masing.

Ia juga berpesan, dalam melaksanakan quality time, diharapkan orang tua bisa benar-benar fokus dan mengesampingkan hal-hal yang bisa merusak suasana. Misalnya dengan menjauhkan gawai untuk sementara waktu agar perhatian orang tua ke anak tak terdistraksi.

“Hubungan yang dekat dengan anak itu bukan berarti juga harus di rumah setiap hari, tapi tak berkomunikasi satu sama lain. Karena banyak orang tua atau ibu yang selalu ada di rumah bersama anaknya, namun semua sibuk sama gadget sendiri. Jauhkan sebentar itu HP, mainlah sama anak. Beberapa jam dalam sehari saja sudah bagus,” ujarnya.

 

Oleh : Gasendo

Tentang Hijrah dan Segala Tantangannya

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Penulis : Aditya Nugroho

Fenomena ‘hijrah’ belakangan ini marak terjadi, dari mulai teman sendiri, keluarga atau sanak saudara hingga selebriti mengaku ingin mempraktikkan cara hidup yang sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadist. Apa yang mendorong seseorang berhijrah? Memangnya hijrah yang benar itu seperti apa? Lalu seperti apa tantangan ketika memutuskan berhijrah?

Definisi hijrah sendiri cukup banyak terdapat dalam Al Quran. Contohnya di surah Al Mudatsir ayat 5 yang bermakna ‘menyingkiri’, lalu di surah Maryam ayat 46 yang berarti ‘meninggalkan’ dan ‘berpaling’, kemudian di surah Al Muzammil ayat 10 yang mengandung arti ‘menjauhkan diri (dari sesuatu)’.

Selanjutnya, surah An Nisa ayat 34 memberi pengertian hijrah yang berarti ‘memisahkan’. Lalu berikutnya adalah surah Ali Imran ayat 194 yang mengandung makna ‘memutuskan hubungan’.

Dalam sejarah Islam, konteks hijrah sendiri paling cocok digunakan dalam masa awal dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Ketika mendapatkan penolakan pada awal masanya berdakwah pada tahun 622 Masehi di kota Makkah, Rasulullah bersama para pengikutnya memilih untuk melakukan emigrasi, alias berpindah tempat dari kota Makkah ke kota Madinah.

Sebagai gambaran, jarak antara kota Makkah dengan Madinah kurang lebih 450 km, seperti jarak antara Jakarta dan Semarang. Jarak yang cukup jauh untuk menyingkir dari pengaruh buruk kaum penyembah berhala yang waktu itu telah hidup turun-temurun menguasai kota dan selalu menentang dakwah, bahkan ingin membunuh Rasulullah.

Pada zaman sekarang, hijrah tetaplah tidak berubah maknanya. Pada hakikatnya, hijrah adalah mengubah kebiasaan lama yang buruk dan tidak sesuai dengan tuntunan hidup yang diajarkan dalam Al Quran dan Hadist menjadi kebiasaan baru yang sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadist. Karena itu, hijrah menjadi kewajiban bagi seorang muslim/muslimah, bukan pilihan.

Dorongan Berhijrah

Ada beberapa contoh kisah sehari-hari yang melatarbelakangi seseorang berhijrah. Bermunculannya ustadz yang berdakwah memanfaatkan teknologi dan media sosial memang efektif untuk memberikan pengetahuan agama kepada kita-kita yang sibuk bekerja dan sulit untuk mendatangi langsung majelis ilmu. Dengan menggunakan media seperti Youtube, kita bisa mempelajari agama dengan cara yang mengena bagi masing-masing.

Contohnya, ada yang senang mendengarkan pembahasan mengenai akhir zaman atau tanda-tanda kiamat. Siapa sih yang tidak bergidik ngeri dengan pembahasan yang satu itu? Dari rasa takut itulah kemudian muncul keinginan memperdalam ilmu agama agar memiliki kesiapan dan diberi keselamatan dalam huru-hara akhir zaman.

Topik-topik yang kita sukai itulah yang kemudian menjadi gerbang bagi kita untuk mempelajari lebih jauh tentang keindahan agama Islam secara menyeluruh.

Ada pula kisah-kisah inspiratif para mualaf tentang bagaimana mereka mendapatkan hidayah. Hidayah memang ‘mahal’, dan Allah memang tidak memberikannya kepada semua orang, kecuali mereka yang memiliki keinginan untuk ‘menjemputnya’ sendiri. Menyaksikan dan mendengar kisah mereka dalam menemukan kebenaran Islam sudah pasti membuat kita yang sudah Islam dari lahir akan berpikir. Mengapa mereka yang harus mencari sendiri saja bisa memahami Islam dengan lebih baik daripada kita? Hal ini kemudian bisa menjadi pendorong kita untuk berhijrah.

Penulis juga pernah mendengar kisah seorang teman yang berhijrah karena pengalaman hidup yang ia dapat. Ia yang memutuskan berhijrah setelah melihat sahabat karibnya jatuh sakit lalu meninggal dunia. Teman saya itu diceritakan tentang mimpi yang dialami sahabatnya sebelum meninggal, bahwa ia diberitahu tentang dosanya yang sebesar bukit. “Dia yang sebaik itu punya dosa sebesar bukit, gimana gue?” Sejak saat itulah ia memutuskan untuk memperbaiki diri dan mempelajari ilmu agama dengan lebih serius, alias berhijrah.

Setiap orang pada dasarnya diberi kesempatan untuk berhijrah dengan cara yang berbeda-beda. Tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapinya, dan apakah kita memilih untuk mendatangi atau malah mengabaikannya. Dengan bahasa yang lebih sederhana, pada dasarnya kita yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya. Maka ketika kita menyaksikan seseorang berhijrah, tidak usah menanggapinya dengan sinis, justru berikanlah segala bentuk bantuan agar proses hijrahnya optimal dan ia terus istiqomah.

Hijrah Itu Seperti Apa?

Yang paling terlihat jelas dari orang-orang yang mulai berhijrah ini tentu saja dari caranya berpakaian. Wanita yang mulai berhijrah akan memakai pakaian jilbab panjang, atau biasa disebut dengan hijab syar’i. Buat kaum pria, maka memakai celana cingkrang alias celana yang dinaikkan ke atas mata kaki dijalankan agar tidak isbal.

Itu baru dari cara berpakaian. Yang tidak kalah penting adalah hijrah perilaku dan kebiasaan. Ini jelas lebih sulit.

Jelas lebih sulit karena mengubah perilaku dan kebiasaan ini rasanya tidak sesederhana mengubah penampilan. Contoh kongkrit dari mengubah perilaku adalah dari yang semula terbiasa curang ketika berdagang atau bekerja, maka ketika memutuskan untuk hijrah, maka tidak boleh curang lagi, apalagi korupsi. Yang dulunya suka bergunjing atau melakukan ghibah, maka sudah tidak boleh ngegosip lagi. Lalu yang dulunya suka berjudi, meminum minuman keras, pacaran apalagi berzina, maka jika sudah berhijrah, semua itu harus ditinggalkan. Banyak lagi contohnya yang bisa jadi satu buku sendiri kalau dibahas satu persatu. Jalan hijrah memang harus melalui hal-hal sulit dan tidak mengenakkan, sebaliknya jalan kesesatan selalu ditunjukkan melalui berbagai kenikmatan dunia.

Begitu juga tentang kebiasaan. Ini juga tidak gampang. Dalam hal beribadah misalnya, jika tadinya salat kita masih bolong-bolong, maka ketika memutuskan berhijrah, tidak boleh lagi seperti itu. Malah kalau bisa, salat dilakukan pada awal waktu secara berjamaah di masjid (untuk laki-laki). Lebih utama lagi, kerjakan juga salat sunnah dan ibadah-ibadah yang dianjurkan lainnya seperti berpuasa senin dan kamis, dan sebagainya.

Lalu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya yang tadinya suka menghabiskan waktu berjam-jam nonton film drama atau mendengarkan musik, maka kalau sudah berhijrah, harus dikurangi karena akan lebih berfaedah memperdalam ilmu agama atau memperbaiki bacaan Al Quran. Lalu yang sebelumnya suka nongkrong dari pagi hingga sore di mall, maka kalau sudah hijrah, kebiasaan ini diganti dengan mengikuti kelompok pengajian atau majelis ilmu.

Hijrah Secara Fundamental

Selain itu, seseorang yang berhijrah dan memutuskan untuk total dalam memperdalam agama demi menjadi muslim/muslimah yang baik juga harus memiliki mental yang kuat. Harus istiqamah dan tidak boleh mudah menyerah.

Yang tadi disebutkan baru perilaku dan kebiasaan secara fisik, alias yang secara kasat mata bisa dilihat orang. Tapi yang lebih fundamental alias mendasar dari sebuah hijrah adalah hijrah sejak dalam pikiran.

Apa tuh maksudnya? Jika sudah memutuskan hijrah, kita harus berprasangka baik kepada Allah (khusnudzan) atas segala hal yang terjadi pada diri kita. Tidak boleh lagi mengeluh, apalagi menyalahkan Allah dan memvonis Allah tidak adil dan sebagainya. Terlebih jika segala keluhan itu di-posting di akun media sosial.

Hijrah ini pula berarti bersikap ikhlas, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, dan karena itu kita harus memiliki mentalitas untuk selalu berserah diri, atau bertawakal.

Lalu kemudian, kalau sudah hijrah, kita harus berupaya menghilangkan segala penyakit hati. Jadi yang namanya iri, dengkihasadriya dan sebagainya itu tidak boleh lagi menjadi peliharaan kita. Membuat hijrah jadi kurang bermakna.

Biarkan sajalah orang lain dengan segala keberhasilan yang mereka pertontonkan, toh itu semua bukan urusan kita. Lagipula, masing-masing orang telah melalui perjuangannya sendiri untuk bisa menggapai hidup yang mereka rasakan sekarang.

Sebaliknya, jika kita sebagai pihak yang merasakan berkah yang memungkinkan kita mendapatkan segala nikmat dunia, maka sebagai muslim/muslimah yang telah berhijrah, kita harus bisa menahan diri untuk tidak mempertontonkan glorifikasi atau memamerkan keberhasilan itu untuk membuat orang lain terjangkit penyakit hati.

We buy things we don’t need, with the money we don’t have, to impress people we don’t like.

Jangan sampai barisan kata satir yang muncul di film Fight Club (1999) ini menjadi gambaran hidup kita sehari-hari.

Tantangan Ketika Berhijrah

Ketika melakukan hal-hal baik, ada saja tantangan yang dihadapi, baik itu dari diri sendiri sampai gunjingan dari orang lain.

Ada saja bisikan-bisikan yang datang dari diri sendiri yang meragukan kemampuan diri untuk berhijrah. “Percuma deh, nanti udah pakai hijab, malah lepas lagi karena gak kuat. Kan malu-maluin.” Padahal, lebih baik memulai dulu dari pada tidak dimulai sama sekali. Sekali lagi, hijrah adalah kewajiban, bukan pilihan.

Ini baru dari diri sendiri, yang juga tidak gampang dihadapi adalah reaksi dari orang-orang di sekitar. Dari ledekan hingga cibiran, dari yang sinis hingga yang ragu, itulah yang akan kita hadapi. Bersiap-siaplah untuk dibilang “Ah sekarang elu gak asik lagi!” atau “Sekarang kok jadi sok serius? Sok suci pula.” Bahkan ada pula keraguan dari orang lain “Yah, paling-paling besok udah balik lagi ke tongkrongan.”

Langkah selanjutnya ketika pikiran kita sudah berhijrah, adalah menegakkannya dalam keseharian, alias mendakwahkannya sesuai kapasitas dan kemampuan. Kalau dalam budaya populer, maka kata-kata yang diucapkan penulis asal Irlandia yang hidup di abad ke-18 Edmund Burke berikut ini bisa dijadikan contoh:

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” Pernah menonton film Tears of The Sun yang dibintangi Bruce Willis dan Monica Bellucci? Quote tersebut berasal dari film ini. Esensi dari film yang berlatar konflik bersenjata di Afrika Barat ini adalah ajakan untuk menegakkan kebenaran agar penguasa jahat tidak lagi berkuasa.

Islam sudah mengajarkan bahasa yang lebih sederhana dan sudah sering kita dengar yaitu Amar Ma’ruf, Nahi Munkar. Ajaran dari para Nabi yang tentunya lebih dulu lahir daripada Sir Edmund Burke.

Masalahnya dalam konteks bermasyarakat kita pada zaman now, individualisme dan kebebasan amat diagungkan. Jadi ketika kita menasihati saudara kita yang kerap melakukan hal tidak baik, maka balasan yang kita dapat dari orang yang kita nasihati itu adalah:

“Yang dosa gue, kok elu yang repot?!”

“Duit duit gue, kok elu yang ikut campur?!”

“Elu gak ngasih gue makan, kenapa gue harus dengerin nasihat lu?!”

“Sok suci banget sih lu, macam udah pasti masuk surga aja pakai nasihatin orang.”

“Siapa sih lu? Kok ngurusin hidup orang. Emangnya hidup lu sendiri udah bener?”

Familiar? Ya, begitulah tantangannya. Sabar. Doakan saja. Toh sebelum kita berhijrah, kita juga pernah mengalami fase seperti itu, bukan? Doakan saja, karena mereka sebetulnya tidak tahu. Atau mungkin sudah tahu, tapi belum tahu bagaimana cara memulai.

 

* sumber foto google[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Semangat yang Tak Kunjung Padam untuk Menuntut Ilmu

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Oleh Mr. Darmawan

 

Islam telah mengajarkan kita untuk selalu menjadi pencari ilmu yang gigih selama kita masih hidup. Tidak hanya sekedar mencari pengetahuan  agama semata-mata, tetapi juga mencari ilmu-ilmu duniawi yang menjadi kebutuhan asasi bagi setiap insan.

Tidak ada agama lain yang mendudukkan ilmu pengetahuan sedemikian pentingnya seperti agama Islam. Islam bahkan menganggap bahwa yang tidak berupaya mencari ilmu maka ia telah berbuat dosa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Mencari ilmu pengetahuan adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Hadist Al-Tirmizi)

Kewajiban ini tidak terbatas pada jenis kelamin atau kelas sosial tertentu saja, tetapi telah menjadi kewajiban bagi setiap perempuan dan laki-laki, muda dan tua, miskin dan kaya. Allah telah mengangkat derajat dan status mereka yang memiliki pengetahuan, dan telah memuji mereka di banyak tempat di dalam kitab suci Al-Quran. Allah SWT berfirman:

“Allah meningkatkan posisi orang-orang yang beriman dan mereka yang telah diberi pengetahuan beberapa derajat.” (Quran 58:11)

Ada perbedaan besar antara seorang Muslim yang memiliki pengetahuan dan orang yang tidak. Nabi menggambarkan hal ini dalam sabdanya:

“Keunggulan seorang ahli agama di bandingkan orang mukmin lainnya adalah seperti keunggulan bulan purnama di atas bintang-bintang lainnya” (Hadist riwayat Abu Dawud).

Nabi SAW pun pernah pula bersabda:

“Keunggulan seorang ahli agama di bandingkan orang mukmin lainnya adalah seperti keunggulan diriku di atas orang paling rendah dari kalian” (Hadis riwayat Al-Tirmidzi)

Mengapa Allah memberikan posisi yang tinggi seperti itu kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan di bandingkan kepada mereka yang tidak? Karena sesungguhnya para pembawa risalah (para nabi dan rasul) bertugas untuk menyampaikan kepada setiap manusia agar menyembah Allah dengan benar, lakukanlah perbuatan yang menyenangkan Allah dan hindari apa yang membuatNYA murka.

Jika seorang muslim tidak berilmu, maka ia akan menjalani seluruh hidupnya dengan melakukan hal-hal yang menentang ajaran Diinullaah, yang menyebabkannya mendapatkan kemurkaan Allah.

Ilmu apakah yang harus dipelajari sebagai seorang Muslim?

Jadi muncul pertanyaan, apakah itu kewajiban untuk mencari pengetahuan tentang agama, dan bidang pengetahuan di dalam agama begitu luas, jenis pengetahuan apa yang harus dicari? Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ilmuwan besar Islam, menjawab bahwa wajib bagi setiap individu Muslim untuk mencari ilmu pengetahuan yang membuatnya dapat menjalankan agamanya dengan benar. Berikut adalah di antaranya:

  • 1) Aqidah Ini adalah aspek yang paling penting dari Islam yang harus dipelajari seorang Muslim, karena melalui aspek inilah seseorang benar-benar menjadi Muslim. Tujuh belas tahun pertama dari semenjak wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW maka materi utamanya ditujukan untuk mengoreksi keyakinan dan aqidah tentang Allah. Menekankan bahwa tidak ada ibadah yang ditujukan kepada siapa pun kecuali DiriNYA
  1. Pengetahuan tentang aspek-aspek ibadah. Seperti yang kita tahu, Allah telah memerintahkan umat Islam untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu. Banyak dari ibadah ini bersifat wajib dan, pada gilirannya, seseorang harus tahu bagaimana tata cara melakukannya. Misalnya, Allah telah mewajibkan kita untuk sholat minimal lima kali perhari, jadi telah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengetahui bagaimana mendirikan sholat dengan benar. Juga, sebagai salah satu syarat dalam sholat adalah untuk menyucikan diri (berwudhu), sehingga seseorang harus tahu bagaimana cara melakukannya.
  2. Mengetahui apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan rahmat Allah, Dia telah mendorong kita untuk menikmati banyak karunia dan rezeki yang telah Dia ciptakan. Umat Islam pada hakikatnya harus yakin bahwa segala aspek dalam kehidupan mereka, apakah itu ideologi, sosial-politik, ekonomi, bisnis-perdagangan, hukum, keadilan, syariah, sosial budaya, atau bidang lainnya, telah dibuatkan pedoman yang berasal dari AlQuran dan Hadits.
  3. Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, sebagai anggota keluarga besar Daarul Quran kita juga harus belajar bagaimana cara memurnikan hati dan perbuatan kita dari sifat dan sikap yang tidak baik. Seorang Muslim harus tahu bagaimana cara memurnikan hatinya sehingga hidupnya semata-mata hanya untuk mencintai Allah saja. Sebagai Muslim kita juga harus belajar tata cara hidup Nabi Muhammad SAW yang mulia yang diajarkan kepada kita, dan mencoba untuk meneladanisuri tauladan dan peri kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh tauladan yang utama.

[/vc_column_text][vc_media_grid grid_id=”vc_gid:1515395753506-bcaab9e2-4302-1″ include=”16138,16139″][/vc_column][/vc_row]

Adab Mudik

Oleh KH Ahmad Kosasih, Dewan Syariah Daarul Qur’an

 

Tanya: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kyai, tolong jelaskan perlunya mudik menurut pandangan Islam. Terima kasih. Wassalam.

 Jawab:

Secara lughawi (bahasa), ‘’mudik’’ berasal dari kata “udik”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ia berarti ‘’sungai di sebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) di hulu sungai’’. Konotasinya adalah sumber yang orisinil dan jernih, yang bisa dimaknai sebagai orangtua, keluarga, atau kampung halaman.

Dalam konteks ini, silaturahim adalah ajang untuk menjernihkan dan menyambungkan (clearing) hubungan. Sebagaimana dikatakan Nabi SAW: ‘’Bersilaturahim adalah menyambung yang putus’’ (HR Bukhari). Selanjutnya, kesinambungan hubungan berdampak pada tersambungnya (bertambah) usia dan rejeki.

Mudik juga obat mujarab untuk kelelahan jiwa yang diderita para insan di rantau, terutama kaum marginal. Clinard dalam bukunya Slums and Community Development mengatakan, kaum urban kelas bawah merupakan kelompok masyarakat yang secara sosial dicampakkan, secara budaya dihina, secara ekonomi diperas, secara politik dimanfaatkan, dan oleh masyarakat yang telah mapan mereka ditekan.

Nah, dengan mudik, kaum urban jelata kembali ke habitat asli, yang langka mereka temukan di rantau. Yakni, hidup saling mengenal dan menumbuhkan semangat kebersamaan (in group feeling). Habitat yang menimbulkan perasaan aman, damai, dan tenteram. Di tengah kerabat dan sahabat sekampung, mereka merasa di-wongke kembali.

Bagi yang ‘’sukses’’ di rantau, mudik bisa menjadi semacam ‘’pembuktian diri’’. Tak ada salahnya pemudik menampakkan sukses yang diraihnya di rantau selama ini, asalkan tidak bermuatan riya’, ujub, tabdzir, yang berpotensi memicu social jealous. Sebab, menampakkan sukses dapat merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah. Sebagaimana firman-Nya: ‘’Adapun nikmat Tuhanmu maka kabarkanlah’’ (QS 93:11). Demikian juga wasiat Rasulullah SAW: ‘’Allah senang melihat nikmat-Nya (ditampakkan) oleh hamba-Nya.’’

Dengan segenap maknanya itu, tak heran bila mudik menjadi ritual massal tahunan. Meskipun perjalanan pulang kampung ini sangat berat secara fisik, kejiwaan, maupun finansial, ia tetap menjadi tradisi. Belasan juta orang tahun ini diperkirakan mudik dengan menggunakan berbagai moda transportasi.

Namun, ‘’udik’’ menurut KBBI juga berarti ‘’desa, dusun, kampung (lawan dari kota)’’, yang berkonotasi negatif seperti tidak tahu tata krama nasional, ketinggalan jaman, norak. ‘’Ndeso,’’ kata Tukul Arwana.

Makna bahasa itu mengingatkan, mudik juga berpotensi buruk. Misalnya, menghalalkan segala cara untuk bisa pulang kampung dan tiba di sana secepatnya. Adab safar seperti kemuhriman, keselamatan, kepedulian, toleransi sesama musafir, dan sebagainya, terabaikan. Saling potong jalan, saling salip, perang klakson, tawur umpatan, acap mewarnai lalulintas mudik yang crowded.

Bahkan sebagian orang mengorbankan the last ten days of Ramadhan demi mudik. Puasa tidak, sholat enggak, tarawih pun bablas. Padahal, sepuluh hari terakhir Bulan Suci sangat istimewa. Terselip di dalamnya, satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qodar). Karena itulah Rasullah SAW sekalipun, yang maksum dan dijamin masuk surga paling top tanpa hisab, semakin getol beribadah di hari-hari akhir Ramadhan.

Seperti disampaikan Aisyah ra: “Bila masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan kainnya, menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (HR  Bukhari).

Kehadiran pemudik juga bisa membawa bencana. Terungkap dalam seminar internasional mengenai dampak mobilitas penduduk terhadap perubahan sosial (International Migration edisi Juni 1989), bahwa migrasi desa-kota menimbulkan benturan-benturan norma dan nilai di daerah pedesaan. Paulo Coelho, salah satu pemakalah, menyatakan, “Migration has seriously jolted rural traditional values and behavior through the new style introduced by out-migrants.”

Selain berdampak positif terhadap pembangunan desa, pelaku mobilitas ada yang membawa dan menyebarkan kebiasaan buruk ‘’orang kota’’ seperti berjudi, mabuk-mabukan, mencuri, memeras, dan prostitusi. Tradisi warga desa yang santun dan beradab pun perlahan luntur jadinya.

Karena itu, ada baiknya juga memaknai mudik dalam khazanah Bahasa Jawa: mudiko, yang berarti ‘’naik’’. Pulang kampung mestinya membuat pemudik ‘’naik’’ di hadapan Allah SWT maupun umat manusia.

Naik-turunnya derajat manusia di hadapan-Nya, tergantung pada ketakwaan. Dan, Ramadhan bertujuan agar orang beriman semakin takwa. Karena itu, bulan puasa bukanlah bulan untuk memburu sebanyak-banyaknya dunia demi membagus-baguskan penampilan saat lebaran. Sebab, kata Nabi Muhammad SAW, ‘’Allah tidak memandang fisik dan penampilanmu, melainkan takwamu.’’

Selanjutnya, kemaslahatan diri bagi lingkungan adalah pesonal value yang membuat seseorang pantas ’’naik kelas’’ secara sosial.  Sebaik-baik manusia, kata Nabi Muhammad SAW, ‘’adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.’’

Bagi insan nafi’an, kelimpahan rejeki lebaran yang dia raih tak lupa disenggolkan keberkahannya bagi kaum dhuafa. Bukan untuk pamer, gagah-gagahan, jor-joran. Rasul SAW berkata, “Zuhudlah di dunia, niscaya Allah cinta kepadamu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka mencintaimu” (HR Ibnu Majah).

Last but not least, mudik –sebagaimana adat ziarah kubur yang menjadi komplemennya—hendaknya menjadi wahana untuk mengingat kematian. Tak kurang dari enambelas kali Al Qur’an menyebut kata  raaji’uun,  yang artinya mudik ke haribaan Allah SWT, mudik ke kampung akhirat nan kekal.

Jika mudik lebaran begitu kita bela-belain sampai titik keringat, darah, dan airmata serta isi kantong penghabisan, tidakkah kita mengerahkan segala daya upaya hidup terbaik untuk kembali ke kampung akhirat?

Berkumpul dan Bergeraklah!

Oleh : Ust. Rino Zeldeni, S.PdI

 

Ramadan adalah momentum dari Allah bagi mu’minin dan mu’minat untuk melakukan revitalisasi dan redinamisasi kehidupannya sebagai seorang muslim & da’i (baca : guru)

Ramadan mengembalikan kita pada fitrah. Dalam kondisi fitrah, lebih mudah bagi kita berkomunikasi dengan Allah SWT. Allah SWT hanya menerima komunikasi efektif dari orang-orang yang mampu memelihara fitrahnya.

 

Semangat kebersamaan

Diantara fenomena Ramadan yg harus terus kita jaga adalah semangat kebersamaan, karenanya kita temukan ada; tarawih berjamaah, tadarus Al Qur’an, ifthor Jama’i, i’tikaf bersama dan lain-lain.

Jangan sampai ba’da Ramadan hidup kita jadi nafsi-nafsi (individualis). Padahal dalam Al Qur’an nafsi-nafsi itu bahasa akhirat. Dunia adalah waktunya bekerjasama, bergandengan tangan, bahu-membahu satu dengan yang lainnya. Di akhirat nanti, setiap orang akan lari dari saudara, ibu, bapak, saudara dan anak keturunannya. Setiap orang akan datang menghadap Allah sendiri-sendiri, tanpa pendukung seorang pun.

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ﴿٣٧

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya (34) dari ibu dan bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)” (QS. ‘Abasa : 34 – 37)

Oleh karena itu, ruh amal jama’i harus terus ditularkan kepada masyarakat. Kita harus jadi daya kohesif (unsur pemersatu) ditengah-tengah masyarakat. Jadilah pemersatu dan jangan jadi pemecah belah.

 

Berkumpul dan bergeraklah!

Berkumpul dan bergeraklah. Kalau hanya berkumpul tapi tidak bergerak, akan terjadi pembusukan. Lihatlah air laut, kotoran dari berbagai tempat berkumpul di sana. Namun karena bergerak, maka ia jadi bersih dan bermanfaat.

Bergeraklah dalam jamaah. Berjamaah tanpa beramal jama’i (bergerak), akan terjadi pembusukan. Biasanya kebusukan itu dimulai dari busuk mulut (ghibah, namimah, mencela, dll).

 

Meningkatnya kepedulian sosial

Fenomena Ramadan lain yang harus terus dijaga adalah meningkatnya kepedulian sosial. Ada zakat dll. Hal ini harus terus dikawal dan pelihara.

Kita harus menyadari bahwa setiap kita berhutang budi kepada sesama. Kita banyak mengkonsumsi jasa orang tua, teman hidup, anak-anak, tetangga, teman, kolega, partner kerja, dll.

Kalau setiap orang hanya ingin mengkonsumsi kebajikan orang lain, kita akan mengalami defisit kebajikan. Akan terjadi qoswatul qulub (hati yang keras). Padahal batu yang keras, masih ada yang bermanfaat dengan keluar air darinya. Tapi hati yg keras? tak bermanfaat sama sekali.

Harus kita akui bangsa ini defisit kebajikan. Makanya banyak hutang dan diberi oleh bangsa lain. Semoga bangsa ini jadi bangsa surplus kebajikan.

Mari memproduksi kebajikan sehingga jalan juang kita ini (Daarul Qur’an), surplus kebajikan. Yang surplus kebajikan akan menjadi rahmatan lil ‘alamin.

 

Kecenderungan ta’at

Fenomena Ramadan lain yang harus terus di jaga adalah kecenderungan taat. Jangan sampai Ramadan bulan taat, syawal kembali maksiat.

Manusia itu seluruhnya, mempunyai potensi kebaikan dan juga keburukan. Sedangkan dakwah itu; optimalisasi potensi kebaikan & meminimalisir bahkan mengeliminir keburukan.

Mayoritas manusia, akan memberikan loyalitas dan keta’atan kepada yang melayaninya. Oleh karena itu, mari produksi kebajikan sehingga surplus kebajikan.

Ketika bangsa ini surplus kebajikan, maka tidak hanya manusia, binatangpun diperhatikan seperti di zaman Khalifah Umar bin Khattab.

“Jika ada keledai terperosok di Irak, maka Umar yg bertanggung jawab” (Umar bin Khattab).

Bahkan ketika itu Umar jug instruksikan aparatnya untuk menebar gandum di bukit-bukit; “Supaya tidak ada org yang berkata : ada burung kelaparan di negeri muslim”, katanya.

Demikian juga anaknya, Ibnu Umar, yang tiap hari melempar gula ke sarang semut di samping rumahnya. “Berbuat baik pada tetangga”, katanya.

Re-definisi Ma’na Pendidikan

Oleh : Mr. Rinno, Kalibata

 

Diantara indahnya ciptaan Allah di dunia ini, Allah menciptakan beragam bahasa manusia. Namun kemudian Dia memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an. DR. Sa’id Ramadhan Al Buthy dalam kitab beliau fiqhus siroh menjelaskan beberapa ibroh terkait hal ini. Karenanya sangat layak kiranya, dalam konteks pemahaman yang komprehensif terhadap dunia pendidikan dan tuntutannya kalau kita merujuk kedalam bahasa pilihan Allah.

Pendidikan dalam bahasa Arab adalah At Tarbiyah, yang secara bahasa berma’na Tansyi`ah (pembentukan), Ri`ayah (pemeliharaan), Tanmiyah (pengembangan), dan Taujih (pengarahan).
Maka proses Pendidikan yang kita lakukan dengan menggunakan sarana dan media yang beragam, intra maupun ekstra kurikuler, seperti KBM di kelas, halaqoh Qur’an, mabit, seminar, camping, outbound, outing class dan lainnya, harus memperhatikan empat hal diatas sebagai langkah-langkah praktis untuk sampai pada tujuan strategis yaitu terbentuknya pribadi muslim da`i atau muslim yang tidak hanya shalih secara pribadi, namun mushlih bagi lingkungan sosialnya.

1. Tansyi`ah ( pembentukan )
Dalam proses tansyi`ah harus memperhatikan tiga sisi penting yaitu :
a. Pembentukan Ruhiyah Ma`nawiyah (Afektif). Pembentukan ruhiyah ma`nawiyah dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah ritual seperti sholat dhuha, qiyamul lail, shaum
sunnah, tilawah Qur`an, dzikir dll. Para Pendidik harus mampu menjadikan sarana-sarana pendidikan semisal mabit, muhasabah, tausiyah, dalam membentuk pribadi siswa pada sisi ruhiyah ma`nawiyahnya dan dirasakan serta disadari oleh siswa bahwa ia sedang menjalani proses pembentukan ma`nawiyah ruhiyah. Jangan sampai mabit hanya untuk mabit.

b. Pembentukan Fikriyah Tsaqofiyah (Kognitif). Sarana dan media Pendidikan kognitif harus dijadikan sebagai sarana dan media yang dapat membentuk peserta didik pada sisi pemikiran dan intelektual, jangan sampai KBM hanya sebagai penggugur kewajiban sebagai seorang siswa, tetapi harus jelas tujuannya bahwa KBM untuk pembentukan pemiiran yang benar dan utuh, dan ini harus disadari dan dirasakan oleh Pendidik dan Siswa.

c. Amaliyah Harakiyah (psikomotorik). Proses Pendidikan selain bertujuan membentuk pribadi dari sisi ruhiyah ma`nawiyah (afektif) dan fikriyah tsaqofiyah (kognitif), juga bertujuan membentuk amaliah harakiyah (psikomotorik) yang harus dilakukan secara berbarengan dan berkeseimbangan. Sehingga sisi ruhiyah ma`nawiyah (afektif) dan fikriyah tsaqofiyah (kognitif) teraktualisasi dan terformulasi dalam bentuk amal nyata dan kegiatan ril serta dirasakan oleh lingkungan dan mayarakat luas.

2. Ar ri`ayah ( pemeliharaan ).
Kepribadian Islami yang sudah atau mulai terbentuk harus dijaga dan dipelihara ma`nawiyah, fikriyah dan amaliyahnya serta harus selalu dimutaba`ah (dikontrol) dan ditaqwim (dievaluasi) sehingga jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas ibadah ritual, wawasan konseptual, pemikiran dan amal tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Tidak ada penurunan dalam tilawah, sholat dhuha, qiyamul lail, shaum sunnah, baca buku, tatsqif, semangat belajar dan aktivitas pembelajaran lainnya.

3. At Tanmiyah ( pengembangan ).
Dalam proses Pendidikan, Pendidik dan Siswa tidak boleh puas dengan apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apalagi menganggap sudah sempurna. Pendidik dan Siswa yang baik adalah Pendidik dan Siswa yang selalu memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta meningkatkan kualitas, berpandangan jauh kedepan, bahwa Pendidikan harus siap dan mampu menawarkan konsep perubahan dan dapat mengajukan solusi dari berbagai permasalahan ummat dan berani tampil memimpin umat. Oleh karenanya kualitas diri merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan dalam proses Pendidikan.
4. At Taujih ( pengarahan ) dan At Tauzhif ( Pemberdayaan ).
Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik dan berkualitas secara pribadi namun harus mampu memberdayakan, menjadi unsur perubah yang aktif dan produktif (Al Muslim Ash-Shalih wal Mushlih). Pendidik dapat mengarahkan, memfungsikan dan memberdayakan siswanya sesuai dengan bidang dan kapasitasnya. Siswa siap untuk diarahkan, ditugaskan, ditempatkan dan difungsikan, sehingga dapat memberikan kontribusi ril bagi masyarakat, bangsa dan ummat, tidak ragu berjuang dan berkorban demi tegaknya dienul Islam.

“Diantara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka telah janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.“ ( QS 33 : 23 )

Indikasi keberhasilan Pendidikan bisa dilihat pada peran dan kontribusi siswa dalam penyebaran pemikirannya, pembentukan masyarakat Islam, memerangi kemungkaran memberantas kerusakan dan mampu mengarahkan dan membimbing umat ke jalan Allah. Serta dalam keadaan siap menghadapi segala bentuk kebathilan yang menghadang dan menghalangi lajunya da`wah Islam.

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min diri dan harta mereka dengan memberikan syurga kepada mereka, mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur`an, dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah 9 : 111)
Semoga Allah selalu bersama kita dan kemenangan memihak kepada kita.

“ Jika kamu membela (agama) Allah, pasti Allah memberikan kemenangan kepadamu dan mengokohkan kakimu diatas jalan yang haq “

Membumikan Semangat La ilaaha illa Allah

Oleh : Mahfud Fauzi
Staf Biro Dakwah Pesantren Tahfizh Daarul Quran

 
Ungkapan Laa Ilaaha Illa Allah adalah sebuah perkataan tauhid yang makna harfiahnya adalah “menyatukan” atau mengesakan. Kata tauhid dimaksudkan sebagai faham “me maha-esa-kan Tuhan”. Pada dasarnya kata tauhid itu pun tidak termaktub dalam al Qur’an, tetapi bukan berarti kata tersebut hampa dalam al qur’an, karena yang ada di dalam al qur’an adalah kata yang merupakan turunan dari tauhid itu sendiri seperti kata (ahad dan wahid ) dan kata ahad dan wahid itu pun merupakan representasi dari kata tauhid itu sendiri yakni “tentang ajaran untuk meng-esa-kan Tuhan.”

Dalam pandangan keagamaan umumnya umat muslim di Indonesia terdapat kesan amat kuat bertauhid adalah hanya berarti beriman atau percaya kepada Allah. Namun apabila kita mengkaji lebih dalam dan teliti kitab suci al qur’an. Ternyata bertauhid tidaklah sepenuhnya demikian. Contohnya orang-orang musrik Makkah yang memusuhi Rasulullah dahulu itu adalah kaum yang benar-benar percaya kepada Allah. Dan sungguh jika kau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “siapakah yang menciptakan langit dan bumi” pastilah mereka akan menjawab Allah!. Katakan: apakah kamu renungkan sesuatu (berhala) yang kamu seru (sembah) selain Allah itu? Jika Allah menghendaki bahaya atasku, Apakah mereka mampu atas melepaskan bahaya itu? Dan jika Dia (Allah) menghendaki rahmat untukku, apakah mereka (berhala-berhala) mampu menahan Rahmat-Nya? Katakan Muhammad : cukup bagiku Allah saja, kepada-Nya lah bertawakal mereka yang mau bertawakal. (q.s Az-Zumar ; 38).

Maka dari itu, Huston Smith seorang ahli filsafat modern, dalam pengamatannya atas fenomena Islam memandang Islam berarti sikap pasrah atau tunduk kepada Tuhan justru menjadi pangkal kebebasan kaum muslim dan sumber energi mereka yang hebat. Sebagaimana terbukti dari ledakan politik luar oleh orang arab muslim pada abad ke-7. Oleh karena itu untuk manusia pada umumnya dan mereka yang telah memiliki kepercayaan kepada Tuhan, proses pembebasan itu tidak lain ialah pemurnian kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Pertama, melepaskan diri dari kepercayaan kepada yang palsu, kedua dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar. Seseorang disebut menuhankan keinginan dirinya sendiri jika dia memutlakan diri dan pandangan atau fikirannya sendiri.

Biasanya orang seperti ini akan mudah terseret pada sikap-sikap tertutup dan fanatik yang amat cepat bereaksi negatif pada sesuatu yang datang dari luar. Inilah salah satu bentuk kungkungan hawa nafsu. Hanya dengan melawan itu semua melalui proses pembebasan diri seseorang akan mampu menangkap kebenaran. Pembebasan diri yang diperoleh melalui kalimat syahadat la ilaha illa Allah itu dipandang dari sudut pandang effeknya kepada peningkatan harkat dan derajat kemanusiaan pribadi seseorang membuat seorang manusia merdeka sejati, akan menghilangkan dari dirinya sendiri setiap halangan melihat yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

Kita fasih dalam mengucapkan zikir tersebut, namun pada sisi yang lain justru kita tidak membumikannya, karena kita tidak melibatkannya dalam setiap jenjang permasalahan kita sehari-hari. Maka dengan demikian, kita harus mengejawantahkan semangat tauhid dalam bentuk kehidupan sehari-hari kita.

Cara membumikan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah dengan cara menghadirkan hanya Allah sajalah yang bisa menyelesaikan segala persoalan kita, melibatkan Allah dalam setiap nafas gerak kita, sehingga nyata bagi kita bahwa tidak tuhan yang bisa membuat kita ingin punya rumah hanya karena bantuan Allah, tidak ada tuhan yang bisa membuat kita ingin punya kendaraan kecuali dari Allah, tidak ada tuhan yang bisa memberikan kita keturunan kecuali atas pertolongan Allah, tidak ada tuhan yang pantas memberikan kita ingin kedudukan jabatan kecuali hanya karena kuasa Allah, tidak ada tuhan yang bisa memberangkatkan kita umroh dan haji kecuali atas izin  Allah, tidak ada kekuatan tuhan yang bisa menghindarkan kita dari kecelakaan kecuali karena pertolongan Allah, tidak ada tuhan yang bisa membuat kita ingin terkenal masyhur kecuali karena Allah mengangkat kita, tidak ada tuhan yang bisa ingin menghadirkan kenikmatan hanya karena Allah sang pemberi nikmat sejati, tidak ada tuhan yang bisa mengangkat derajat kemulyaan kita kecuali Allah angkat derajat kita, tidak ada tuhan yang membuat kita ingin punya daya tarik kecuali Allah menarik manusia kepada kita, tidak ada tuhan yang bisa ingin membuat kita memiliki pengaruh besar kecuali Allah menundukkan mereka kepada kita. Dan seluruh kebutuhan layak lainnya yang tentu saja semua terhimpun dalam kalimat la ilaaha illa allah.

Lantas kenapa kepentingan dan kebutuhan manusia melalui dzikirnya ada embel-embel ingin mengejar kebutuhan urusan duniawi? Maka jawabanyya, kepada siapa lagi kita meminta dan memohon pertolongan jika tidak kepada Allah.

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah dzikir yang paling utama sebagaimana Nabi bersabda afdholu adzikr annahu la ilaaha illa allah. ”Barangsiapa mengucapkan ’laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)
Selamat berdzikir laa ilaaha illa allah.

Wallahu a’lam

fregreg

Ustadz Yusuf Mansur : Semua Milik Allah

fdvrwSesungguhnya semua yang kita miliki adalah kepunyaan Allah swt. Kita hanya dititipkan untuk lalu digunakan dalam jalan kebaikan. Itulah pesan ustadz Yusuf Mansur kepada para calon wali santri dalam acara open house TK-SD Daqu Semarang yang digelar di Ballairung Rafles, Hotel Semesta, Semarang, Selasa 6 Desember 2016.

Acara dengan tema “Parenting bersama ustadz Yusuf Mansur” ini juga diisi dengan penampilan dari sejumlah siswa siswi TK dan SD mulai dari tilawah Al-Qur’an, lagu religi, tarian serta pembacaan puisi dalam bahasa Inggris.

“Jangan pernah memikirkan biaya dalam hidup ini. Kalo kita merasa rugi berarti kita merasa memiliki. Padahal semua itu milik Allah swt, kita cuma diberikan amanah untuk dititip rejeki oleh Allah swt” ujar pendiri dan pembina pesantren tahfidz Daarul Qur’an dihadapan seribu jamaah yang terdiri dari wali santri, donatur dan pembina wisata hati.

 

ewferfew fsdfredgrewfwfewg wefef