Ajang Unjuk Bakat Santri Daarul Qur’an Putri Cikarang

Kedatangan santri setelah liburan, 4-5 Januari 2020, kemarin menjadi awal diadakannya acara tahunan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Putri Cikarang yakni Pekan Olahraga dan Kesenian atau Porseni. Acara ini menjadi ajang unjuk bakat para santriwati. Organisasi Santri Daarul Qur’an (OSDAQU) menjadi panitianya.

Selain olahraga dan kesenian, Porseni juga memiliki kompetisi yang di tunggu-tunggu yaitu pemilihan Miss Daarul Qur’an. Ajang ini terdiri dari pemilihan Miss Daqu, Miss Language, Miss Rules, Miss Scout, Miss Tahfizh, Duta Olahraga, dan Duta Baca. Santriwati yang mengikuti ajang tersebut adalah santriwati terpilih. Penobatan dan pemakaian mahkota menjadi puncak acaranya.

Di samping berbagai ajang tersebut, koordinator gerakan pramuka juga mengadakan Women Day Scout Competition (WDSC). Ajang ini mengajak santriwati untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pramuka.

WSDC terdiri dari perlombaan Semaphore, Sandi, Morse, Drawing 3D, Hand Craft, PUPK, P3K, dan Running Man. Para pemenang mendapat hadiah yang fantastis.

Porseni mendorong seluruh santriwati menunjukkan bakat mereka yang selama ini mungkin belum terekspos. Mereka akan terbiasa berperan aktif di kegiatan pesantren sehingga kreatifitasnya terus meingkat.

 

Oleh: Hasna Naila MP, Kelas XI MIA 1

Kemeriahan Open House Daarul Qur’an Banyuwangi

KB-TK Daarul Qur’an Banyuwangi menggelar open house yang mengundang seluruh warga Banyuwangi pada Sabtu (14/12). Acara dimeriahkan dengan berbagai perlombaan, pagelaran, dan berbagai bazar.

Acara tersebut sekaligus meresmikan Shibyan Daycare Preschool Primaryschool. Acara ini dihadiri oleh Camat Banyuwangi Muhammad Lutfi, Perwakilan Polresta Banyuwangi Sudarmadji, Lurah Kebalenan Winarno, Sekertaris IGTKI Widayani, serta Manager Event Jawa Pos Radar Banyuwangi Gerda Soekarno yang turut menjadi juri perlombaan.

Ada berbagai perlombaan yang diadakan, yakni Finger Painting yang diikuti oleh anak usia 3-4 tahun serta 4-5 tahun serta perlombaan Fotogenic Islami yang diikuti anak usia 0-3 tahun. Tak hanya itu, ada juga pentas seni, kisah untuk anak, pemeriksaan gula darah gratis, pemeriksaan kolesterol, tes stifin, pembagian voucher dan doorprize, serta berbagai macam bazar.

Di akhir acara, Minggu (15/12), pentas seni siswa-siswi KB-TK Daarul Qur’an Banyuwangi disuguhkan. Setelah itu dilakukan penyerahan hadiah lomba dan pembagian voucher maupun souvenir dari sponsor.

“Kami sangat senang terhadap apresiasi warga Banyuwangi yang antusias dalam mengikuti acara ini, bahkan pendaftaran perlombaan membludak ketika acara dimulai. Bazarpun ramai dikunjungi. Siswa-siswi dan para wali murid kami juga senang karena mereka mendapat banyak hadiah lomba, voucher, doorprize maupun souvenir. Jadi saya mengucapkan banyak terimakasih kepada para sponsor”, ujar Ustadzah Huda, Kepala Sekolah Daarul Qur’an Banyuwangi.

Habib Ali Al-Jufri Tour Keliling Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang

Jum’at (29/11) sore terlihat ramai di depan pos satu Pesantren Tahfidz Daarul Quran Ketapang. Pasalnya, pesantren kedatangan tamu yang spesial. Pimpinan Daarul Qur’an, Kyai Yusuf Mansur, stand by untuk menyambut tamu tersebut. Para santri ikut mengerahkan pasukan Hadroh Daarul Qur’an dan pagar betis di bawah komando OSDAQU.

Tamu spesial itu ialah Habib Ali Zainal Abidin Abdurrahman Ali Al-Jufri yang berasal dari Uni Emirate Arab. Kedatangan beliau tidak hanya ditunggu santri dan pengajar Pesantren Tahifzh Daarul Qur’an namun juga seluruh umat muslim di Indonesia.

Habib Ali Al-Jufri mengunjungi Pesantren Tahfidz Daarul Quran Ketapang dalam rangka memberikan ceramah kepada santri dan masyarakat. Ditemani langit yang mendung, beliau beserta rombongannya disambut dengan penampilan dari para santri. Mulai dari PERSADA, PERSIDA, Marching Band, serta antusias santri Daarul Qur’an yang tinggi di luar pagar betis.

Setelah melihat penampilan dan sambutan santri, Habib Ali Al-Jufri berhenti sejenak. Dirinya memimpin do’a yang diikuti oleh para santri, asatidz, dan masyayikh untuk pembangunan Pesantren Tahfidz Daarul Quran Ketapang.

Setelah cukup berkeliling, Habib Ali Al-Jufri beserta rombongan mengabadikan momen di depan trade mark I Love Daqu. Tur dilanjutkan dengan ziarah ke makam ibunda Kyai Yusuf Mansur yang berada di komplek pesantren. Setelah itu rombongan tur melakukan dialog di kediaman pimpinan pesantren, Kyai Ahmad Jamil.

Suatu kehormatan bagi Daarul Qur’an bisa menerima tamu seistimewa Habib Ali Al-Jufri. Semoga kedatangan beliau membawa keberkahan untuk Pesantren Tahfidz Daarul Quran.

 

Oleh: Syahda Aqila, M. K. Baihaqy, dan Taqy K.

Belajar Jurnalistik di Kumparan

Meski berusia muda media online Kumparan, telah mendapat kepercayaan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi yang cepat dan tepat. Dengan platform kekinian menjadikan pembaca betah berlama-lama beselancar mencari informasi terkini di Kumparan. Dengan maksud mendapatkan ilmu dan informasi bagaimana Kumparan menghasilkan berita dan dikelola, sebanyak 30 santri Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, yang terdiri dari 15 santri pria dan 15 santri perempuan, mendatangi kantor Kumparan yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (28/11).

Dengan mengenakan seragam batik berwarna orange yang menjadi ciri khas santri Pesantren Daqu tingkat SMA, para santri begitu bersemangat hadir dan aktif berinteraksi menanggapi nara sumber dari Kumparan yang memperkaya wawasan santri seputar penulisan berita dan konten kreatif ala millenial yang dikemas sedemikian rupa sehingga tidak membuat para user media sosial merasa bosan. Antusias untuk terus menggali ilmu nampak jelas pada raut wajah mereka. Bahkan ada yang sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada para nara sumber. Sebegitu tidak ingin kehilangan moment belajar ini.

“Sebuah cerita akan lebih mudah menyentuh hati pembaca, jika cerita itu dapat menyentuh emosi. Dan akan jauh lebih menarik lagi ketika cerita itu dapat menyelipkan solusi, menjawab berbagai macam pertanyaan orang tentang apa yang kita tuangkan dalam cerita.”, ujar Ikhwanul Habibie sebagai Kepala Peliputan Kumparan.com yang menjadi nara sumber pertama pada sharing session hari ini.

Dalam pemaparannya, Habibie juga menjelaskan titik perbedaan yang paling mencolok dari reportase dan explanatory. “Kalau reportase, cukup melaporkan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Sedangkan explanatory, perlu lebih dari itu. Gaya tulisan ini bahkan mampu membuat pembaca merasakan keberadaan dirinya di lokasi tersebut.”, ujar Habibie.

“Saat ini, orang lebih suka baca tulisan yang pendek. Simple tapi dapat menyentuh inti dari tulisan itu.”, ujar Habibie melanjutkan pemaparannya. Tak lupa, Habibie mengingatkan para santri bahwa dalam jurnalistik ada tiga point utama yang selalu memiliki keterkaitan dan setiap point tersebut masing-masing memiliki kekuatan, yaitu tulisan, foto, dan video.

Habibie kemudian bertanya kepada para santri, adakah santri yang hobi nulis, foto, atau video ? sontak para santi antusias merespon pertanyaan nara sumber dengan mengangkat tangan saat hobinya disebutkan. Usai memaparkan banyak point terkait penulisan konten, Habibie membuka sesi tanya jawab. Tidak sedikit santri yang mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh Habibie secara gamblang.

“Masyarakat sosial media itu bersifat dinamis dan to the point.”, ujar Anton William sebagai VP Marketing Kumparan.com yang pada hari ini menjadi nara sumber kedua.

Anton memberikan sebuah tips berharga dalam pembuatan video news untuk kemudian diupload di sosial media, usahakan jangan terlalu panjang. Cukup berdurasi 30 sec. Kenapa ? Anton juga memberikan alasannya, karena jika durasinya terlalu panjang, maka user media sosial akan bosan. Kembali lagi ke kalimat sebelumnya, bahwa masyarakat sosial media itu bersifat dinamis dan to the point.

Tak ketinggalan, Anton juga memberikan sebuah tips yang tidak kalah berharganya terkait bagaimana cara mengemas sebuah berita agar menjadi singkat namun tetap tersampaikan point utamanya. Gimana caranya ? Buat judul singkat tidak lebih dari 4 kata dan buat deskripsi tidak lebih dari dua kalimat.

Anton menutup sharing session hari ini dengan membuka sesi pertanyaan. Begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh para santri, satu diantaranya adalah “bagaimana cara mengatur sebuah konten atau materi menjadi rapi jarak uploadnya ?” Anton menjawab, “Jarak upload konten diatur oleh admin sosial media, biasanya sekitar 1 jam.”

Setelah semua pertanyaan terjawab, MC memberikan dua soal rebutan kepada santri Pesantren Daqu.

Pertanyaan pertama berhasil dijawab oleh Dirra Esya dari Daqu Cikarang dan pertanyaan kedua berhasil dijawab oleh Iqbal dari Daqu Ketapang. Keduanya mendapatkan reward dari kumparan.

Acara hari ini diakhiri oleh pertukaran cinderamata dari Pesantren Daqu dan Kumparan, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Usai runtutan acara sharing session hari ini, para santri diajak berkeliling kantor Kumparan dan berkenalan dengan beberapa pembagian unit di dalam Kumparan.

Semoga apa yang telah dibagikan oleh para nara sumber hari ini, bisa menjadi awal mula perubahan besar untuk Pesantren Daqu.

 

*foto by Kumparan

Ustadz Nazar: “Tujuan Rihlah Untuk Jangka Panjang”

Rihlah Shigor Putra Ketapang, Rabu (27/11), berlangsung meriah. 230 santri kelas 1 sampai 6 SD mengikuti acara tersebut. Berkeliling memasuki kandang berbagai jenis hewan, menyaksikan pertunjukan, serta menikmati wahana permainan membuat para santri sumringah. Acara dengan destinasi Taman Safari Indonesia ini berakhir pada pukul 5 sore.

Ustadz Nazar Anugrah selaku ketua pelaksana acara menerangkan bahwa Rihlah Shigor kali ini menggunakan konsep yang berbeda. Jika dulu lebih banyak berwisata ke wahana bermain air kali ini wisata edukasi lingkungan, khususnya hewan, yang jadi tujuan. “Kita ingin nanemin ke anak-anak kita bagaimana cara mencintai lingkungan”, tukas beliau.

Taman Safari Indonesia menjadi destinasi yang dirasa mampu mengakomodir tujuan itu. Melihat secara langsung berbagai jenis hewan membuat para santri mengenali karakteristik dan kehidupan hewan tersbut. “Hewan-hewan tersebut harus kita jaga kelestariannya hingga anak cucu kita bisa menikmati itu semua”, ujar ustadz Nazar.

Bukan sekedar berwisata, Rihlah ini juga melatih disiplin serta wadah untuk berdakwah para santri. “Seperti misalnya sholat tetep harus tepat waktu. Habis makan kita beresin, ambilin sampahnya”, jelas Ustadz Nazar. Kebiasaan-kebiasaan yang sejatinya selalu mereka lakukan di pesantren itu harapannya mampu diikuti oleh pengunjung lain.

Mengenali lingkungan merupakan hal yang penting bagi seorang anak. Hal tersebut melatihnya untuk terjun di masyarakat ketika mereka dewasa. Maka dari itu Rihlah ini berorientasi untuk mendidik para santri menjadi pribadi yang unggul di masa yang akan datang. Bukan hanya tentang pelajaran sekolah namun juga pelajaran kehidupan. “Diharapkan mereka menjadi anak yang mandiri, yang menjaga lingkungan, dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat”, tutup ustadz Nazar.

Festival Kuliner Nusantara 1.0 now live!

Apa sih kerjaan yang biasa seorang ‘santri’ lakukan ? kalau boleh jujur kerjaannya ya ngaji, makan, tidur, ngaji, makan, tidur, sampai lulus. Tapi bagaimana kalau santri kerjaannya jual jajanan ? yup, itulah yang terjadi pada tanggal 23 November 2019 di lapangan basket Daarul Qur’an Ketapang. Santri dari kelas 9 sampai kelas 12 menjajakan jajanan terbaiknya di sebuah tenda.

Emang mau jualan apaan ?

Nah, santri Daarul Qur’an bisa dibilang masalah jajanan nomor 1. Banyak banget variasi jajanan yang dijual. Diantaranya siomay, es pisang hijau, mie rebus, cilor, piscok, dan masih banyak lagi yang enggak bisa disebut satu persatu.

Atmosfer yang terasa juga benar-benar bikin event ini seru. Di bagian ujung ada panggung dimana para santri menghibur para santri lainnya (karena ujung-ujungnya yang dateng ke wisata kuliner yaa santri juga hehe). Tenda-tenda disusun 3×4 (jadi ada tenda yang di tengah).

Dan yang paling keren adalah bagaimana para SPS (Sales Promotion Santri) berlaku sebagaimana para alumni S3 marketing. Cara mereka yang absurd tapi bisa aja work ! Diantaranya, berteriak memasarkan serasa dunia mau berakhir, langsung gandeng temen sendiri dengan akrabnya seraya memasarkan makanan juga minuman, atau dengan memberikan tester, gratisan yang mana kalau sudah sampai dimakan, sontak berseru; “Bayar ! Bayar !” oleh sang penjual.

Oh iya, ini hanya dikalangan santri aja yaa, tidak dengan wali santri.

Terakhir yang tidak kalah menarik adalah sesi masak-masak. Para santri diberi space masak-masak di daerah sekitaran pohon jamblang (sebelah lapangan basket). Tentu santri semangat banget dong. Gimana gak semangat, dalam pikiran mereka saat itu adalah duit, harus balik modal. Tapi mereka diuji selayaknya kita hidup sebagai manusia, sering terbesit dalam hati kita saat berjualan,

“Duh, kayaknya enak nih. Cicip satu gak yaa ?”

Dari sini, para santri banyak mendapat pelajaran berharga dan dari sini pula mungkin ada yang bakal jadi pengusaha, who knows right ?!

Rahasia Juara Lintas Disiplin Ilmu Bela Diri

Olahraga bela diri banyak jenisnya. Masing-masing jenis tentu berbeda gerakan dan jurusnya. Tidak semua orang mampu menguasai lebih dari satu disiplin ilmu bela diri. Diperlukan latihan intensif dengan waktu yang panjang untuk benar-benar menguasai hal tersebut.

Muhammad Alif Ernaldo, alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ketapang angkatan 9 asal Jakarta berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan nasional wushu yang bertajuk Wushu Games di Balairung Universitas Indonesia, 14-17 November 2019. Ia mewakili kampus Binus University. Uniknya, selama nyantri di Daarul Qur’an ia merupakan anggota Persatuan Silat Daarul Qur’an atau Persida.

Bersaing dengan ratusan peserta dari universitas lain tak membuat ia gentar. Alif yang turun di kelas 80 kg mengaku mempersiapkan fisik dan mental untuk kejuaraan tersebut selama 6 bulan. Namun, 6 bulan bukanlah waktu yang panjang mengingat ia baru pertama kali turun di cabang wushu. “Terima kasih banyak kepada Ustadz Wildan sudah diajari fisik supaya kuat dan teman-teman lain di Persida”, ungkapnya. Ya, rahasianya adalah kerja keras dan latihan. “Serta selalu berdoa kepada Allah SWT”, ungkapnya melanjutkan.

Wushu merupakan olahraga yang membutuhkan kekuatan dan kondisi fisik yang prima. Alfi yang rutin berlatih pencak silat semenjak di Persida pun mengaku sudah terasah fisik dan mentalnya. Ketekunannya berlatih juga membuat ia sering mendapatkan gelar juara. “Baru pertama kali lomba wushu, tapi kalau silat udah 2 kali juara 3”, ujarnya.

Ia memberikan pesan bagi yang ingin mengikuti jejaknya. Menurutnya, mental dan fisik memang hal utama dari sebuah seni bela diri namun segala usaha yang kita lakukan hasilnya Allah SWT yang menentukan. Maka dari itu, selain tekun berlatih, berdo’a dan bersholawat jangan sampai ditinggalkan sebagai wasilah kita untuk memohon kemenangan dalam sebuah kejuaraan.

Kiat Menghafal dan Menjaga Hafalan Alquran

Institut Daarul Qur’an (Idaqu) mengadakan Seminar Tahfidz Quran untuk mahasiswa program tahfizh intensif Idaqu yang dilaksanakan di Masjid Nabawi, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Kamis, (7/11). Seminar tersebut diisi oleh dua pemateri yakni Rektor Idaqu Ustadz Anwar Sani, S.SOS.I, dan dosen ilmu Alquran dan ilmu tafsir H. Khoirun Nidhom, Lc, MA. Seminar dengan tajuk “Metode Akselerasi Menghafal Al-Qur’an” tersebut dilaksanakan dari pukul 8.00 – 11.00 wib  yang dihadiri oleh 192 peserta.

Sebagai seorang penghafal Alquran ada kalanya merasa jenuh dan bosan. Hal tersebut menjadi sorotan Rektor Idaqu, Ustadz Anwar Sani. “Nikmatilah proses menuju penghafal Alquran karena Allah mencintai dan memuliakan kita dengan menjadikan kita sebagai penghafal Alquran”, ujar beliau. Allah akan menjaga dan memberikan syafa’at kepada para penghafal Alquran. Untuk medapatkan syafa’at tersebut tidak hanya lewat menghafalkannya tapi juga bisa dengan terlibat dalam mendidik atau menyedekahkan harta bagi para penghafal Alquran.

Alquran tidak langsung turun dalam bentuk sebuah kitab. Ada proses yang dilewati hingga menjadi sebuah buku pedoman yang utuh. “Sejak mulai bergugurannya para huffazh, Alquran mulai dibukukan pada zaman Khalifah Abu Bakar. Pada akhirnya para ulama bersepakat untuk menyusun suatu ilmu dengan tujuan menjaga kemurnian bahasa arab, utamanya menjaga kemurnian Alquran, seperti nahwu, shorof, tajwid, dll”, terang dosen Ilmu Alquran Idaqu, Ustadz Khairun. Mengingat turunnya Alquran yang melewati sebuah proses maka menghafalkan Alquran pun membutuhkan proses. Di dalam sebuah proses terdapat metode untuk mempermudah menghafalnya, salah satunya adalah metode akselerasi menghafal Alquran.

Secara umum, terdapat 3 tahapan dalam menghafal Alquran, yakni sebelum menghafal, metode yang digunakan saat menghafal, serta cara menjaga hafalan Alquran. Selain niat, yang dibutuhkan seorang penghafal Alquran yakni menentukan target dan penggunaan mushaf yang tidak berganti. “Memberi tanda pada ayat yang kembar, mengulang sampai dianggap benar, sabar untuk tidak menambah hafalan sampai semua hafalan lancar”, tukas Ustadz Khoirun. Beliau menambahkan, “yang perlu diingat adalah meluangkan waktu untuk Alquran, bukan menyisakan waktu”.

Rasulullah tidak menggunakan metode menghafal melainkan mengulang bacaannya berkali-kali. “Metode ‘simakan’ tersebut bisa juga dilakukan bersama teman, bergantian menyimak hafalan Alquran”, ucap Ustadz Khairun. Yang paling penting adalah menjaga hafalan. Caranya adalah muroja’ah dengan target tertentu. “Setelah lewat 1 tahun boleh menggunakan rumus hizb ala Rasulullah”, lanjut Ustadz Khairun.

Siap Siaga Bencana Sejak Dini

Kalau ada gempa lindungi kepala
Kalau ada gempa masuk kolong meja
kalau ada gempa jauhi kaca-kaca
kalau ada gempa lari ke tempat terbuka

Lirik lagu tentang kesiapsiagaan bencana tersebut dinyanyikan siswa SD Daarul Qur’an Kalibata City, sesaat setelah sirine tanda adanya bencana berbunyi di Apartemen Kalibata City terutama Tower Raffles dan Sakura.

Lewat lagu para siswa menjadikan proses evakuasi menjadi sesuatu yang tidak mencekam. Satu persatu mereka turun lewat tangga menuju lapangan basket di Tower Sakura until selanjutnya di cek satu persatu apakah sudah semua anak berkumpul atau belum oleh petugas.

Jumat, 11 Januari 2019, Daqu school bekerjsama dengan pihak saftey kawasan apartemen dan Mall Kalibata City mengadakan simulasi bencana gempa di sekolah yang berada di apartemen.

Kegiatan dimulai dengan penjelasan oleh Ahmad Karjaya, selaku instruktur, mengenai pentingnya mengenali kondisi jika bencana terjadi. Selain itu juga dijelaskan pengertian gempa dan apa yang harus dilakukan dan kemana siswa harus mencari tempat yang aman setelah terjadinya gempa.

Kegiatan simulasi diawali dengan bunyi sirine selama 5 menit yang menandakan adanya gempa yang terjadi. Lalu para siswa diajak menuju tangga darurat dan di akhiri dengan pendataan seluruh siswa yang sudah dievakuasi di titik kumpul akhir.

Di sela sela kegiatan, para instruktur menyampaikan dengan kegiatan ini siswa diharapkan memiliki pengetahuan dini tentang mitigasi bencana. Pembekalan ini juga untuk antisipasi agar siswa mempunyai skill kesiapsiagaan bencana yang dapat mengurangi resiko dampak bencana.

Kegiatan diakhiri dengan pengenalan alat rescue kawasan yang berada di beberapa titik tower, salah satunya dekat lobi Tower Sakura. Beberapa alat pelindung diri apabila terjadi kebakaran juga diperkenalkan mulai dari kaket anti api, jaket tim penyelamat, serta tabung oksigen. Para siswa terlihat antusias memdengarkan penjelasan dari team saftey.

 

Di akhir kegiatan Fatkhurohman selaku kepala SD Daqu Kalibata menyampaikan rasa terimakasih atas dukungan dari semua pihak terutama tim safty mall sehingga kegiatan simulasi bencana gempa berjalan dengan lancar.

Daqu Lampung Semarakkan Tahun Baru

Suasana car free day di Jalan Raden Inten, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Rabu (14/10) semakin meriah dengan kehadiran ratusan bocah usia TK/PAUD hingga SD. Mereka adalah para santri tahfidz Qur’an yang sedang mengikuti lomba mewarnai dengan latar Kampung Qur’an. Para orangtua dan wali santri turut mendampingi anak-anak.

Inilah salah satu kegiatan dalam memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1437 Hijriyah.

Selain mewarnai, kegiatan yang dikemas dalam Festival Anak Sholeh Lampung, itu juga berupa lomba tahfidz cilik.

Ustadz M Idris, Manager PPPA Daqu Lampung, mengatakan, rangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak 4 Oktober ini bertujuan memberikan motivasi dan pencerahan kepada anak tentang sistem kalender Islam.

‘’Disamping itu juga agar anak-anak  semakin cinta Qur’an dengan membiasakan membacanya,’’ imbuh Idris.

Melalui festival tersebut, para orangtua juga diajak untuk lebih peduli pada pendidikan dan tumbuh-kembang putra-putrinya. ‘’Karena pendidikan anak bukan hanya tanggungjawab sekolah dan guru,’’ tandas Idris.

Masih dalam suasana Tahun Baru Hijriyah, Daarul Quran Lampung bekerjasama dengan Yayasan Ar-Raudah Kemiling Bandar Lampung, mengadakan Mabit dan Dzikir Munajat.

Kegiatan yang berlangsung di halaman TK/SD Ar-Raudah itu akan digelar pada 16-17 Oktober 2015.

Pesertanya sekitar 350 murid kelas 4 hingga 6, disertai para guru dan seratusan walimurid yang sudah mendaftar untuk ikut.