BUKAN SEKEDAR JEMPOL

Home - Berita - BUKAN SEKEDAR JEMPOL
asep

Oleh Asep Abdurrahman

Asatidz  SMP Daarul Qur’an Internasional Tangerang

Era media sosial membuat kita dengan mudah mendapatkan bahkan memberikan informasi terkini mulai dari berita politik, kriminal, ekonomi, gosip, sampai informasi pribadi terpampang dengan ringan tanpa batas privasi yang seharusnya dijaga.

Kehadiran media sosial sebagai konsekuensi perkembangan IPTEK yang cukup pesat telah menawarkan kecanggihan bagi kita untuk selalu eksis memproduksi berita-berita yang menggoda rasa penasaran bagi kalangan penduduk dunia maya.

Meski akhir-akhir ini penggunaan media sosial mendapat perhatian serius pemerintah karena ditenggarai sebagai sarana untuk menyebarkan pemahaman radikal, ujaran kebencian, ajang iklan promosi produk dll, namun tidak mengurangi masyarakat untuk tetap aktif sebagai bagian dari ajang esksitensi diri.

Eksistensi diri memang sudah melekat pada manusia. Maka tidak heran, media sosial menjadi wadah yang tepat mengakomodir kebutuhan tersebut. Seiring publikasi diri ke netizen, respon pun berdatangan yang ditunjukan dengan klik suka, jempol atau komentar memuji.

Eksistensi Diri

Siapa yang tidak mengetahui media sosial di era masa kini? Sebagian masyarakat Indonesia, tua atau muda sudah tidak asing lagi dengan yang namanya media sosial seperti Facebook, BBM, Twitter, Istagram, Youtube, Mysapce, Skype dll.

Kini pengguna facebook misalnya, sudah mencapai 115 Juta pengguna, Instagram 45 Juta. Hal ini sejalan dengan hasil survey INFID (internasional NGO forum on Indonesia develomment) tahun 2016 bahwa pengguna FB 64,8%, Youtube 6,3%, Twiiter 5,9%, Blog 0,5%, 22, 5% lain-lain.

Dan Sebagian besar masyarakat Indonesia mengakses media sosial lewat smartphone sekitar 67,8%, computer 14,7%, laptop 12,6%, tablet 3,8% (Poling Indonesia, 2016).

Mengacu data di atas, perkembangan teknologi informasi masa kini memang sangat fantastis. Dengan teknologi di tangan semua jadi serba mudah. Hanya tinggal klik, dunia seperti dalam genggaman. Jauh meretas dunia tanpa batas dengan akses tercepat menggunakan jaringan trigi (3G) dan 4G semua terasa begitu dekat walaupun jauh adanya.

Kecanggihan teknologi informasi tersebut, selalu mengiringi aktifitas manusia setiap saat baik ketika diperjalanan, menunggu kereta, menunggu bus, di rumah, di kantor, di tempat-tempat fasilitas umum selalu terlihat asik dengan sendirinya tanpa menghiraukan lingkungan sekelilingnya.

Yang dibuka dari smartphone adalah media sosial berupa FB, Twitter, Istragram. Ketika membuka HP, jari pun begitu sibuk mengetik di media sosial tersebut. Mulai dari membuat status, membagikan berita, membalas komentar, mengunggah foto, video sampai hanya sekedar menyukai postingan yang dibagikan sesama netizen.

Dengan mengklik tombol suka yang ada dalam media sosial, atau komentar memuji tanpa sadar telah ikut andil memberikan kebahagian kepada orang yang mempunyai akun tersebut. Walaupun kebahagian itu hanya sementara sifatnya, namun hal itu sangat berarti bagi para netizen.

Ditengah-tengah para netizen yang memuji postingan berita, foto, video yang dibagikan, di lain pihak justru ada sebagian netizen menghujat, menghina, mencemooh bahkan mengajaknya berdebat.

Realitas di atas yang masih kita temukan sehari-hari dalam berbagai media daring. Seolah-seolah dunia maya terbelah sikapnya. Sama seperti kasus beberapa tahun ke belakang ketika menjelang pilpres 2014.

Ada masyarakat yang mendukung psangan Capres dan Cawapres, Prabowo-Hatta dan pendukung Jokowi-JK. Masing-masing pihak mengunggulkan pasangannya masing-masing. Dan masyarakat benar-benar terbelah karena capres cawapresnya hanya ada dua pasangan.

Dua sisi mata uang

Tolak ukur kebahagian dalam disiplin Ilmu Psikologi ditinjau dari faktor pencetusnya, mempunyai karateristik yang berbeda-beda. Ada yang mendasarkan pada harta, jabatan, prestasi, gelar akademik, anak pintar, popularitas, viewer fantastis, komentar memuji, likes status ribuan bahkan jutaan dll.

Semua mempunyai standarnya masing-masing, karena ukuaran kebahagian secara materi sifatnya relatif, parsial dan sesaat. Seperti yang dijelaskan oleh Seligman (2005)  Kebahagiaan adalah konsep yang subjektif karena setiap individu memiliki tolak ukur yang berbeda-beda.

Setiap individu juga memiliki faktor yang berbeda sehingga bisa mendatangkan kebahagiaan untuknya. Faktor-faktor itu antara lain: uang, status pernikahan, kehidupan sosial, usia, kesehatan, emosi negatif, pendidikan, iklim, ras, dan jenis kelamin, serta agama atau tingkat religiusitas seseorang.

Dalam kaitanya dengan pengikut viewer dan like terhadap status, unggah foto, video yang mendapat respon dalam jumlah banyak, secara psikologis menimbulkan dampak serius bagi kondisi kejiwaan seseorang.

Banyaknya likes pada sebuah status, secara kasat mata memberikan rasa kebahagian terhadap pemilik akun tersebut. Dalam jangka waktu yang panjang, justru likes, apreasi memuji bisa berakibat rasa diri, bahwa mendapat pujian nitizen membuat kejiwaan ingin selalu dipuji dan disaat pujian atau likes tidak ada, maka rasa diri menjadi rendah.

Kalau ini sudah terjadi, maka dalam tahap selanjutnya bisa depresi bahkan kehilangan percaya diri untuk menulis sesuatu yang bermanfaat di media sosial. Menurut hemat penulis, membuat status di media sosial atau postingan informasi apa saja. Sebaiknya tidak selalu dilihat dari jumlah likes atau komentar banyak, namun motivasi menulis status hendaknya dibebaskan dari motivasi  tersebut.

Agar kita dan para nitizen merasakan kedamaian dalam bergaul di jagat dunia maya. Karena likes, jempol, komentar dengan segudang memuji bukan tujuan akhir dari hal itu. Namun, kebahagian sejati adalah ketika para nitizen tergugah dan sadar membaca postingan kita dan itu energi kebaikannya akan terpancar kepada pembuat postingannya.

Semoga kita dan para nitezen tergerak untuk membuat postingan yang membebaskan masyarakat dari segala keterbelakangan pengetahuan dan membuat para nitizen bangun dari kemalasan kreatifitas dalam mengisi jagat maya yang sangat dinamis ini.

Share

%d blogger menyukai ini: