Pembukaan Tahun Ajaran 2021/2022, Momen Refleksi Diri dan Menjadi Generasi Qur’ani

Tahun ajaran baru 2021/2022 resmi dimulai. Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an pun menggelar Opening Ceremony yang diikuti seluruh sivitas akademik di lingkup pendidikan Daarul Qur’an (Fullday Daarul Qur’an, Shigor, Kibar, dan Takhassus) dari berbagai cabang, Senin (12/7/2021) pagi hari.

Pusat acara tertuju di Masjid Nabawi, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang. Sementara para santriwan santriwati serta siswa siswi berikut para pengurus cabang mengikuti via Ruang Meeting Zoom yang disiarkan pula di kanal Youtube Pesantren Daqu.

Acara dihadiri langsung oleh Pembina Yayasan Daarul Qur’an, KH Yusuf Mansur serta Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Pendidikan, KH Ahmad Jamil. Keduanya memberikan wejangan untuk menempuh tahun ajaran baru ini.

Sebagai pembuka, Kyai Jamil mengajak seluruh peserta acara untuk merenungkan kejadian yang menimpa beberapa tahun belakangan. Utamanya ketika kita ditinggal para alim ulama, yang turut membimbing dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kyai Jamil juga menghimbau untuk senantiasa belajar dan menyiapkan dalam menghadapi tantangan ke depan. Berkaca dari kasus perusahaan telekomikasi Nokia yang jatuh setelah kalah bersaing dengan perusahaan lain dalam kemajuan teknologi.

“Kita harus mempersiapkan para generasi yang Ar-Rosikhuna fil ‘Ilmi, yang mendalam dalam urusan keilmuan mereka,” terang beliau. Selain itu, lanjut Kyai Jamil, generasi tersebut juga harus punya keunggulan yakni yang senantiasa mendawami Al-Qur’an.

Hal itu juga berkaitan dengan regenerasi dari para ulama yang sudah mendahului. “Kita sudah banyak ditinggalkan para ulama, paku bumi yang dicabut oleh Allah SWT. Kalian yang harus menggantikan. Aamiin,” harapnya.

Di tahun ajaran baru ini, tentu para peserta didik beserta pengurus memiliki harapan dan tujuan. Karena itu, hal tersebut juga harus diadukan pada sang pemilik segala, Allah ‘azza wa jalla.

Motivasi itu disampaikan oleh Kyai Yusuf Mansur. Hal itu pun membangkitkan semangat para peserta acara.

Kyai Yusuf berujar, “Allah ini Maha Rahman Maha Rahim. Dia mah gaboleh diminta, udah pasti ngasih. Karena dia itu pasti ngebagi, makanya harus diminta,” jelasnya.  

Kisah Nabi Musa A.S. kala meninggalkan umatnya, Bani Israil, selama 40 hari jadi pelajaran yang disampaikan Kyai Yusuf Mansur. Pada periode itu, Bani Israil pun ingkar dan menyembah anak sapi, Samiri.

Allah SWT pun menunjukkan kuasanya. Lewat wasilah Nabi Musa, Bani Israil diminta menyembelih sapi sebagai syarat petunjuk untuk mengetahui pelaku kasus pembunuhan salah seorang di antara mereka.

Bani Israil yang terkenal ngeyel terus bertanya ciri-ciri sapi yang harus disembelih. Namun, Allah tetap mengabulkan permintaan itu.

Setelah puas bertanya, seekor sapi disembelih oleh mereka dan Nabi Musa menyuruh memukulkan potongan sapi itu ke jenazah orang yang terbunuh. Akhirnya orang yang terbunuh dihidupkan kembali oleh Allah SWT dan menyebutkan siapa pelakunya. Kasuspun terungkap.

“Yang ga ada imannya aja, yang bodoh, ketika minta dikabulin Allah SWT. Kita harus ngiri, yang katanya pinter aja masa ga berani minta? Jadilah orang yang pinter, sholeh-sholehah, yang senantiasa mendawami Al-Qur’an, dan minta sama Allah,” kata Kyai Yusuf menutup rangkaian pesannya.