Pembukaan Tahun Ajaran 2021/2022, Momen Refleksi Diri dan Menjadi Generasi Qur’ani

Tahun ajaran baru 2021/2022 resmi dimulai. Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an pun menggelar Opening Ceremony yang diikuti seluruh sivitas akademik di lingkup pendidikan Daarul Qur’an (Fullday Daarul Qur’an, Shigor, Kibar, dan Takhassus) dari berbagai cabang, Senin (12/7/2021) pagi hari.

Pusat acara tertuju di Masjid Nabawi, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang. Sementara para santriwan santriwati serta siswa siswi berikut para pengurus cabang mengikuti via Ruang Meeting Zoom yang disiarkan pula di kanal Youtube Pesantren Daqu.

Acara dihadiri langsung oleh Pembina Yayasan Daarul Qur’an, KH Yusuf Mansur serta Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Pendidikan, KH Ahmad Jamil. Keduanya memberikan wejangan untuk menempuh tahun ajaran baru ini.

Sebagai pembuka, Kyai Jamil mengajak seluruh peserta acara untuk merenungkan kejadian yang menimpa beberapa tahun belakangan. Utamanya ketika kita ditinggal para alim ulama, yang turut membimbing dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kyai Jamil juga menghimbau untuk senantiasa belajar dan menyiapkan dalam menghadapi tantangan ke depan. Berkaca dari kasus perusahaan telekomikasi Nokia yang jatuh setelah kalah bersaing dengan perusahaan lain dalam kemajuan teknologi.

“Kita harus mempersiapkan para generasi yang Ar-Rosikhuna fil ‘Ilmi, yang mendalam dalam urusan keilmuan mereka,” terang beliau. Selain itu, lanjut Kyai Jamil, generasi tersebut juga harus punya keunggulan yakni yang senantiasa mendawami Al-Qur’an.

Hal itu juga berkaitan dengan regenerasi dari para ulama yang sudah mendahului. “Kita sudah banyak ditinggalkan para ulama, paku bumi yang dicabut oleh Allah SWT. Kalian yang harus menggantikan. Aamiin,” harapnya.

Di tahun ajaran baru ini, tentu para peserta didik beserta pengurus memiliki harapan dan tujuan. Karena itu, hal tersebut juga harus diadukan pada sang pemilik segala, Allah ‘azza wa jalla.

Motivasi itu disampaikan oleh Kyai Yusuf Mansur. Hal itu pun membangkitkan semangat para peserta acara.

Kyai Yusuf berujar, “Allah ini Maha Rahman Maha Rahim. Dia mah gaboleh diminta, udah pasti ngasih. Karena dia itu pasti ngebagi, makanya harus diminta,” jelasnya.  

Kisah Nabi Musa A.S. kala meninggalkan umatnya, Bani Israil, selama 40 hari jadi pelajaran yang disampaikan Kyai Yusuf Mansur. Pada periode itu, Bani Israil pun ingkar dan menyembah anak sapi, Samiri.

Allah SWT pun menunjukkan kuasanya. Lewat wasilah Nabi Musa, Bani Israil diminta menyembelih sapi sebagai syarat petunjuk untuk mengetahui pelaku kasus pembunuhan salah seorang di antara mereka.

Bani Israil yang terkenal ngeyel terus bertanya ciri-ciri sapi yang harus disembelih. Namun, Allah tetap mengabulkan permintaan itu.

Setelah puas bertanya, seekor sapi disembelih oleh mereka dan Nabi Musa menyuruh memukulkan potongan sapi itu ke jenazah orang yang terbunuh. Akhirnya orang yang terbunuh dihidupkan kembali oleh Allah SWT dan menyebutkan siapa pelakunya. Kasuspun terungkap.

“Yang ga ada imannya aja, yang bodoh, ketika minta dikabulin Allah SWT. Kita harus ngiri, yang katanya pinter aja masa ga berani minta? Jadilah orang yang pinter, sholeh-sholehah, yang senantiasa mendawami Al-Qur’an, dan minta sama Allah,” kata Kyai Yusuf menutup rangkaian pesannya.

Bahas Manajemen Pendidikan, KH Yusuf Mansur Gelar Diskusi dengan Mahasiswa Pascasarjana PTIQ

Sejarah berdirinya Daarul Qur’an hingga memiki berbagai entitas dan berkomitmen dalam landasan Qur’ani jadi alasan rombongan dosen dan mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) meggelar diskusi sekaligus saling belajar dengan pendiri Daarul Qur’an, KH Yusuf Mansur. Hal itu diungkapkan langsung oleh Dosen Magister Manajemen Pendidikan Islam PTIQ, Dr. Farizal MS, M.M., dalam sambutan sebelum acara dimulai.

Selain Dr. Farizal, PTIQ juga mengikutsertakan mahasiswa Pascasarjana program Magister Manajemen Pendidikan Islam yang berjumlah 40 orang. Jumlah itu juga ditambah dengan beberapa dosen.

Acara digelar di Institut Daarul Qur’an (Idaqu), Jl. Cipondoh Makmur Raya, Cipondoh, Tangerang, berlokasi di ruang kelas mahasiswa. Acara di hari Minggu (27/6/2021) itu juga dihadiri oleh Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Pendidikan, KH Ahmad Jamil, serta pakar Tahfizhul Qur’an dunia yang berkhidmad di Daarul Qur’an, Dr. Zaid Al-Ghaily. Diskusi juga disiarkan pada kanal Youtube Pesantren Daqu.

Diskusi ini, kata Dr. Farizal, juga bermanfaat bagi para mahasiswa untuk menambah jam terbang dalam mengajar, khususnya mengajar Al-Qur’an. Selain itu, tak menutup kemungkinan lewat sebuah kerjasama PTIQ akan membuka kelas jauh program Pascasarjana yang diselenggarakan di Idaqu.

Dr. Farizal menjabarkan, masyarakat Indonesia yang kian sadar akan pentingnya belajar Al-Qur’an semakin membuka kebutuhan akan pengajar sekaligus sistem manajemen yang komprehensif.

“Maka dari itu sekolah wawasan Al-Qur’an ini diperlukan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas,” tutur Dr. Farizal. Harapannya diskusi ini juga jadi gerbang mengembangkan potensi-potensi pendidikan Al-Qur’an yang tersubtitusi ke berbagai bidang.

KH Yusuf Mansur yang menjadi narasumber utama acara tidak banyak memaparkan tentang praktek manajemen. Beliau hanya menyampaikan bahwa dalam mendawami Al-Qur’an dan berbagai kebaikan lain harus dimulai dengan keistiqomahan kita memohon pertolongan Allah SWT.

“Teori sederhana ini juga yang melahirkan para pejuang hebat dengan izin Allah SWT,” tuturnya. Beliau melanjutkan, “jangan kebanyakan mikir, jangan kebanyakan kerja, kalau tanpa didampingi oleh Allah Jalla jallaluh.”

Kyai Yusuf pun berkisah tentang seorang pengusaha yang dihadapkan pada rumitnya permasalahn pajak perusahaan. Dalam kondisi itu, ia malah diberikan amanah untuk membuka sebuah rumah tahfizh. Lambat laun, justru dari situ persoalan bisa diatasi.

Kyai Yusuf juga mengisahkan perjalanan Jody Brotosuseno, owner Waroeng Group dengan puluhan cabang gerai steak yang tersebar di Indonesia. Saat ini, Jody juga jadi donatur perkembangan Daarul Qur’an.

“Manajemen Langit” itu pula yang mengalahkan manajemen ala manusia dalam bersiasat kala sang owner berhasil membuka sebuah gerai di daerah Tegal. “Allah itu maha mengajarkan siapa saja yang menghendaki ilmu. Seluruh urusan samain aja SOP nya,” pesan Kyai Yusuf.

Selanjutnya, diskusi bersama para mahasiswa akan dilanjutkan lewat group chat aplikasi Whatsapp.

Iring-iringan Doa Mewarnai Prosesi Pemakaman Ayah Oki Setiana Dewi di Pesantren Daqu

Kabar wafatnya ayah dari Da’iah, presenter, sekaligus artis Oki Setiana Dewi, Alm. Sulyanto bin Sastromartoyo, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Beliau wafat di usia 58 tahun. Oki sendiri menerima kabar tersebut dari sang ibu, Jum’at (4/6/2021) pukul 8 pagi. Dokter yang memeriksa kondisi terakhir almarhum pun menyatakan bahwa beliau sudah menghembuskan nafas terakhir sejak malam hari, Kamis (3/6).

Keputusan keluarga akhirnya menentukan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang sebagai tempat pemakaman almarhum. Prosesi pemakaman dilakukan ba’da Ashar, Jum’at (4/6/2021). Sebelumnya, jenazah juga dimandikan dan disholatkan di Masjid Nabawi, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Tangerang. Makam almarhum pun bersanding dengan makam mendiang Syekh Ali Jaber dan Ustadz Maaher At-Thuwailibi.

KH Yusuf Mansur turut mendampingi prosesi pemakaman. Beliau sekaligus menjadi imam sholat jenazah yang dihadiri pula oleh para santri Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. Prosesi juga dihadiri oleh pimpinan Daarul Qur’an lain, yakni KH Ahmad Jamil, Pimpinan Daarul Qur’an Direktorat Pendidikan, serta Ustadz Tarmizi Ashidiq, Pimpinan Direktorat Ekonomi.

Pada awak media, Oki menceritakan bahwa sang ayah memang memiliki Riwayat penyakit jantung dan hipertensi. Kepergiannya tentu menyesakkan bagi kakak kandung Youtuber Ria Ricis ini. Namun, selain bersedih, ia pun bersyukur karena sang ayah mampu menggapai cita-citanya melihat sang adik, Ria Ricis, telah menjadi sarjana.

Oki juga bersyukur dan berterima kasih pada Pesantren Daqu karena telah mempersilahkan almarhum ayahnya dikebumikan di sana.

“Kami yakin, ketika dikelilingi orang-orang soleh, Insya Allah, mudah-mudahan didoakan orang-orang yang sholeh. Insya Allah papah husnul khotimah,” terangnya.

Kyai Yusuf Mansur selaku Pimpinan Umum Daarul Qu’an pun turut mendoakan agar almarhum wafat dalam keadaan Husnul Khotimah. Selain itu, beliau juga merasa terhormat karena keluarga mengamanahi Pesantren Daqu sebagai tempat pemakaman.

“Ini adalah orangtua dari seorang para penghafal Al-Qur’an. Kami merasa terhormat, merasa mulia, merasa banyak keberkahan, begitu juga bagi masayarakat Kota Tangerang,” tutur Kyai Yusuf.

“Mudah-mudahan husnul khotimah, apalagi wafatnya malam Jum’at, atau hari Jum’at, udah masuk hari Jum’at. Insya Allah tanda-tanda Husnul Khotimahnya sudah banyak. Udaranya adem bener, Masya Allah. Dan doanya juga di Jum’at Ashar,” lanjutnya.

Pada prosesi pemakaman itu, beberapa public figure juga hadir. Salah satunya Artis Dude Herlino. Ia yang ditemui setelah pemakaman selesai, mengatakan juga merasakan duka yang mendalam. Mengingat, pertemanannya dengan Oki dan sang suami yang turut hadir dalam prosesi itu, Ory Vitrio, telah terjalin sebelum pasangan tersebut menikah.

“Beliau sosok yang sangat baik, diajak ngobrol juga menyenangkan, orang yang sangat penyayang. Semoga Allah berikan tempat terbaik. Allah lapangkan Kuburnya. Allah lipat gandakan pahalanya,” harapnya.

Kalau Kita Sudah Menjadi Keluarga Allah, Maka Semuanya Gampang, Tinggal Minta

Kedatangan Ayahanda Yusuf Mansur pada menjadi kejutan bagi santri Pesantren Tahfizh Takhasus Putri Daarul Qur’an, Cikarang, Senin (31/8). Momen ini pun disambut haru oleh para santri dan juga para pengasuh yang menyambut dengan sholawat badriah.

Pesantren Takhasus merupakan pesantren bebas biaya setingkat SMU yang diinisiasi oleh Daarul Qur’an bagi masyarakat dhuafa. Pembiayaan pesantren ini berasal dari donasi sekaligus uang sekolah para santri reguler.

“Insya Allah kalian akan tersebar di seluruh dunia “ nasihat ayah pertama kali ketika sampai. Seperti biasanya ayah memberikan motivasi agar santriwati senatiasa bersemangat dalam meghafalkan Al-Qur’an.

“Semua yang kita mau adalah milik Allah, semua kampus, semua universitas, apapun yang ada di langit apa pun yang ada di bumi , apa pun isinya adalah milik Allah, karena milik Allah jadi semuanya gampang, ada yang lebih gampang lagi kalau kita jadi keluarganya Allah” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut ayah mengisahkan ada seorang sahabat yang bertanya pada Rasulullah saw, “wahai rasul bukan nya Allah itun Wahdaniyah ( berdiri sendiri)?” lalu rasul menjawab “Keluarga Allah yang di maksud adalah ahlul Quran, para penghafal sekaligus penjaga Al-Quran. Kalau udah jadi keluarganya Allah gampang , tinggal dateng tinggal minta.“

Beliau pun melanjutkan, “Sayangnya ga semua mau dateng, ga semua mau minta , ga semua bisa dateng, ga semua bisa minta, ga semua bisa di kasih dateng ga semua di kasih minta , berarti di tolak, naudzubillahimindzalik.”

Beliau juga mengisahkan bahwa banyak orang di luar sana yang cuma menghafalkan 4 surat , melihara 4 surat, ngafalin 4 surat, tapi banyak sukses jadi enterprenuer, dan lain-lain.

“Lalu bagaimana dengan anak-anak ayah yang 24 jam bersama Al-Quran? kalian ga cuma dateng ke Allah tapi kalian juga bercakap-cakap dengan Allah setiap hari? Dahsyat pasti dampaknya“ ujar beliau.

Dalam kesempatan tersebut ayah berpesan agar santriwati tidak hanya menghafalkan Al-Qur’an melainkan juga mempelajari tafsirnya, mentadabburi ayat ayat-Nya, soal paham sama engganya maksud dari ayatnya yang penting dibaca dulu tafsirnya, dengan begitu kita berasa sedang bercakap-cakal dengan Allah swt.

Lalu beliau menceritakan pengalaman bertemu dengan ahli sejarah Profesor Ahmad Mansyur Suryanegara yang kini berusia 90 tahun. Dari ceritanya Prof Mansur hanya mengamalkan surah Yasin yang selalu dibaca setelah isya hingga beliau tertidur. Dengan itu saja Prof Mansur, meski sudah udzur usianya, masih mampu membeli pelajaran kepada para pemuda.

Di penghujung acara, Ayah meminta para santri untuk mendoakan mimpi beliau menjadi Presiden Republik Indonesia mendatang. Beliau mengatakan jika mimpinya tersebut tercapai maka setiap pagi akan menyapa warga Indonesia dan mengingatkan sebelum beraktivitas untuk membaca Al-Quran terlebih dahulu, sholat duha. Lalu nanti menjelang dzuhur beliau akan kembali mengingatkan warga Indonesia untuk bersiap sholat. Begitu juga seusai sholat Ashar akan mengingatkan masyarakat untuk membaca Al-Waqiah.

“Dan itu semuanya nanti Insya Allah, Ayah yang mimpin langsung. Keren kan tuh jika presiden yang mimpin langsung warganya untuk sholat dan membaca Al-Qur’an” ujarnya yang diamini langsung oleh para santri.

Berawal Dari Sebuah Perspektif, 17 Tahun Daarul Qur’an Tumbuh Berkembang Bersama Umat

Barakallah wa baraka ‘alaih. Selamat milad yang ke 17 untuk Daarul Qur’an Group. 17 tahun Daarul Qur’an berkarya. 17 tahun Daarul Qur’an tumbuh berkembang bersama umat.

Untuk mensyukuri apa yang telah dilewati Daarul Qur’an, seluruh Sumber Daya Insani (SDI) dan pimpinan tiap unit, termasuk sang penggagas lembaga ini, KH Yusuf Mansur, gelar syukuran. Namun, pandemi Covid-19 yang belum usai, memaksa gelaran sakral ini berlangsung secara daring.

Kemeriahan acara bukan diukur dari seberapa besar panggung yang dibuat. Gedung Adh-Dhuha lantai 6 memang tak sebesar lapangan bola. Namun, justru karena itu sillaturrahmi makin erat. Pimpinan Daarul Qur’an dari berbagai unit menyapa para SDI lewat video conference zoom, Minggu (5/7/2020).

Hadzaa min fadhli Rabbi. Kata yang sepatutnya kita ungkapkan hari ini. Usia 17 tahun buat Daarul Qur’an mungkin terhitung mudah, tapi Allah, alhamdulillah, memberikan hal yang luar biasa buat kita. Seantero jagad, bahkan bukan hanya nusantara”, tutur Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an, Ustadz Ahmad Jamil. Usia yang tak setara dengan tantangan yang datang. Dengan tantangan itu, Daarul Qur’an bisa seperti saat ini. Itu semua karena sebuah perspektif.

Ilmu itu yang diajarkan oleh ayah, guru dan panutan, KH Yusuf Mansur. “Ketika perspektifnya masalah itu adalah hadiah, makin gede makin keren. Makin berat, makin oke. You will be happiness person in this class”, bukanya saat itu.

Cara pandang yang membuat Daarul Qur’an mampu mewadahi masalah nasional saat itu: sedikitnya masyarakat yang mampu membaca dan menulis Al-Qur’an. Baca dan tulis saja tidak, apalagi menghafal.

Di perjalanan, masalah tak serta merta hilang. Ustadz Yusuf mengungkap kilas balik masalah apa saja yang pernah dihadapi Daarul Qur’an. Hal itu sebagai bahan pembelajaran. “Banyak orang yang bilang ‘Yusuf Mansur mah masalah.’ Di tengah jalan, taunya kita akan kerjasama dengan perusahaan yg omzetnya 300 triliun rupiah. Justru karena masalah itu, kita hadir.” Sebagai bentuk implementasi, para SDI diminta menulis tentang perpsektif, old, now and future selama di Daarul Qur’an.

Suatu yang besar lahir dari sebuah masalah yang besar. Bedanya, bagaimana kita memandang masalah itu. Pada akhirnya, Daarul Qur’an mampu mengubah masalah menjadi tantangan dan terus berikhtiar untuk mimpi terbesarnya, seperti kalimat yang diucapkan alumni di Negeri Yaman dalam video ucapan. “Selamat Sweet Seventeen buat Daarul Qur’an. Dream Daqu: 5 benua, bisa, bisa, bisa. Allahu Akbar!”

Pesantren Daqu Resmi Jalin Kerjasama dengan Kemenhub

Menindaklanjuti kedatangan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) lewat tim Balai Besar Pendidikan, Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) ke Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Rabu (10/6/2020) lalu, kedua pihak resmi jalin kerjasama yang melibatkan para santri. Kerjasama ini telah disetujui Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, lewat tanda tangan yang ia bubuhkan dalam nota kesepahaman. Dengan kerja sama ini, 40 santri yang terpilih dapat mengikuti program pendidikan dan pelatihan di pusdiklat Kemenhub.

Kerjasama ini jadi peluang para santri untuk melanjutkan pendidikan di ranah Kementerian Perhubungan. Seperti kata Pendiri Daarul Qur’an Ustadz Yusuf Mansur, saat ditemui setelah Sholat Jum’at di Pesantren Daarul Qur’an Ketapang, Jum’at (3/7/2020).

“Makasih pak menteri dan jajarannya. Santri-santri harus semangat, ini resmi nih, karena udah bisa ikut pendidikan dan pelatihan dan berkarir betul di dunia perhubungan. Sekali lagi baik darat, laut maupun udara.” tutur Ustadz Yusuf.

Dalam pertemuan sebelumnya, Kepala Bidang Usaha BP3IP, Joko Susanto, menjelaskan, tawaran kerjasama ini adalah instruksi langsung Presiden lewat Menteri Perhubungan untuk memberdayakan sumber daya manusia yang ada di pesantren. Kerjasama ini juga tak terbatas dalam bidang pelayaran atau kelautan saja, namun bisa dialihkan ke bagian dari Kemenhub yang lain.

Syukuran Online SMP Jadi Penutup Rangkaian Virtual Graduation Daqu

Virtual Gratitude of Junior High School Daarul Qur’an jadi penutup rangkaian wisuda daring Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. Meski konsepnya sillaturrahmi, momen ini sekaligus jadi salam perpisahan para santri. Gedung Dhuha lantai 6 kembali jadi saksi gelaran yang juga menghadirkan para pimpinan Daqu ini, Rabu (1/7/2020).

Para wisudawan berasal dari Pesantren Daqu Tangerang, Cikarang, Semarang dan Lampung. Tak hanya di Tangerang yang menggelar tempat untuk para pimpinan dan guru menyaksikan anak-anaknya, Pesantren Daqu Lampung juga hadir dengan panggung megahnya.

Tentunya, wisuda ini bukan akhir perjalanan menuntut ilmu para santri. Selain itu, title hafizh yang diperoleh beberapa santri sekaligus identitas Daarul Qur’an diharapkan mampu mereka pertahankan. “Bisa saja kalian jadi pegawai negeri, diplomat, tentara, tetaplah berusaha dan menjaga bahwa hafizh dan hafizhah adalah identitas kita semua. Insya Allah dengan begitu Allah meridhoi kita semua. Jadilah kebanggan dan menjadi duta untuk nama baik Daqu”, pesan Ketua Forum Wali Santri (Forwas) Daarul Qur’an, Dr. Ahmad Fatoni. Ridho tersebut, katanya, juga akan melekat ketika mereka selalu menghormati siapapun gurunya.

Wisuda juga bukan akhir sebuah pertemanan. Setidaknya, seperti apa yang diungkapkan Ananda Seka Reksa Mulyani, santri Daqu Cikarang. “Masih luas permukaan bumi yang belum kita jelajahi. Meski berpisah, yang namanya saudara tetaplah saudara. Kita adalah saudara sejati, yang akan terus bersama menggapai cita.” Dan dengan semangat persaudaraan itulah mereka mampu membawa Daarul Qur’an terus berada di pucuk kejayaan.

Memiliki santri yang luar biasa adalah dambaan para guru. Dan itulah yang dirasakan oleh Kyai Ahmad Jamil, Kepala Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an. “I really appreciate to all santri in Daqu because In extraordinary situation you still have a desire to memorize the holy book”, katanya dengan Bahasa inggris yang fasih karena beliau juga sedang menempuh Pendidikan S3 di Malaysia. Langkahnya itu diharap mampu diikuti oleh para santri. Seperti kata Sayyidina Ali, syarat menuntut ilmu adalah Thuluzzaman, atau waktu yang lama.

Kisah Thalut yang dibawa oleh sang Ayah, KH Yusuf Mansur, menutup sekaligus memantik semangat para santri. Meski harus berpisah, dengan kisah itu mereka membawa motivasi tinggi untuk terus berprestasi.

Thalut adalah pemimpin perang yang ditunjuk oleh Allah SWT. Sebelumnya, ia bahkan tak pernah diperhitungkan oleh kalangannya untuk jadi pemimpin. “Ketika Allah memention nama Thalut maka saling berpandangan karena dia ga dikenal. Tapi karena kesholehannya Allah sebut. Dan kalau Allah udah berkehendak maka semuanya jadi luar biasa. Maka itu, jangan menjadi kecil ketika ga disebut sebagai santri terbaik. Dulu ayah malah disebutnya malah jelek tapi sekarang alhamdulillah banyak yang denger.”, ujar beliau, yang menunjukkan bahwa tak ada yang biasa saja ketika kita melibatkan Allah SWT.

Seremoni pemotongan tumpeng oleh Ustadz Jamil jadi penutup sekaligus pertanda ungkapan syukur untuk semua santri Daarul Qur’an yang telah menamatkan jenjang pendidikannya.

Bersama Daarul Qur’an, Polsek Cipondoh Bagikan 200 Paket Sembako

Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke 74, Kepolisian Sektor Kecamatan Cipondoh menggelar Bhakti Sosial di wilayah hukum mereka bertagline “Kamtibmas Produktif Masyarakat Kondusif.” Polsek Cipondoh bekerjasama dengan Daarul Qur’an untuk menyalurkan 200 paket sembako pada masyarakt Cipondoh. Pembagian dilakukan di lapangan futsal Pesantren Daqu Ketapang, Jum’at (26/6/2020). Kapolsek Cipondoh, Jimmy Marthin Simanjuntak, S.Ik memimpin langsung jalannya bhakti sosial.

Dalam sambutannya, Jimmy mengatakan bahwa ini merupakan langkah Kepolisian Republik Indonesia dalam berpartisipasi mengatasi dampak sosial dan ekonomi karena Covid 19. Sesuai amanat Kapolri Jendral Idham Aziz.

Secara keseluruhan, terang Jimmy, Polri juga memberikan 45 ribu paket di berbagai daerah, antara lain DKI Jakarta, Banten dan Jawa Timur. “Serta lebih dari 200 ribu paket yang dibagikan di seluruh wilayah Indonesia”, jelasnya. Paket sembako juga akan dibagikan ke 4 kelurahan lain. Selain sembako, Polri juga membagikan peralatan sesuai protokol kesehatan yang berlaku seperti masker, hand sanitizer dan face shield.

Tak ketinggalan, pendiri Daarul Qur’an, Ustadz Yusuf Mansur turut hadir dalam acara. UYM, sapaan akrabnya, berbagi kisah bersama para penerima sembako sembari memberikan motivasi. “Ini bacaan bisa ngebayarin utang. Ya Fattah Ya Rozaq, itu dibaca 100 kali lah, 40 hari aja nih Insya Allah rezeki ngebelusuk. Ya muhawwilal ahwal, yang Maha Mengubah keadaan. Biar kebuka semua pintu kebaikan”, terangnya.

Ia berpesan tak hanya pada para penerima paket sebako, tapi juga para polisi. Karena sejatinya, bhakti sosial ini adalah jalan rizki dari Allah SWT untuk kedua pihak. “Kita miskin jadi kaya, kita susah jadi seneng, yang punya anak jadi sholeh-sholehah. Termasuk para pak polisi, biar rezekinya sepantar kapolsek hahaha.”

Wisuda Daring Yang Lebih Dari Sekedar Seremoni Perpisahan

Pendidikan adalah sebuah proses yang memerlukan energi dan effort tinggi. Tak heran, ketika kita telah menyelesaikannya ada sebuah keinginan untuk merayakan. Dan hal itu juga berlaku di dunia pendidikan. Bukan hanya formalitas, tapi jadi momen penuh emosional sekaligus sebuah langkah menuju tahapan hidup berikutnya.

Ada kalanya yang kita rencanakan terhambat. Termasuk prosesi wisuda yang penuh emosional itu. Setahun dipersiapkan, di tahun itu pula rencana yang disusun berubah. Wisuda yang jadi seremoni tahunan harus terhambat Covid 19. Kalimatnya adalah terhambat, bukan gagal. Karena meski di situasi seperti ini, masih ada beragam cara agar bisa terlaksana.

Setiap lembaga pendidikan harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah. Tidak boleh ada kumpul-kumpul dalam satu tempat melebihi 4 orang, ditambah harus memakai masker serta penyediaan alat-alat kesehatan lain. Tempat cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer, pengukur suhu serta penyemprotan rutin dengan desinfektan. Akhirnya dipilihlah sebuah solusi: wisuda daring.

Wisuda daring tak mengurangi rasa khidmat. Hari itu, Minggu (21/6/2020) Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an mewisuda seluruh santri dari Daqu Tangerang, Cikarang serta Bandung. 306 santri mengharu biru karena jadi bagian sejarah wisuda kelas akhir pertama melalui daring.

Makin spesial dengan hadirnya sosok-sosok panutan mereka selama di pondok. Para pimpinan menyapa hangat para santri. Ayahanda KH. Yusuf Mansur, KH. Ahmad Jamil, KH. Ahmad Kosasih, KH. Anwar sani, KH. Tarmizi serta pimpinan kepala unit yang ada di direktorat pendidikan Daarul Qur’an lain. Semua berada di satu frame dalam video conference Zoom.

Ananda Permata Amalia, santri Daqu Putri Cikarang, menambah keharuan dalam sambutannya. Frasa-frasa indah ia lantunkan. “Meski tempat yang memisahkan namun pelaksanaan wisuda tetep berjalan penuh haru dan tetap hikmad”, katanya membuka sambutan kala itu. “Ini bukan akhir, tapi awal perjuangan. Jika ada kawan yang jatuh di antara kita, mari kita rangkul agar kita sukses bersama-sama”, kalimat penutup yang membuat Ustadz Syaiful Bahri, Pengasuh Pesantren Daqu Ketapang, menitikkan air mata di panggung wisuda Gedung Adh-Dhuha lantai 6, tempat para pimpinan menyaksikan prosesi ini.

Tak melulu tentang keharuan. Hadirnya sang ayah, KH Yusuf Mansur, sekaligus memotivasi para santri untuk terus berjuang. Kalimat-kalimat ajaib beliau menggelegar memantik semangat para hadirin. “Ucapanmu adalah doa, ngucap aja dulu, mimpi aja dulu, sambil di bayangin kita nanti mau jadi kaya gimana. Mau jadi jendral, mau jadi presiden, wakil presiden, mau jadi pengusaha kaya rayapun omongin aja dulu, sambil tulis, sambil doain. Jangan minta setengah-setengah langsung gedein biar Allah ngasinya ga tanggung tanggung “. Kalimat yang membuat para santri pede mencantumkan mimpinya dalam nama yang ada di akun mereka masing-masing.

Tak ada kekecewaan di dalamnya. Tak terasa kurang esensi pada pelaksanaannya. Wisuda daring tetap jadi momen sakral yang ditunggu para santri. Malahan, makin haru karena kita tau, meski jarak memisahkan tapi hati kita tetap terkait dengan ikatan persaudaraan.

 

Oleh: Ustadz Darul Quthni, Kepala Kesekertariatan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. 

Haru Bahagia di Virtual Graduation Daarul Qur’an: Prosesi Wisuda di Tengah Pandemi

Untuk pertama kalinya, Daarul Qur’an adakan virtual graduation. Yang mendapat kesempatan pertama ini adalah para siswa Fullday Daqu School dari berbagai cabang, Tangerang, Jakarta dan Semarang serta berbagai jenjang yakni Shibyan, TK dan SD. Hal ini juga imbas dari belum redanya penyebaran Covid 19 di Indonesia. Nantinya, virtual graduation juga dilakukan untuk wisudawan-wisudawati SMP dan SMA di lingkungan pendidikan Daarul Qur’an.

Ada pemandangan yang sedkit berbeda dari wisuda biasanya. “Saya liat tadi ada yang ibunya memeluk anaknya, subhanallah syahdu sekali. Anandanya ada yang masih nguap ‘huaa…’ ha ha ha”, kelakar Dwi Makmun, Master of Ceremony yang memandu acara melalui kanal video conference Zoom ini.

Ya, acara yang dihelat pukul 8 pagi, Sabtu (20/6/2020), ini membuat mata beberapa siswa masih terlihat sayu. Tak heran, mengingat mereka mengikuti acara dari rumah masing-masing dimana, mungkin, di hari yang lain mereka masih terlelap selepas sholat subuh berjama’ah pada jam itu.


Acara ini sudah ditunggu tak hanya oleh 184 siswa beserta orangtuanya, namun juga para guru. Ketua panitia acara, Miss Safriyeni, bahkan sempat menitikan air mata melihat harunya suasana meski dalam situasi yang berbeda. “Tetap semangat menuntut ilmu agar sukses dunia akhirat dan tercapai apa yang ananda harapkan.”, ucapnya saat memberi sambutan.

Selain Miss Safriyeni, Kepala Biro Fullday, Ustadz Lalan dan Kepala Bidang Fullday, Ustadz Syam juga hadir di tengah acara.

Pesan semangat menuntut ilmu juga disampaikan Pimpinan Direktorat Pendidikan, Ustadz Ahmad Jamil. “Insya Allah, senantiasa Allah jaga dan kabulkan mimpinya, kesehatannya anak-anak. Ayat yang dibaca Hafizh jadi penyemangat karena Allah akan mengangkat derajat bagi yang beriman dan menuntut ilmu. Maka bersyukur kita bisa tidak hanya belajar Al-Qur’an dan agama tapi juga belajar hidup di daarul quran”, tutur beliau, merujuk ayat Al-Qur’an yang dibaca ananda Hafizh Mansur. Karena memang, lulusan Daarul Qur’an diharapkan mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa dan negara.

Virtual graduation pertama ini terasa makin spesial dengan kehadiran pendiri Daarul Qur’an, KH Yusuf Mansur. UYM, sapaan akrabnya, duduk di sebelah sang anak yang juga sebagai lulusan, Hafizh Mansur serta sang istri, Ibu Siti Maemunah. Kesumringahan terlihat di wajah masing-masing wisudawan dan para orangtua. Siapa yang tak ingin ditengok ayahanda saat melepas jenjang sekolahnya?

“Doakan terus anaknya. Doakan anak-anak kita bener-bener taat agama. Ga aneh-aneh. Insya Allah anak-anak jadi lebih dari yang kita inginkan. Berkat sedekah yang kita keluarkan untuk pendidikan anak kita”, pesannya pada para orangtua.

UYM memang dikenal memiliki intensi khusus di bidang pendidikan. Berkat itu pula Daarul Qur’an mampu berdiri dan melahirkan ribuan hafizh Qur’an. “Kita khawatir kala kita berhenti mendoakan, memberi yang haram dan mencontohkan yang tidak baik”, tutupnya, sekaligus penyemangat bagi para orangtua untuk terus mensupport anaknya hingga mampu meraih mimpi. Sejalan dengan tagline virtual graduation ini “Be The Best You Can Be”.