IKADAQU Mesir Raih Juara 1 Lomba Futsal NU Games

Ikatan Alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an (IKDAQU) Mesir mengirim kontingen dalam kejuaraan yang digelar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir bertajuk NU Games. Salah satu kontingen yang dikirim yakni cabang olahraga futsal.

Perlombaan diikuti oleh 16 tim pelajar dan mahasiswa Indonesia dari almamater yang terafiliasi dengan PCINU Mesir. Lomba futsal sendiri dilakukan di Lapangan Gamaliah, Kairo, Mesir, hari Sabtu dan Minggu, 24-25 Oktober 2020.

Setelah melewati babak penyisihan hingga masuk ke final, kontingen lomba futsal berhasil memenangkan pertandingan dan menjadi juara. Hal itu disyukuri oleh sang kapten tim, Predrag Falah.

“Alhamdulillah ini jadi motivasi buat temen-temen juga, buat pemain, buat temen-temen yang belajar di sini. Kalau ditanya rahasianya sebenernya cuma satu sih, shoawat jadi penyemangat kita. Biasanya sebelum tanding kita ngumpul bikin lingkaran terus baca sholawat. Alhamdulillah beneran kerasa semangat saat main,” ujarnya menceritakan kunci sukses IKADAQU Mesir meraih gelar juara tersebut.

Ajang yang sudah digelar sejak 2006 ini sekaligus jadi wadah sillaturrahmi para pelajar yang ada di Mesir. Ada berbagai lomba yang dipertandingkan. Tahun ini, lomba-lomba yang biasa dilakukan kala merayakan hari kemerdekaan jadi ciri khasnya. Ada Tarik tambang, makan kerupuk, dan lain-lain, termasuk futsal.

Hasil ini juga jadi motivasi untuk para santri, baik yang masih mondok atau yang sudah menapaki jenjang karir berikutnya. Motivasi untuk berstudi di luar negeri serta mampu berprestasi. Karena santri bisa meraih apapun yang diinginkan, asalkan mau berusaha dan yakin pada pertolongan Allah SWT.

Yuk, Usir Bosan Kala WFH dan LFH dengan Khataman Online

Gimana Work From Home (WFH) dan Learn From Home (LFH) nya? Udah mulai bosen belum? Di sosmed udah banyak yang mulai ngeluh nih karena harus di rumah terus. “Jiwa ekstrovert ku meronta-ronta”, katanya begitu. Gapapa, wajar kok. Tapi harus diingat, di setiap kejadian pasti Allah SWT kasih hikmah.

LFH dan WFH, kalau kita mau nyari hikmahnya, pasti bermanfaat dan ga ngebosenin. Misalnya bisa ngumpul sama keluarga yang kalau di kondisi normal sekedar ngobrol aja susah banget. Di tulisan sebelumnya juga udah dijelasin tuh apa aja hikmah yang bisa diambil. Nah sekarang, biar ga bosen, kita bisa cari kegiatan lain.

Seperti yang dilakukan kakak-kakak Alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an contohnya. Mereka yang tergabung dalam Ikatan Alumni Daarul Qur’an atau IKADAQU, dari berbagai daerah, punya inisiatif mengadakan Khataman Online. Ada dari IKADAQU Jakarta, Malang, Kalimantan Barat dan Timur, sampai Malaysia.

Awalnya, kak Rifqi Akbari, Alumni angkatan 3 Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ketapang, iseng melakukan live Instagram sambil ngajak setoran hafalan. Nah, teman-teman alumni yang lain ikutan. Akhirnya tercetuslah ide ini.

Sebetulnya ini merupakan kegiatan rutin IKADAQU masing-masing cabang, disesuaikan sama kondisi. “Kalau ada saudara alumni yang sakit, keluarga yang meninggal, atau santri yang meninggal. Sebagai momen buat peduli almamater kita”, kata kak Rifqi. Di Khataman Online ini, awalnya didedikasikan untuk almarhum ayah pimpinan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Kyai Ahmad Jamil, yakni H. Micing Bin H. Midi. Namun, karena bertepatan dengan mewabahnya virus corona sehingga diharuskan WFH dan LFH, di samping mengusir rasa bosan, akhirnya sekaligus diniatkan meminta perlindungan Allah SWT agar terhindar dari virus tersebut.

“Konsepnya simpel, satu orang baca satu juz. Kalau di grup ada 30 orang atau lebih. Jadi sekali jalan bisa langsung khatam”, jelas kak Rifqi yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina IKADAQU.

Kak Dhe Qonita, angkatan 7; kak Alfira Fatimah, angkatan 3; kak Dicky Derianto, angkatan 6; dan kak Jafar Kamil, angkatan 8 kompak bilang kalau kegiatan ini bisa bikin ikatan alumni semakin erat. Kak Jafar juga bilang, kegiatan ini membuat alumni yang awalnya ga saling kenal jadi bisa kenalan. Itu bisa menambah relasi yang berguna buat kehidupan. Selain itu, konsep online yang diambil juga menguji kejujuran diri, seperti yang dibilang kak Dhea.

Dan yang pasti, kegiatan ini juga bermanfaat kala bosan melanda saat WFH dan LFH, daripada tik-tokan kan? “Jadi kangen suasana pondok lagi. Jadi bisa quality time yang bermanfaat bareng keluarga yang udah jarang banget ku rasain”, ujar kak Dicky.

Mereka juga sepakat kalau kegiatan ini jadi agenda rutin. Harapannya juga bisa jadi wasilah menambah keberkahan IKADAQU dan terkabulnya hajat para alumni serta santri-santri di lingkungan Daarul Qur’an hingga akhir zaman. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga ini jadi inspirasi lahirnya ide-ide kreatif nan bermanfaat lainnya bagi kita semua ya!

Rusia Melawan Corona

Mulai Senin (30/3), Pemerintah Kota Moskow memberlakukan karantina untuk seluruh warganya tanpa batasan usia. Orang-orang hanya diizinkan meninggalkan rumah untuk mendapat bantuan medis darurat, berangkat kerja, berbelanja di toko atau apotek terdekat, membuang sampah, dan menemani jalan binatang peliharaan dengan jarak tidak melebihi 100 meter dari rumah. Bagi siapa pun yang hendak meninggalkan rumah diminta untuk menjaga jarak, setidaknya 1,5 meter antara satu sama lain.

Menurut laporan kantor berita RIA Novosti yang dikelola pemerintah, warga biasa harus membayar denda 15.000 – 40.000 rubel (sekitar Rp3 juta – 8,2 juta) karena melanggar karantina, sementara pejabat 50.000 – 150 ribu rubel (sekitar Rp10,2 juta – 30,7 juta). Namun, jika mereka terbukti menularkan penyakit dan menyebabkan kematian orang karena pelanggaran itu, maka denda yang dikenakan masing-masing adalah 150.000 – 300.000 rubel (sekitar Rp30,7 juta – 61,6 juta) untuk warga biasa dan 300.000 – 500.000 rubel (sekitar Rp61,6 juta – 102,5 juta) untuk pejabat.

Aturan ini juga berdampak pada kegiatan di beberapa kampus yang ada di Rusia. Seperti kampus kami, Far Eastern Federal University, yang ada di kota Vladivostok. Di kota ini memang tak separah di Moscow dan belum melakukan karantina wilayah, namun sebagai langkah antisipasi, per tanggal 23 Maret kemarin kampus kami sudah memberlakukan sistem belajar online. Orang-orang pun mulai berdiam di rumah. Bis kota yang biasa dipakai menuju kampus juga tampak lengang, sama seperti tempat umum lainnya. Sebagai pelajar kami harus siap dengan stok bahan makanan untuk beberapa minggu ke depan.

Sementara itu, mahasiswa yang berasal dari negara China sudah tidak bisa kembali ke Rusia dari bulan Februari lalu karena pemerintah telah menghentikan penerbitan visa pada mereka juga warga negara Iran. Pemerintah Rusia juga menghentikan semua penerbangan internasional mulai Jum’at (17/3). Menurut Asosiasi Operator Tur Rusia, wisatawan-wisatawan asing bahkan telah menghentikan pemesanan tur ke Rusia untuk musim panas mendatang. Kerugian yang diderita imbas terhambatnya pemasukan dari sektor pariwisata mencapai lebih dari 500 juta rubel (sekitar 102,5 miliar rupiah). Namun langkah ini diambil untuk keselamatan bersama.

 

Oleh: Aisyah Sholeh, Alumni Angkatan 7 Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Cikarang, Far Eastern Federal University Fakultas Pariwisata

Foto: IG @pancaseela

Lockdown Jadi Ladang untuk Berbagi

Kebijakan perpanjangan masa MCO (Movement Control Order) di Malaysia hingga 14 April 2020 ikut berdampak pada para pelajar Indonesia di Malaysia. Awalnya MCO atau yang dikenal oleh masyarakat luas dengan lockdown diberlakukan pemerintah Malaysia mulai 18 hingga 31 Maret 2020. Penambahan MCO ini untuk memastikan keadaan di Malaysia telah stabil. Malaysia memang menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus positif covid-19 terbanyak di Asia Tenggara dengan total 2230 (sumber: CPRC, KKM).

Kampusku yang berada di Gombak ikut melaksanakan himbauan lockdown tersebut dengan menon-aktifkan seluruh kegiatan belajar mengajar di kampus dan merubahnya menjadi sistem pembelajaran online. Setelah melihat kebijakan pemerintah yang memanjangkan waktu lockdown, pihak kampus pun menetapkan kebijakan dengan meliburkan seluruh kegiatan mahasiswa di semester ini.

Hasil rapat yang menunjukan bahwa masih kurang efektifnya belajar online juga jadi pertimbangannya, selain untuk fokus menyelesaikan masalah ini dengan memperbanyak istirahat juga berdiam diri di rumah. Banyak mahasiswa yang kembali ke kampung halamannya, namun tak sedikit yang tetap tinggal dan menjalankan karantina di sana.

Aku pun memilih untuk tinggal di asrama atau mahallah karena tiket yang susah didapat dan beberapa alasan yang menyulitkan perpulangan. Akses keluar-masuk kampus, kantor, toko, hingga masjid juga ditutup guna membantu jalannya karantina. Syukurnya, kebutuhan kami tetap terpenuhi dengan bantuan dari pemerintah yang menyediakan makan 3 kali sehari juga beraneka macam makanan ringan. Pihak kampus juga menyediakan layanan melalui nomor telefon untuk kebutuhan para mahasiswa yang akan ditindak lanjuti langsung oleh mereka.

Momen ini menjadi ladang berbagi buat kita. Terlihat solidaritas antar mahasiswa juga staff kampus yang senantiasa melayani. Kami sadar bahwa ini adalah tantangan kita semua untuk melawan wabah virus corona. Semua ini akan berakhir jika kita mematuhi aturan yang diberlakukan pemerintah untuk menjauhi keramaian dan menjaga kesehatan.

 

Oleh: Naufal Khair, Kontributor Malaysia

Cerita Santri Daqu Jalani Lockdown di Madinah

Setelah terjadinya penyebaran Covid-19 atau virus corona, banyak negara melakukan karantina atau Lockdown. Seluruh rakyat harus mengisolasikan diri di dalam rumah. Lockdown sudah diterapkan di berbagai negara, sebut saja China, Malaysia, Turki, Filipina, serta negara yang baru-baru ini menerapkannya yakni Arab Saudi. Arab Saudi yang sebelumnya menutup Haji dan Umrah di tahun 2020 melakukan Lockdown atas perintah Raja Salman.

Dampak penerapan Lockdown oleh Arab Saudi juga dirasakan beberapa alumni Daarul Qur’an yang berada di Madinah, salah satunya Rizqi Mujahid Fillah. Ia adalah alumni Daarul Qur’an angkatan ke 5. Ia melanjutkan Pendidikan di Islamic University of Madinah.

“Sampai sekarang ini masih aman. Tapi pemerintah meminta rakyatnya berdiam diri di rumah dan belajar pun dilakukan secara online setiap harinya”, ujar Rizki ketika dihubungi via pesan elektronik. “Hal yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi ini cukup baik mengingat virus corona makin banyak menyebar di kawasan Madinah”, lanjutnya.

Rizki berpesan pada masyarakat untuk menaati himbauan ini demi menekan penyebaran virus. “Dengar dan taat kepada pemimpin kita, kita mendengar dan menaati dan perhatian secara sempurna, dan kita meyakini bahwa sesungguhnya hal ini untuk keselamatan dan pahala yang besar untuk kita. Maka berbahagialah orang yang duduk di rumahnya supaya selamat dan untuk menyelamatkan manusia”, tuturnya.

Selain Lockdown, salah satu langkah pencegahan yang juga dilakukan Arab Saudi yakni menerapkan jam malam selama 21 hari mulai Senin (23/3). Sebelumnya, jam malam mulai berlaku dari pukul 06.00 hingga 19.00, kini dipercepat menjadi pukul 15.00 waktu setempat.

 

Foto: Instagram @ikadaqu_madinah

Kiat Murojaah Saat WFH

Work From Home (WFH) bukan berarti kita libur dari segala aktivitas dan hanya rebahan. Banyak nilai-nilai daqu methode yang masih bisa kita lakukan, salah satunya murojaah.

Dengan adanya WFH membuat kita lebih fokus dan memiliki waktu yang luang dalam mengulang hafalan. Berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan.

Pertama, jangan lupa membaca hafalan yang ingin dimurojaah sebelum tidur malam. Hal ini memudahkan kita dalam menghafal di keesokan harinya.

Kedua, cari waktu yang tepat untuk murojaah. Biasanya di rumah ada musholla, jadi sebelum subuh sambil menanti adzan, dihafal surah yang kita baca hari kemarin.

Ketiga, cari tempat yang tepat. Karena tempat yang sepi dapat memudahkan fokus kita dalam mengulang hafalan.

Keempat, bawa tumblr daqu yang isinya air putih. Soalnya kalau murojaah biasanya suka haus, kita harus tetap jaga kondisi tenggorokan salah satunya agar tidak memudahkan virus corona masuk ke tubuh kita.

Kelima, hafalan yang telah di ulang, di baca pas waktu Dhuha, dapat kerjaan kantor, dan waktu Dzuhur. Nah, di waktu ashar ajak anggota keluarga lain untuk simakan atau setoran. Jadi, Insya Allah pahala juga akan mengalir pada anggota keluarga lain.

Keenam, jadi imam pas Maghrib dan isya, biar hafalan makin terjaga. Karena kalau hafalan dibaca ketika sholat, akan lebih lama termemori di dalam otak kita.

Setelah menghafal Al-Qur’an, step berikutnya adalah menjaganya. Bukan hal sulit kalau kita benar-benar memilki iktikad untuk menjaga hafalan. Maka jangan sia-siakan waktu luang saat WFH ini untuk mengulang hafalan kita itu.

 

Oleh: Rifqi Albukhori, Alumni Angkatan 3 Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ketapang

Kisah Delapan Santri Daqu Menjalani Karantina di Turki Akibat Virus Corona

Kasus covid-19 di Turki pertama kali diumumkan pada Rabu, 11 Maret 2020. Dikutip dari laman New Straits Time, Rabu, 18 Maret 2020, Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca mengumumkan jumlah terbaru warga negara Turki yang terpapar virus corona telah mencapai 98 orang.
“Hari ini, saya kehilangan pasien pertama saya dalam perjuangan kami melawan virus corona covid-19” ujar Fahretin.

Untuk menahan bertambahnya korban akibat virus corona pemerintah Turki melakukan kebijakan lock down selama beberapa pekan. Masyarakat dilarang ke luar rumah selain urusan darurat.

Efek kebijakan lock down ini juga dirasakan oleh Delapan alumni Pesantren Daqu yang tengah mengenyam pendidikan di negeri kebab ini. Mereka tinggal dan menimba ilmu di Ağrı, sebuah daerah di negara Turki bagian Asia yang berlokasi jauh dari keramaian. Kota ini memang cukup hening dan tenang dan cukup nyaman sebagai tempat belajar.

Mereka; Achmad Ra’uuf Abdillah, Muhammad Fikran Ramli, Muhammad Luthfil Hadi, Muhammad Faris Pranandha, Ricko Nadiyanto, Muhammad Hikmat, Hafizh Ramadhana, dan Muhammad Fatih Husna berkuliah di Ağrı İbrahim Çeçen University, Turki.

Sejak tanggal 16 Maret 2020, mereka tidak dapat melakukan aktivitas harian sebagaimana biasanya, sebab harus mengikuti karantina di asrama pemerintah Turki yang hanya diperuntukkan bagi para pelajar asing atau pelajar luar Turki hingga tiga pekan pertama, kedepannya menunggu informasi selanjutnya dari pemerintah Turki.

Biasanya, hari-hari mereka dipadati dengan aktivitas belajar di kampus, dan diakhiri dengan setoran muraja’ah menggunakan metode talaqqi rutin dijalakukan setiap harinya. Pejalanan harian mulai dari asrama menuju kampus hingga tiba di kediaman Syaikh Ahmad Badawi ini cukup memadati waktu mereka.

Kini, semuanya cukup dilakukan dari asrama. Setoran muraja’ah tetap dilakukan via online. Pengawasan ketat dari pemerintah Turki pun diberlakukan kepada mereka yang statusnya sebagai pelajar asing.

Ditempatkan di sebuah asrama yang setiap kamarnya biasa ditempati oleh empat orang mahasiswa, kini masing-masing kamar hanya ditempati oleh satu orang saja. “Kita disediain makan sehari-hari di ruang makan asrama.”, ujar Achmad Ra’uuf Abdillah. “Tapi ya makanannya enggak boleh dibawa ke kamar. Harus dimakan di ruang makan.”

Tidak hanya itu, pengawasan juga dilakukan dengan bantuan cctv yang dipasang di setiap lorong asrama.

“Jangankan keluar asrama, keluar kamar buat main ke kamar sebelah aja enggak dibolehin.”, ujarnya. “Kalau ada satu orang yang kelihatan keluar kamar di cctv, itu petugasnya langsung ngewarning. Nama kita disebut lewat mic informasi.”

Selama masa lock down berlangsung, mereka hanya bisa berada di area asrama saja. Tidak bisa keluar asrama, apapun alasannya. Walau hanya sekedar membeli air minum dan cemilan di mini market.

Sebelum lock down ini dilaksanakan, pemerintah Turki berniat untuk memulangkan semua pelajar asing yang ada di negaranya, tapi melihat kondisi di berbagai negara yang sudah melakukan lock down dengan menutup airport, maka pengawasan ketat bagi pelajar asing ini pun dilaksanakan di area asrama.

Sementara itu, pelajar asal Turki sendiri diimbau untuk dapat kembali ke kediamannya masing-masing.

Sisi positif yang dapat diambil dari kondisi saat ini adalah kita bisa semakin dekat dengan Qur’an. “Kita jadi punya banyak waktu buat tilawah dan muraja’ah.”, ujar Ra’uuf.

Napak Tilas IKADAQU Mesir

Ilham Austio Sofyan bersama lulusan Pesatren Tahfizh Daarul Qur’an lain memiliki andil dalam beridirinya Ikatan Alumni Daarul Qur’an (IKADAQU) Mesir. Di tahun 2016 organisasi yang saat ini dikepalai Yusuf Ramadhan ini resmi memiliki pengurus. Kala itu anggotanya masih berjumlah 16 orang. Perjuangan para anggota untuk mengumpulkan dan mencari alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an dari seluruh Indonesia bukan perkara yang mudah, apalagi kala itu negeri Kinanah sedang dalam kondisi yang tak stabil.

IKADAQU Mesir merupakan sarana penyambung silaturahmi dan penyaluran aspirasi bagi seluruh alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an yang ada di Mesir, khususnya mereka yang sedang menempuh pendidikan. Saat ini 117 orang telah terdaftar sebagai anggotanya, mulai jenjang SMP hingga perkuliahan.

Diawali dari grup Whatsapp para alumni yang berada di Mesir, akhirnya beberapa dari mereka sepakat untuk tinggal di satu apartemen yang sama. Karena setiap tahun anggota terus bertambah mereka menyewa satu apartemen lagi yang ukurannya lebih luas di dekat kampus Al-Azhar untuk kesekertariatan.

Pada Agustus 2017, IKADAQU Mesir mengajukan legalisasi organisasi tersebut. Hal ini demi kemaslahatan dan kemudahan anggota dalam menghidupkan syi’ar Daarul Qur’an di Mesir. Ternyata ide tersebut di sambut baik oleh pimpinan Pesantren Tahzfizh Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil.

Upgrade diri terus dilakukan IKADAQU Mesir. Mereka pun dipercaya untuk mengadakan acara Wisuda Akbar 8 regional Afrika. Acara yang berlokasi di Kairo ini turut dihadiri oleh Syekh Kahilah, seorang pakar ilmu qiro’at kenamaan Mesir. Beliau juga pernah berkunjung ke Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang.

Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir juga sudah mengakui dan meresmikan almamater ini sebagai organisasi yang berafiliasi di bawahnya. Pengurus IKADAQU rutin mengadakan kegiatan orientasi di bawah naungan PPMI Mesir. Itu dilakukan agar para mahasiswa baru lebih mengenal seluk-beluk negara Mesir.

IKADAQU Mesir akan terus berusaha meningkatkan kebermanfaatan bagi para alumni Daarul Qur’an maupun mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir melalui kegiatan dan program kerja di berbagai bidang. Beberapa di antaranya yakni lomba Musabaqoh Hifzhil Qur’an (MHQ), bimbingan belajar, kajian kitab turats, serta berbagai acara dan kegiatan yang bermanfaat lainnya.

 

Oleh: Fariz Nazhari (Mesir) dan Naufal Khair (Malaysia), Kontributor Daarul Qur’an.

Lulus dari Daarul Qur’an Bisa Jadi Diplomat

Siapa yang tak kenal Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation? Organisasi yang dibentuk tanggal 24 Oktober 1945 setelah perang dunia ke-II ini bertujuan mendorong kerjasama internasional serta mencegah terjadinya konflik antar negara. Hingga saat ini 193 negara, termasuk Republik Indonesia, menjadi anggotanya.

PBB memiliki program untuk kalangan pelajar dan akademika yang bernama Model United Nation (MUN). Para pelajar dari berbagai negara diberikan kesempatan melakukan simulasi konferensi PBB layaknya seorang diplomat. Tentunya para pelajar itu harus melewati berbagai proses sebelum terpilih menjadi pesertanya. Nah, pada konferensi MUN 2020 yang akan dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia, salah satu pesertanya adalah alumni Daarul Qur’an Putri Cikarang. Mari kita berkenalan dengannya.

Ia adalah Alfia Syahira. Putri kelahiran Medan, 18 September 1999 ini biasa disapa Ira. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Cikarang, di tahun 2018 ia berhasil lulus. Buah hati Muhammad Zulfan dan Budi Astuti Khairul ini berkesempatan melanjutkan studi di Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, mengambil jurusan Qur’an dan Sunnah. Mantan ketua bagian dapur santri Organisasi Santri Daarul Qur’an (OSDAQU) periode 2017-2018 ini pernah mencoba mendaftar di Al Azhar University, Cairo. Setelah melihat kakak kelasnya yang juga alumni santriwati Daarul Qur’an telah kuliah di Malaysia ia memutuskan mendaftar di sana.

Ira terinspirasi kakak tingkatnya yang pernah berpartisipasi dalam MUN. Setelah mendapat cukup informasi ia mencoba mendaftarkan dirinya untuk bersaing dengan ratusan orang lain dari berbagai negara. Persaingan pun sangat ketat karena PBB mencari pelajar yang memiliki visi dan misi setelah megikuti perhelatan tersebut. Ira berhasil merebut hati para panitia dengan menjelaskan keinginannya untuk bermanfaat di lingkungan sekitar hingga dunia internasional.

Ira menyadari bahwa apa yang ia capai tak lepas dari pengalamannya selama di pesantren. Program wajib berbahasa yang diterapkan pesantren melatih dirinya terbiasa menggunakan bahasa internasional. Begitupun program muhadhoroh atau public speaking yang membuatnya lihai berbicara di khalayak umum. Teman-teman di pesantren yang berbeda suku, sifat, dan karakter juga membuatnya mudah beradaptasi di sana.

Alumni Daarul Qur’an Angkatan 8 ini mengakui masih terngiang akan pesan Ustadz Sobri M. Rizal, “Hanya orang penting yang tau akan kepentingan”. Hal itu menjadi modalnya untuk speak up dalam forum terbuka. “Jadilah seorang leader seperti ayahanda KH Yusuf Mansur. Sampaikan karena kita semua adalah ‘The Choosen One’. Belajar berani keluar dari zona nyaman dan ambil resiko untuk kesuksesan kita kelak”, pesan Ira untuk adik-adik kelasnya yang masih mondok.

 

Oleh: Naufal Khair, Kontributor Malaysia

Alumnni Daarul Qur’an Pimpin 10 Ribu Mahasiswa Indonesia di Malaysia

Lulusan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an kembali mencetak prestasi. Tak tangung-tanggung, salah satu alumni Daarul Qur’an berhasil menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia Periode 2019-2020. Namanya Abdis. Ia mengkomandoi 10 ribuan mahasiswa Indonesia di 40 kampus di seluruh penjuru Malaysia. Mari kita kita kenali salah satu jebolan Angkatan 5 Daarul Qur’an ini.

Anak dari Budi Santoso dan Mayernis ini bernama lengkap Abdis Salam. Ia mendapat kesempatan melanjutkan studi di Universitas Utara Malaysia (UUM) jurusan International Business Management konsentrasi Entrepreneurship pada September 2017. Awalnya, ia sempat melakukan pendaftaran di salah satu kampus ternama di Malaysia yakni International Islamic University Malaysia untuk mengambil jurusan Islamic Finance. Tapi takdir berkata lain. Akhirnya ia memilih UUM sebagai pelabuhan selanjutnya. Bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa pengantar membuat Abdis semakin termotivasi.

Semenjak nyantri, Abdis aktif di Organisasi Santri Daarul Qur’an (OSDAQU). Pengalamannya berorganisasi kembali mendorongnya terjun dalam organisasi PPI Malaysia. Ia mendedikasikan dirinya utuk membantu para mahasiswa Indonesia yang ada di Malaysia. Tentunya ia juga berharap mampu membantu masyarakat Indonesia.

Tahun pertamanya di PPI (2017-2018) Abdis menjabat sebagai anggota Departemen Pengembangan Sumber Daya dan Organisasi. Satu tahun kemudian ia terpilih menjadi Wakil Ketua PPI. Abdis bersama timnya membuat program “Padamu Negeri Kami Mengabdi”. Program tersebut untuk membantu masyarakat Indonesia atau pekerja di wilayah utara Malaysia. Berkat kesuksesannya, program kerja itu terpilih sebagai program kerja terinspiratif bidang sosial kemasyarakatan di PPI Malaysia awards. Selain itu, Abdis juga pernah berpartisipasi dalam kepanitiaan Simposium PPI Dunia di Johor Baru sebagai anggota divisi sponsorship.

Pria kelahiran negeri minang, 20 Mei 1998, ini mengakui bahwa OSDAQU menjadi resep rahasia para alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an bisa unjuk gigi di depan umum tanpa minder ataupun takut. Tentu bukan hal mudah bagi orang-orang yang belum terbiasa. Abdis juga menyadari dengan berorganisasi ia mampu meningkatkan kemampuan leadershipnya.

Di OSDAQU Abdis menjadi bagian Tata Usaha yang bertugas membantu aktifitas bisnis santri Daarul Qur’an. Hingga akhirnya ia dipindah tugaskan menjadi bagian yang konon sangat disegani para santri untuk mengatur dan menjaga kedisiplinan.

Abdis berpesan pada adik-adik yang ingin melanjutkan studinya untuk terus memberikan gagasan serta usaha dalam rangka membantu sesama. Insya allah Allah SWT juga akan membantu kita di setiap sendi kehidupan.

 

Oleh: Naufal Khair, Kontributor Malaysia