Pesan Ketua STMIK Antar Bangsa Kepada Para Wisudawan

Setidaknya ada lima pesan yang disampaikan oleh Ketua STMIK Antar Bangsa, Tarmizi Ashidiq, MA, saat memberikan sambutan dalam wisuda ke 8 STMIK Antar Bangsa, Kamis (13/12). Wisuda yang diikuti oleh 32 wisudawan tersebut digelar secara offline dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan di ruang aula Kampus STMIK Antar Bangsa yang terletak di kawasan CBD Ciledug, Tangerang, Banten.   Pesan tersebut diantaranya: 

Pertama, Selamat memasuki dunia baru. Layaknya bayi yang baru terlahir, sekarang kalian menyandang beban sebagai sarjana strata 1. Maka pola pikirdan juga tindakan dan bergaul maka harus mencerminkan 

Kedua, bangga menjadi bagian dakwahnya Daarul Qur’an. Jadi dimanapun berada value Daarul Qur’an harus tetap tertanam dalam jiwa kalian. 

Ketiga, terus belajar dan berprestasi di mana saja, jadi setelah diwisuda bukan berarti Anda berhenti belajar. Bisa lagi lanjutkan S2, S3 dan seterusnya. 

Keempat, Membangun jaringan antarbangsa. Dalam artian para alumni STMIK Antar Bangsa memiliki tanggung jawab  moral terhadap para adik kelasnya. Jika nanti para alumni STMIK Antar Bangsa sudah sukses Anda bisa mengajak adik kelas untuk ikut terlibat dalam usaha Anda. 

Kelima, setiap alumni mahasiswa Antar Bangsa maka akan dilihat sepak terjangnya di mana ia belajar.  Jika ia berkiprah dengan baik maka yang akan harum juga almamaternya.

Wisuda yang juga dihadiri oleh Kyai Ahmad Kosasih, Ketua Dewan Syariah Daarul Qur’an, ustad Ahmad Jamil, Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Pendidikan dan ustad Anwar Sani, Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Zakat dan Wakaf yang juga rektor Institut Daarul Qur’an dan asaatidz Daarul Qur’an ini berlangsung khidmat.

Silaturrahim Pengurus NU Lampung ke Pesantren DaQu Ketapang

Obrolan santai Ustadz Anwar Sani, Ustadz Sukman Hermawan, dan Ustadz Mulyadi pada Senin (6/7) bersama 6 pengurus NU asal Lampung yang telah tiba di Pesantren DaQu Ketapang, beliau adalah KH. Jamaluddin sebagai Ketua Umum Pengurus NU Lampung, KH. Amirudin sebagai Ketua Pengurus MUI Kota Bandar Lampung, Dr. M. Nurwahidin sebagai Pengurus MUI Kota Bandar Lampung, Gus Iim, Ustadz Adhar Al-Mursyid, dan Ustadz Agus Faizal ini mengantarkan perbincangan yang hangat antara dua belah pihak.

“Bermula dari keresahan para pengurus Nahdlatul Ulama dalam mengangkat data diri para guru yang ada di Indonesia, khususnya guru-guru yang berlatarbelakang NU, maka dibuatlah sebuah wadah guna mengupdate data guru yang semakin bertambah.”, ujar KH. Jamaluddin membuka obrolan siang ini. “Keresahan kami bermula dari banyaknya guru-guru pesantren yang selama puluhan tahun hari-harinya hanya disibukkan dengan berbagai aktivitas di pesantren saja, tidak terlibat dalam sebuah organisasi tertentu.”, lanjutnya.

Menanggapi obrolan ini, Ustadz Sukman selaku deputi DaQu Group turut bicara menyampaikan opininya, “Betul sekali. Saya setuju. Banyak sekali guru-guru pesantren yang tidak dilirik oleh pemerintah, padahal mereka punya sisi yang begitu menonjol dengan loyalitasnya yang begitu tinggi dalam dunia pendidikan.” Berdasarkan paparan dari KH. Jamaluddin, bahwasanya dalam hal ini, guru-guru yang diberi kesempatan untuk bergabung bersama organisasi Persatuan Guru NU (PERGUNU) bukan hanya diperuntukkan bagi guru-guru yang mengajar di sekolah formal saja, namun juga untuk guru-guru non-formal, seperti guru-guru ngaji atau yang dikenal sebagai guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), guru Raudhatul Athfal (RA), hingga para dosen di lingkungan perguruan tinggi. “Kalau begitu, wadah seperti ini harusnya memang ada, sehingga para guru memiliki lingkaran sosial yang lebih meluas dari yang ada saat ini.”, ujar Ustadz Sukman menegaskan.

“Tujuan kami mendirikan PERGUNU ini adalah semoga kedepannya banyak guru-guru dari NU yang menjadi kader dalam pengurus menggantikan posisi yang saat ini diduduki oleh orang-orang nasionalis.”, ujar KH. Jamaluddin. “Juga untuk memudahkan pengkaderan tenaga pendidik yang didaftarkan ke Kemendikbud RI.”

Pada kesempatan ini, pengurus NU Lampung menyampaikan tujuannya untuk mengajak Pesantren DaQu dalam mendata para guru agar tergabung dalam PERGUNU. “Besar harapan kami untuk Daarul Qur’an agar bisa tergabung dalam data kami. Juga kami harap agar kunjungan silaturrahim hari ini bisa terus berjalan ke tahapan berikutnya.”

Teruslah Belajar Karena Perjalanan Masih Panjang

Virtual Graduation atau wisuda online semakin jadi hal lumrah dalam dunia pendidikan. Di lingkungan pendidikan Daarul Qur’an sendiri sudah beberapa kali diselenggarakan. Diantaranya untuk tingkat SMA, Shibyan sampai SD Fullday, juga Pesantren tingkat SD atau Shigor Bandung. Terbaru, Shigor Putra-Putri Tangerang juga gelar virtual graduation ini. 


Sama seperti di tingkat SMA, acara ini berlangsung di gedung Adh-Dhuha lantai 6 dengan settingan tempat berpanggung layaknya wisuda seperti biasa. Bedanya, para wisudawan tidak naik ke sana, tapi para pimpinanlah yang duduk menyaksikan seremoni ini. Sementara para wisudawan merayakannya di rumah masing-masing. Hari Sabtu (27/6/2020) sejak jam 9 pagi semua peserta acara telah bersiap menghadap layar masing-masing. 

Perjalanan para wisudawan memang masih panjang, mengingat mereka “baru” menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah dasar. Karena itu, semangat menuntut ilmu terus digaungkan oleh para pemberi sambutan. Dan yang pertama oleh Kepala Direktorat Pendidikan, Ustadz Ahmad Jamil. 


“6 tahun kalau menuntut ilmu itu masih sedikit, kalau kata imam syafii syarat menuntut ilmu adalah kuuluzzaman (sepanjang masa). Jangan lupa diamalkan ilmu agamanya dalam kehidupan sehari-hari”, pesan beliau. 

Pesan semangat menuntut ilmu tak hanya untuk para wisudawan. Ananda Aisyah, santri Shigor putri, di mana kalimat yang ia ucapkan tak seperti anak seusianya, juga berpesan untuk adik-adik kelasnya. “Saling mendoakan harus jadi kebiasaan kita. Untuk adik-adik kelas, jangan pernah lelah dan nikmati prosesnya”, ujarnya diakhiri tepuk tangan hadirin tanda salut atas kemampuan retorika yang ia punya.


Semangat saja tak cukup tanpa sebuah doa. “Semoga ini semua menjadi amal ibadah buat kita semua, khususnya para pimpinan Daarul Qur’an”, tutur H. Wahyu Nurjamil. Beliau adalah orangtua dari ananda Raffi Affan Syabib, salah satu santri yang mampu menyelesaikan hafalan lebih dari 20 juz. Doa yang beliau panjatkan sekaligus memantik semangat Daarul Qur’an untuk terus menelurkan insan yang berkualitas. 

Virtual graduation semakin syahdu dengan lantunan Surat Yusuf ayat 101 oleh sang guru, ayah dan panutan, KH Yusuf Mansur. Ayat yang menjelaskan betapa kuasa Allah SWT di atas segalanya. Nabiyullah Yusuf yang diceburkan ke sumur oleh Fir’aun bahkan bisa menjadi pemimpin Mesir selanjutnya. 

“Ketika kita mengembalikan segalanya pada Allah, maka segala sesuatunya akan jadi hebat, termasuk dalam memberikan pendidikan pada anak”, terang beliau. ”Maka apakah ayah bunda yang menitipkan anak-anaknya ke Shigor atau sekolah lain tapi tetap tidak lebih baik nasibnya dari Yusuf maka yang terjadi adalah salah nitip. Nitipnya ke manusia tapi tetap tidak nitip pada Allah”, lanjutnya, sebagai pengingat bagi orangtua.


Sejatinya, kata UYM, para orangtua wisudawan adalah orang-orang yang hebat. Sejak sang anak ada di jenjang SD mereka rela terpisah. Kalau bukan karena Allah dan doa yang terus dipanjatkan, maka sang anak bisa jadi kesulitan. 

“Andai Yusuf tidak pernah terpisah dari Yaqub maka Yusuf tidak akan mendapatkan doa terbaik dari Yaqub”, kata beliau, dilanjutkan dengan bercerita kisah menyentuh salah seorang wali santri yang mau melepas anaknya sejak dini. “Pas ditanya, ‘kenapa mau berpisah dengan anaknya di pesantren?’ Beliau menjawab ‘Karena kita ingin berkumpul di surga selama-lamanya’, subhanallah.” Bukti kalau Allah sudah kita hadirkan dalam kehidupan, maka segalanya jadi indah.

Wisuda Daring Yang Lebih Dari Sekedar Seremoni Perpisahan

Pendidikan adalah sebuah proses yang memerlukan energi dan effort tinggi. Tak heran, ketika kita telah menyelesaikannya ada sebuah keinginan untuk merayakan. Dan hal itu juga berlaku di dunia pendidikan. Bukan hanya formalitas, tapi jadi momen penuh emosional sekaligus sebuah langkah menuju tahapan hidup berikutnya.

Ada kalanya yang kita rencanakan terhambat. Termasuk prosesi wisuda yang penuh emosional itu. Setahun dipersiapkan, di tahun itu pula rencana yang disusun berubah. Wisuda yang jadi seremoni tahunan harus terhambat Covid 19. Kalimatnya adalah terhambat, bukan gagal. Karena meski di situasi seperti ini, masih ada beragam cara agar bisa terlaksana.

Setiap lembaga pendidikan harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah. Tidak boleh ada kumpul-kumpul dalam satu tempat melebihi 4 orang, ditambah harus memakai masker serta penyediaan alat-alat kesehatan lain. Tempat cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer, pengukur suhu serta penyemprotan rutin dengan desinfektan. Akhirnya dipilihlah sebuah solusi: wisuda daring.

Wisuda daring tak mengurangi rasa khidmat. Hari itu, Minggu (21/6/2020) Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an mewisuda seluruh santri dari Daqu Tangerang, Cikarang serta Bandung. 306 santri mengharu biru karena jadi bagian sejarah wisuda kelas akhir pertama melalui daring.

Makin spesial dengan hadirnya sosok-sosok panutan mereka selama di pondok. Para pimpinan menyapa hangat para santri. Ayahanda KH. Yusuf Mansur, KH. Ahmad Jamil, KH. Ahmad Kosasih, KH. Anwar sani, KH. Tarmizi serta pimpinan kepala unit yang ada di direktorat pendidikan Daarul Qur’an lain. Semua berada di satu frame dalam video conference Zoom.

Ananda Permata Amalia, santri Daqu Putri Cikarang, menambah keharuan dalam sambutannya. Frasa-frasa indah ia lantunkan. “Meski tempat yang memisahkan namun pelaksanaan wisuda tetep berjalan penuh haru dan tetap hikmad”, katanya membuka sambutan kala itu. “Ini bukan akhir, tapi awal perjuangan. Jika ada kawan yang jatuh di antara kita, mari kita rangkul agar kita sukses bersama-sama”, kalimat penutup yang membuat Ustadz Syaiful Bahri, Pengasuh Pesantren Daqu Ketapang, menitikkan air mata di panggung wisuda Gedung Adh-Dhuha lantai 6, tempat para pimpinan menyaksikan prosesi ini.

Tak melulu tentang keharuan. Hadirnya sang ayah, KH Yusuf Mansur, sekaligus memotivasi para santri untuk terus berjuang. Kalimat-kalimat ajaib beliau menggelegar memantik semangat para hadirin. “Ucapanmu adalah doa, ngucap aja dulu, mimpi aja dulu, sambil di bayangin kita nanti mau jadi kaya gimana. Mau jadi jendral, mau jadi presiden, wakil presiden, mau jadi pengusaha kaya rayapun omongin aja dulu, sambil tulis, sambil doain. Jangan minta setengah-setengah langsung gedein biar Allah ngasinya ga tanggung tanggung “. Kalimat yang membuat para santri pede mencantumkan mimpinya dalam nama yang ada di akun mereka masing-masing.

Tak ada kekecewaan di dalamnya. Tak terasa kurang esensi pada pelaksanaannya. Wisuda daring tetap jadi momen sakral yang ditunggu para santri. Malahan, makin haru karena kita tau, meski jarak memisahkan tapi hati kita tetap terkait dengan ikatan persaudaraan.

 

Oleh: Ustadz Darul Quthni, Kepala Kesekertariatan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. 

Antisipasi Covid 19, SDI Pesantren Tahfizh Daqu Jalani Rapid Test

Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an terus mematangkan kesiapan menjalankan tatanan aktivitas baru di lingkungan pesantren. Yang terbaru, Pesantren Tahfizh Daqu Ketapang menggelar Rapid Test untuk Sumber Daya Insani (SDI) di lingkungan Pesantren Daqu Ketapang, Kamis, 18 Juni 2020. Rapid Test dilakukan di gedung Al-Fatihah, Fullday Daarul Qur’an Ketapang, bekerjasama dengan RS Daan Mogot Kodam Jaya Tangerang. SDI yang memiliki intensitas keluar rumah yang tinggi diharuskan mengikuti Rapid Test ini.

Rapid test diawali oleh 3 pimpinan Daqu, yakni Ustadz Ahmad Jamil, Ustadz Anwar Sani dan Ustadz Tarmizi lalu diikuti 350 orang SDI. Ketiganya dinyatakan non-reaktif Covid 19.

Pimpinan Direktorat Pendidikan dan Dakwah Daqu, Ustadz Ahmad Jamil, mengatakan Rapid Test ini juga dalam rangka mematangkan persiapan kembalinya santri ke pesantren. “Karena semuanya harus bersiap. Berbagai langkah dilakukan pesantren, salah satunya Rapid Test, untuk memastikan keberlangsungan kegiatan pondok berjalan aman dan nyaman sekaligus menjawab kekhawatiran yang ada”, ungkapnya.

Langkah ini ditanggapi dr. Haryadi Hendry, salah satu dokter yang memeriksa para pasien Rapid Test. Pihak rumah sakit, ujarnya, berterima kasih karena dibantu dalam upaya memutus rantai Covid 19 ini. Dengan begitu masyarakat juga banyak yang semakin ingin tahu tentang kesehatannya. “Soalnya banyak juga yang takut meriksa, takut sama hasilya”, ungkapnya.

Ia pun berujar, kekhawatiran adalah hal yang wajar, termasuk pada orangtua yang masih takut menyekolahkan anaknya lagi. Yang paling penting standar kesehatan yang ditetapkan harus diindahkan. “Kalau semuanya dilakukan sesuai standar yang juga ditetapkan pemerintah, dan pesantren ini pun juga menerapkan standar kan, sebenenya tidak perlu takut”, katanya.

“Pengadaan Rapid Test ini juga sebagai jaminan para pengajarnya dan anggota yang ada di pesantren ini terjamin kesehatannya. Karena para pengajar juga, toh, ga mau muridnya tertular penyakit”, lanjut dr. Haryadi.

Ke depan, Rapid Test juga akan dilakukan di seluruh cabang Pesantren Tahfizh Daqu.

Pesantren Daqu Jambi; Sambut Ramadhan Dengan Berbagi Sembako

Dua hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, Pesantren Daqu Jambi membagikan bahan makanan untuk masyarakat kecamatan Mestong, Jambi. Kegiatan sosial yang sekaligus dilaksanakan dalam memperingati Gerakan Sedekah Nasional (GERSENA) Melawan Covid-19 yang bertepatan pada Rabu (22/4) ini disupport penuh oleh H. Robert selaku donatur Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Jambi. Proses pembagiannya dilakukan langsung oleh para asatidz dengan dibantu oleh anggota karang taruna Tempino dan turut dihadiri oleh sejumlah aparat setempat.

“Kami berbagi dalam rangka menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan untuk saudara-saudara kami yang terdampak Covid-19.”, ujar H. Robert yang turut terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan ini. “Paket berupa bantuan pangan yang kami bagikan adalah 5 ton beras, 500 kg gula pasir, 500 liter minyak sayur, dan 500 piring telur untuk 500 orang di Kecamatan Mestong, Jambi.”, tambahnya.

Persiapan pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di Pesantren Daqu Jambi sejak sehari sebelumnya. Adapun pembagiannya menggunakan sistem door to door, supaya tidak menimbulkan keramaian dan kerumunan di satu titik, mengingat saat ini tengah diberlakukannya lockdown dan physical distancing di seluruh wilayah di Indonesia.

Pembagian 500 paket bahan pangan ini disebar di sejumlah titik pemukiman warga yang membutuhkan, yaitu 200 paket untuk wilayah pemukiman sekitar Pesantren Daqu Jambi yakni kelurahan Tempiano yang di dalamnya mencakup 23 RT, 200 paket berikutnya untuk wilayah Sebapo sebanyak 20 RT, dan 100 paket terakhir di wilayah Kenali Asam Bawah sejumlah 3 RT.

Melalui sedekah ini, diharapkan juga seluruh warga kecamatan Mestong dapat menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Maha Adil Allah kepada seluruh hamba-Nya di muka bumi dengan memberikan kebahagiaan melalui bantuan hamba-Nya yang Ia kirimkan rezeki berlebih untuk disedekahkan.

“Semoga dengan ini, warga tidak sekadar menerima paket bantuan melalui washilah kami, tapi juga bisa turut merasakan kebahagiaan dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah ini.”, papar H. Robert.

Lolos SNMPTN 2020 Di Tengah Kekhawatiran

Ditengah kekhawatiran kondisi negara tercinta yang sedang dilanda pandemi Covid-19 ini, dan berimbas pada angkatan 2020 mengakhiri sekolah lebih cepat akibat ditiadakan ujian nasional (UN), Amira Naura Salsabila berhasil meraih hal menggembirakan setelah namanya tercantum dalam siswa yang lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di Universitas Airlangga.

Sebagai santri akhir, Amira punya dua pilihan dalam hidupnya setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Putri Cikarang. Kedua pilihan yang sangat membuat dilema itu terletak diantara mengabdi di pesantren dan melanjutkan studi di kampus impian. Keduanya tidak bisa dijalankan secara bersamaan, maka ia harus menjatuhkan pilihan di salah satunya. Hal tersebut begitu berat untuknya, sebab sejak awal ia mengerti betul bahwa keinginan terbesar orangtuanya adalah ia mengabdi di pesantren.

Momen mencari kampus tidak dilaluinya dengan antusias dan penuh rasa harap seperti teman-temannya yang lain. Namun, perjalanan proses seleksi tetap ia jalani. Dibantu dengan kakak dari salah satu temannya, ia mengawali proses dengan membuat akun di Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) sebagai syarat utama untuk bisa mengikuti seleksi masuk kampus lewat jalur raport atau yang kita sebut dengan SNMPTN.

“Kalau temen-temen yang lain kan ikut seleksi kayak gini dibarengin sama harapan besar untuk bisa lolos, tapi kalau aku enggak.”, ujar santri yang memulai pendidikan di Pesantren Daqu Program I’daad Kibar Putri 4 tahun silam dan telah merampungkan hafalan Al-Qur’annya saat ia duduk di kelas 10. “Aku cuma mau ambil pengalamannya aja. Lagi pula, orangtua juga memang maunya aku ngabdi dulu aja, bukannya langsung kuliah.”, lanjutnya.

Amira mengemukakan bahwa sejujurnya memang dirinya sendiri ingin bisa langsung kuliah tanpa harus mengabdi, “Karena kan udah kepotong setahun umurnya buat ikut program i’daad waktu itu. Hehehe.. Tapi enggak apa-apa. Semuanya tergantung Allah.”

Ia menjalani proses demi proses, hingga masuk ke tahapan berikutnya, yaitu seleksi peringkat dari sekolah, peringkat keseluruhan angkatan kelas 12. “Karena akreditasi sekolah SMP dan SMA Pesantren Daqu Putri Cikarang ini A, maka kuota pendaftarannya sampai 40% dari total jumlah keseluruhan santri kelas 12.”, ujar anak keempat dari lima bersaudara ini. Ia menunggu hingga pengumuman seleksi peringkat rilis.

Berbeda dengan teman-temannya yang lain, gadis cantik asal Gresik ini tidak merasakan degdegan sedikit pun saat menunggu detik-detik pengumuman peringkat. Ia mengaku merasa hambar saat menanti pengumuman, tidak ada harapan besar, justru yang ada hanya perasaan biasa saja. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Namanya lolos dalam daftar santri yang direkomendasikan untuk mengikuti SNMPTN 2020. “Waktu itu, malah degdegan pas denger kalau namaku keterima. Hehehe kebalik yaa.. harusnya degdegan sebelum pengumuman…”, ujarnya.

Lantas, apa penyebab dibalik degdegan gadis kelahiran 4 Februari 2001 ini ?

“Aku degdegan karena harus bilang ke orangtua, sedangkan aku tahu dari awal kalau orangtua mau aku ngabdi, bukan kuliah.”, ujarnya. Tapi akhirnya mau tidak mau, ia harus sampaikan kabar bahagia ini kepada orangtuanya. Usai menyampaikan, ia mengaku begitu lega, “Yasudah coba saja dulu, kalau nanti lolos baru dipikirin lagi.”, ujar orangtuanya saat mendengar kabar bahagia dari putrinya. “Yasudah, kalau gitu enggak usah didoain lolos. Doain saja yang terbaik.”, tutur Amira kepada orangtuanya.

“Tapi tetap, saat itu di setiap doa, aku gak minta supaya lolos, aku hanya minta yang terbaik sama Allah. Karena kita gak tahu juga kan, yang mana yang terbaik menurut Allah.”, ujar Amira yang juga aktif dalam kegiatan daqupost.

Saat itu, ia mengisi pilihan pertama dengan Jurusan Ilmu Komunikasi dan Jurusan Manajemen di pilihan kedua. Keduanya di Universitas Airlangga, Surabaya.

Menjelang pengumuman kelulusan SNMPTN, ia semakin pasrah dengan ketentuan Allah, namun ia yakin bahwa hanya Allah Yang Maha Memberi Keputusan terbaik untuk hamba-Nya.

Satu kalimat yang selalu ia ingat dari KH. Yusuf Mansur, “Urusin dulu Qur’an, nanti Qur’an yang ngurusin impianmu.” Ini yang selalu ia yakini selama ini. Kalimat tersebut akhirnya memberi bukti nyata untuknya. Kemarin, tepatnya hari Rabu, 08 April 2020 usai rilisnya pengumuman yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh peserta SNMPTN se-Indonesia. Ia lolos jurusan Manajemen di Universitas Airlangga, Surabaya.

“Aku speechless. Enggak tahu harus bilang apa selain mengucap syukur sebanyak-banyaknya sama Allah. Ternyata, ini jawaban terbaik dari Allah buatku.”, ujarnya dengan penuh rasa takjub. “Sebetulnya, mau banget lolos di pilihan pertama, tapi enggak apa-apa ini pilihan terbaik dari Allah.”, ujarnya.

Belajar Online, Bagaimana Tanggapan dari Wali Santri ?

Teknologi internet kini hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (seperti e-mail dan chatting) atau secara massal, yang dikenal one to many communication (mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metode konvensional dengan adanya aplikasi teleconference, zoom, whatsapp, line, gmail, dan berbagai aplikasi berbasis android dan iOS lainnya yang bisa di unduh setiap waktu.

Bersamaan dengan kondisi negara yang tengah dilanda Pandemic Covid-19, saat ini keberadaan teknologi dan internet semakin besar pengaruhnya. Mengingat anak-anak saat ini harus menjalani kegiatan belajar mengajar secara online dari rumah masing-masing. Yuk, kita simak berbagai tanggapan dari para wali santri yang secara langsung menemani anak-anaknya dalam menjalani pembelajaran online setiap harinya;

“Bagi saya, hikmah dari keadaan ini adalah kami semua bisa kumpul bersama keluarga setiap saat di rumah, momen seperti ini amat langka. Terlebih bagi saya sebagai orangtua yang sehari-hari bekerja di luar rumah, dengan adanya momen ini saya manfaatkan betul untuk terjun langsung memberi pengetahuan ke anak-anak.”, ujar wali santri dari ananda Novisyafitri, Santri Pesantren Daqu Putri Cikarang yang diwawancarai melalui pesan elektronik. “Selain itu, saya juga bisa mengenal lebih dekat bagaimana karakter dan sifat masing-masing anak.”

Berbeda dengan walisantri dari ananda Nur fitri aisyah yang mengemukakan “Dengan adanya belajar online, ini menggerakkan orang tua untuk mengawasi kegiatan proses belajar mengajar yang di berikan oleh Ustadz dan Ustadzah.”, ujarnya.

“Kami selaku orangtua juga dapat berdiskusi banyak hal dengan anak mengenai materi belajar online. Saya juga berterimakasih kepada pihak pesantren, terutama Ustadz dan Ustadzah yang tetap mengajar anak-anak kami melalui online.”, jelasnya kemudian.

Lain halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh wali santri dari ananda Amelia Putri; “Belajar online ini membawa dampak positif yang begitu besar bagi putri saya, kegiatan ini melatih Amel agar tidak gaptek dan dapat saling sharing informasi terkini dengan teman-temannya”, ujarnya.

“kami sebagai orangtua dapat menilai seberapa besar keseriusan dan tanggungjawab anak atas tugas yang diberikan oleh Ustadz dan Ustadzahnya.”, lanjutnya

Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh walisantri dari ananda Tasya Yulita. Menurutnya, belajar online tidak memiliki dampak negatif, hanya saja tugas anak-anak jadi terkesan begitu banyak sekali dan menumpuk, akibatnya anak jadi keteteran sendiri.

“Terkadang, ketika kegiatan belajar online sedang berlangsung, anak suka kehilangan fokus. Malah buka hal-hal yang tidak penting dari gadget yang ada di tangannya.”, ujarnya.

“Saya sangat bersyukur dengan adanya anak-anak di rumah, rumah menjadi semakin berkah karena hampir setiap saat ada lantunan ayat suci Al-Qur’an yang terus terdengar langsung dari hafalan ananda.”, ujar wali santri dari ananda Zatila Aqmar, Santri Pesantren Daqu Putri Cikarang. “Namun, sisi negatifnya, kemandirian ananda menjadi berkurang karena semua fasilitas sudah tersedia di rumah.”

Semoga pandemi ini segera berlalu dan kami dapat segera berkumpul bersama di pesantren tercinta untuk meneruskan pendidikan kami.

Oleh : Nur Fitri Aisyah, Santriwati kelas XI Pesantren Daqu Cikarang

Mengisi Rumah Dengan Rutinitas di Pesantren

Pandemi Covid-19 mengantarkan putra putri saya untuk menetap di rumah. Saya, ibu dari empat anak yang mengasramakan putra putri saya di Pesantren Daqu kembali menjemput putra terakhir saya sejak beredarnya keputusan dari KH. Yusuf Mansur terkait Learning From Home tiga pekan yang lalu, tepatnya hari Ahad (15/3).

Mendidik dan mengawasi anak-anak di rumah kembali menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang Ibu. Namun hal itu sama sekali tidak memberatkan saya. Saya justru sangat senang, karena dengan adanya kondisi seperti ini kami sekeluarga bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersama di rumah. Biasanya hal ini hanya bisa kami jalani dua kali dalam setahun, yakni saat anak-anak liburan semester satu dan liburan semester dua sekaligus libur hari raya Idul Fitri.

Putra terakhir saya telah masuk di Pesantren Daqu sejak usia Sekolah Dasar, tepatnya saat naik ke kelas 4 SD. Saat itu, dia yang meminta sendiri untuk masuk ke Pesantren Daqu Shighor Putra setelah melihat kebahagiaan kakaknya yang sudah lebih dulu nyantri di Pesantren Daqu Shighor Putra sejak kelas 5 SD. Usai menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Daqu Shighor Putra, kedua putra saya memilih melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP dan SMA di Pesantren Daqu Ketapang.

Kini, kakaknya telah lulus jenjang SMA di Pesantren Daqu dan tengah melanjutkan studinya di Turki. Namun, keberadaannya saat ini masih tertahan di Turki dan tidak bisa kembali ke tanah air akibat diberlakukannya lockdown di berbagai negara, termasuk Turki dan Indonesia sendiri. Saat keadaan seperti ini, ia harus tetap berada jauh dari orangtuanya, namun tidak mengapa. Doa saya sebagai orangtua akan tetap mengalir untuknya.

Lain hal dengan putra terakhir saya yang saat ini masih menjalani pendidikan di kelas XI Pesantren Daqu Ketapang. Ia dapat kembali ke rumah, berada dekat dengan orangtua dan menjalani aktivitas kegiatan belajar mengajar dari rumah.

Dalam kondisi lockdown seperti sekarang ini, saya memanfaatkan momen berkumpul di rumah dengan sebaik-baiknya. Saya berupaya memindahkan seluruh kegiatan rutin di pesantren ke rumah. Disela kesibukannya sebagai santri yang tengah menjalani pembelajaran dari rumah, mereka juga tetap menjalani kebiasaan-kebiasaan sebagaimana yang dijalankan di pesantren setiap hari. Seperti, shalat berjamaah di awal waktu, shalat tahajud, shalat dhuha, mengisi waktu jeda antara shalat subuh dan dhuha dengan muraja’ah, menjalani puasa daud, tilawah Al-Qur’an setiap hari, juga berbagai hal lain yang dapat dilakukan di rumah.

Saya sebagai orangtua berupaya mengoptimalkan kegiatan tersebut untuk menjaga istiqomah anak-anak dan menanamkan kepada mereka bahwasanya ibadah tidak semata-mata menjadi kewajiban saat di pesantren saja, tapi juga harus bisa dijalankan saat dimana pun mereka berada, termasuk di rumah.

Jangan sampai nikmatnya beribadah hanya mereka rasakan saat berada di pesantren. Hal ini menjadi tanggung jawab saya sebagai orangtua untuk dapat menanamkan kebiasaan beribadah kepada anak-anak saya.

“Kalau rajin tahajudnya hanya di pesantren saja, itu artinya selama ini kamu menjalankan tahajud untuk manusia, bukan untuk Allah. Niat ibadahmu perlu diperbaiki. Kalau rajin dhuhanya hanya di pesantren saja, itu artinya dhuhamu hanya untuk menggugurkan kewajibanmu di pesantren.”, kalimat itulah yang kerap kali saya ucap di rumah saat liburan pesantren mulai tiba.

Jika selama di pesantren yang bertanggung jawab atas ibadah anak-anak adalah para Ustadz dan Ustadzahnya sebagai orangtua kedua mereka, maka di rumah tanggung jawab ini kembali diambil alih oleh orangtuanya. Pengawasan dan pembinaan ibadah mereka tetap harus dipantau yaa, ayah bunda…

Saya yakin, dengan ikhtiar mengajak anak untuk membiasakan rutinitas beribadah ini hanya akan terasa sulit di awal. Kedepannya, anak-anak sudah terbiasa dan akan merasa hampa seperti ada yang hilang dalam dirinya saat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut, sampai nanti mereka dewasa.

Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua yang saat ini tengah menikmati saat-saat quality time bersama anak-anak dan keluarga di rumah.

Oleh : Hj. Alfiyah, Wali Santri dari Achmad Ra’uuf Abdillah, Alumni Pesantren Daqu Ketapang Angkatan 9 dan Achmad Rofiif Saifullah, Santri Kelas XI Pesantren Daqu Ketapang

Belajar Online, Apa Kata Santri Daarul Qur’an?

Covid-19 atau yang kita kenal dengan virus corona, kini tengah menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia, efek samping yang ditimbulkan virus ini tidak main-main. Hal ini menyebabkan pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dengan cara memberlakukan lock down di sejumlah wilayah Indonesia. Peristiwa ini juga berdampak pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) santri di Pesantren Daarul Qur’an, segenap pimpinan mengambil keputusan untuk meliburkan seluruh santri dan SDI di seluruh unit pendidikan Daarul Qur’an yang kemudian melakukan KBM secara online dari rumah masing-masing.

Terlepas dari itu semua, banyak pandangan tentang efektivitas dari sistem online learning tersebut, berikut sejumlah pendapat yang telah dirangkum dari para santri kelas XII dan beberapa Ustadzah di Pesantren Daqu Putri Cikarang;

“Menurut ana, sisi positif dari belajar online tuh lebih fleksibel dalam menggunakan waktu. Dan juga lebih banyak referensi yang bisa dicari dari internet dan lebih bervariasi, karena ada media pembelajaran berupa teks dan video. Bahkan ada juga software pembelajaran online yang bisa kita unduh sebagai tambahan materi. Tapi kan karena Allah selalu adil dalam segala hal, maka setiap yang punya sisi positif pasti punya sisi negatif juga, begitu pula sama sistem belajar online ini. Nah, sisi negatifnya belajar online ini enggak bisa nanya langsung gitu ke Ustadzahnya. Kalau biasanya kan mau nanya apa aja dan sama siapa aja bisa dilakukan kapan aja. Dan satu lagi, karena belajar online ini lewat hp, jadi sering ngeganggu fokus kita. Lagi asyik-asyik belajar, eeeehhh… ada notif dari sosmed. Hehehe..”, ujar Elsa Dhea Lestari, santri kelas XII MIA 1 yang mengemukakan pendapatnya melalui sebuah pesan di media sosial pribadinya.

Tidak jauh berbeda dengan Amel Grasine Farona salah satu santri kelas XII IIS, “Kalau menurut saya kegiatan belajar secara online ini kurang efektif, karena saya sedikit kesulitan untuk disiplin belajar. Terlebih lagi besar banget godaan untuk nonton film, rebahan, dan lihat-lihat story instagram teman-teman, ditambah lagi chat atau telepon dari teman-teman untuk berbincang di waktu belajar.”

Pendapat berikutnya berasal dari Aprilia Wulandari, santri yang juga tengah duduk di kelas XII IIS ini mengemukakan, “Hal pertama yang saya rasakan dari proses belajar online ini sih sedih, karena ketika kita belajar tidak langsung bertatap muka dengan guru seperti pada hari-hari sebelum pandemi Covid-19 ini ada, tapi yang namanya ilmu kan everywhere bisa kita dapetin, enggak harus berada di dalam ruang kelas. Hal kedua, enaknya karena media belajar lebih lengkap. Kita enggak cuma mengandalkan buku pelajaran sebagai sumber ilmu pengetahuan, kita juga bisa searching lewat internet. Dan yang terpenting adalah bersyukur banget bisa quality time sama keluarga.”

Berikutnya, Ustadzah Bella Pratiwi, selaku guru Bimbingan Konseling (BK) Pesantren Daqu Putri Cikarang menuturkan dampak dari online learning, “Menurut saya pribadi, belajar online dirasa efektif untuk santri Daarul Qur’an, karena kami guru-guru memberikan pembelajaran yang sama seperti biasanya, hanya saja sistemnya yang berbeda, semuanya serba online. Tapi dari pengarahan tetap sama, kami ingin para santri menguasai materi yang diberikan. Nah, bagaimana dengan outputnya ? hasil yang didapat tergantung dari pola belajar santri itu sendiri di rumahnya masing-masing.”

Online Learning ini kalau buat saya sebagai guru sekaligus mahasiswa, dampaknya besar sekali. Dari sisi positif, kita bisa belajar kapan saja alias tidak terpaku pada satu waktu saja dan belajar online ini juga mengajarkan kita untuk lebih mandiri, inisiatif cari penjelasan dari pembahasan yang terkait, juga mengatur fokus belajar lebih serius lagi karena banyak bnaget godaan selama di rumah. Sedangkan sisi negatifnya, kita tidak bisa bertanya kepada guru secara langsung seperti di kelas. Sebab, akan selalu ada siswa yang tidak langsung bisa memahami penjelasan yang disampaikan oleh guru.” Ujar Ustadzah Iis Nuraeni, selaku guru Bahasa Inggris sekaligus mahasiswa tingkat S2 Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas di Jakarta.

Tidak sedikit pula santri yang mengutarakan dalam postingan media sosialnya, bahwa mereka sudah teramat rindu dengan pesantren dan guru-gurunya. Semoga pandemi ini segera berakhir dan para santri dapat kembali ke pesantren untuk menjalankan pendidikan. Aamiin Allahumma Aamiin…

 

Oleh : Shella Apriliani, Santri kelas XII Pesantren Daqu Putri Cikarang.